08 December 2021, 21:12 WIB

ISI Denpasar Bangun Monumen 'Wall of Fame'


Ruta Suryana | Nusantara

MI/Ruta Suryana
 MI/Ruta Suryana
Rektor ISI Denpasar, Prof. Wayan 'Kun' Adnyana (kanan depan) dalam suatu aktivitas di kampus setempat, Rabu (8/12).

SEBAGAI wujud penghormatan terhadap dedikasi masyarakat penyangga, mulai dari maestro, seniman, budayawan, professional, pejabat pemerintah, hingga pengusaha bereputasi, Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar secara khusus membangun monumen yang diberi nama Wall of Fame. Monumen ini berupa tembok monumental berbahan granit hitam dan merah, berukuran 14 meter x 4,5 meter.

''Pada monumen itu akan ditatah tanda tangan dan nama bagi maestro, seniman, dan tokoh bereputasi, seperti Nyoman Nuarta, Sardono W. Kusumo, Ni Luh Menek, I Wayan Wija, dan seniman berpengaruh lainnya,'' ujar Rektor ISI Denpasar Prof Wayan 'Kun' Adnyana di Denpasar, Rabu (8/12).

Bagi Prof Kun Adnyana, masyarakat penyangga yang terdiri dari berbagai kalangan bereputasi tersebut telah banyak berkontribusi luar biasa terhadap pemajuan seni dan budaya bangsa Indonesia. Namun belum ada dibangun monumen untuk mengabadikan nama baiknya tersebut pada perguruan tinggi seni di Indonesia. Di sejumlah negara, lanjut Kun Adnyana, monumen sejenis dijadikan landmark/ikon kota/perguruan tinggi, seperti Hollywood Walk of Fame, Alabama Jazz of Fame, Australian Stockman Hall of Fame, dan lainnya.

Selain membangun dedikasi monumen Wall of Fame, dalam upaya pengembangan akademik, ISI Denpasar pada penghujung 2021 ini, mengajukan delapan usulan pendirian program studi (Prodi) baru, meliputi Prodi Pendidikan Seni (S2), Desain Game (S1), Pendidikan Seni Rupa dan Desain (S1), Desain Produk (S1), Tata Kelola Digital Seni (S1),  Teater (S1), Animasi (Sarjana Terapan), dan Penyaji Seni Pertunjukan (Sarjana Terapan).

''Seluruh tim telah menyelesaikan proposal, dan telah diasistensi penjaminan mutu dan tim review internal, yang dikoordinir Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Anak Agung Bagus Udayana dan Korpus Penjaminan Mutu Dr. Larry Julianto,'' jelas Prof Kun Adnyana yang juga mantan Kepala Dinas Kebudyaan Provinsi Bali.

Dalam sembilan bulan terakhir, kata Prof Kun Adnyana, sivitas akademika ISI Denpasar diakui makin solid  untuk mewujudkan moto baru, yakni: Pusat Hub Seni dan Kreativitas Kelas Dunia atau Global-Bali Arts and Creativity Centre Hub (G-BAACH). (RS/OL-10)


 

BERITA TERKAIT