02 December 2021, 21:47 WIB

Gerakan Melawan Stunting Menyasar Warga di Jatinangor, Jabar


mediaindonesia.com | Nusantara

Ist
 Ist
Kegiatan Gerakan Melawan Stunting dilaksanakan di Desa Cisempur, Kecamatan Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat, pada Kamis (2/12).

GERAKAN Melawan Stunting yang diinisiasi Puan Maharani melalui HaloPuan memasuki Kabupaten Sumedang, Jawa Barat (Jabar). Gerakan ini dimulai di Desa Cisempur, Kecamatan Jatinangor, pada Kamis (2/12).

Kecamatan Jatinangor memiliki posisi yang unik di Sumedang karena menjadi penghubung antara Bandung dan Sumedang serta Sumedang dan Cirebon.

Tak hanya itu, Desa Cisempur yang berada di Kecamatan Jatinangor secara lebih khusus menjadi lokasi sejumlah industri sehingga selain padat populasi juga sebagian penduduknya merupakan pendatang dari berbagai daerah di Indonesia.

Sayangnya, kondisi tersebut malah berkontribusi kepada kesehatan dan keseimbangan gizi yang kurang baik.

Menurut data Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang, angka kejadian stunting di Kabupaten Sumedang selama pandemi Covid-19 naik 3,28%. Kenaikan terjadi antara lain di Jatinangor, Cibugel, Jatigede, Ganeas, Ujungjaya, dan Surian.

Oleh karena itu, kader-kader PDI perjuangan dan kader-kader posyandu bersama HaloPuan memilih Kecamatan Jatinangor sebagai lokasi memulai Gerakan Melawan Stunting.

"Melawan stunting perlu digaungkan kembali karena bukan hanya kejadiannya tapi juga dampaknya kronis, atau dalam jangka panjang," ujar relawan HaloPuan, Poppy Astari.

Poppy menjelaskan, stunting bisa mengganggu potensi Indonesia memperoleh bonus demografi pada 2045. Pada tahun itu, usia produktif (15-64 tahun) di Indonesia akan mencapai 60% populasi.

"Tapi bonus itu bisa jadi masalah jika sebagian balita saat ini mengalami stunting," kata Poppy.

Itu karena, menurutnya, anak-anak stunting bukan sekadar pendek atau sangat pendek tapi juga akan mengalami kesulitan dalam belajar dan bekerja saat dewasa.

Melawan stunting juga perlu dimulai sedini mungkin, yaitu sebelum anak-anak mencapai usia 2 tahun. "Kalau lewat 2 tahun, stunting akan sulit diperbaiki," kata Poppy.

Begitu pentingnya penurunan angka stunting mendorong Puan Maharani sangat memperhatikan persoalan ini. Perempuan pertama yang menjadi ketua parlemen di Indonesia itu memandang angka stunting tak akan bisa ditekan jika kita hanya bergantung kepada program pemerintah.

"Perlu gotong royong, kolaborasi semua pihak, terutama warga masyarakat, dan inilah alasan mengapa Bu Puan menggerakkan melawan stunting melalui HaloPuan," ujar Poppy.

Apa peran yang diharapkan dari warga? Jawabannya, Poppy bilang, pengetahuan dan kesadaran. Kaum ibu dan bapak harus menyadari dampak negatif stunting dalam 1000 hari pertama kehidupan dan bagaimana mencegahnya.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Jawa Barat Ineu Purwadewi Sundari menyampaikan target zero stunting di Jawa Barat pada 2023.

"Kami berharap dengan langkah yang dilakukan ini, stunting makin berkurang. Sebab tidak mungkin hanya anggota DPRD dan gubernur saja, tidak mungkin camat dan lurah saja. Harus bersama-sama dan gotong royong."

Camat Jatinangor Herry Gunawan menyampaikan terima kasih kepada HaloPuan yang ikut membantu programnya dalam menurunkan angka stunting.

"Apalagi ada gagasan memanfaatkan daun kelor yang selama ini belum banyak diketahui masyarakat," katanya. "Setelah tahu ini, saya akan menyebarkan informasi ini kepada warga," jelas Herry.

Gerakan Melawan Stunting diisi oleh penyuluhan kesehatan dan gizi oleh Kepala Puskesmas Cisempur, Ana Pertiwi Ratna Wulan.

Relawan HaloPuan kemudian menyampaikan informasi tentang manfaat kelor dan bagaimana memaksimalkan manfaat itu dengan menjadikannya bubuk.

Kelor sudah lama dikenal sebagai makanan super. Daun tanaman yang banyak tumbuh di Nusantara ini kaya gizi dan nutrisi.

Daun kelor menurut sejumlah penelitian mengandung tujuh kali vitamin C pada jeruk, empat kali vitamin A pada wortel, dua kali protein pada yoghurt, empat kali kalsium pada susu, dan tiga potasium pada pisang.

Badan Kesehatan Dunia atau WHO telah menggunakan kelor untuk memerangi kelaparan dan malnutrisi di Afrika.

Bubuk daun kelor juga telah digunakan untuk melawan stunting di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. Hasilnya luar biasa.

Melalui program Solor atau “Sorgum dan Kelor, Bupati Flores Timur Antonius Hadjon berhasil menurunkan angka stunting di wilayahnya dari 41 persen pada 2017 menjadi 22 persen pada 2020.

Sejumlah warga menilai Gerakan Melawan HaloPuan menambah wawasan, terutama bagi ibu-ibu rumah tangga.

“Terima kasih untuk Ibu Puan Maharani telah mengedukasi masyarakat mengenai manfaat daun kelor dan juga bagaimana menjaga anak,” kata Safira yang tengah mengandung enam bulan.

Kegiatan yang dihadiri oleh 175 ibu hamil, ibu menyusui bersama balita mereka, dan kader posyandu ini diakhiri dengan pemberian paket makanan tambahan plus satu kantong bubuk kelor seberat 450 gram.

Poppy berharap warga ke depannya bisa secara swadaya menanam kelor di pekarangan rumah dan kebun mereka, sehingga persediaan kelor mereka tetap terjaga. (RO/OL-09)

BERITA TERKAIT