21 November 2021, 08:30 WIB

Pertunjukan Sintren dan Benta Benti Sihir Warga Brebes


Supardji Rasban | Nusantara

MI/Supardji Rasban
 MI/Supardji Rasban
Persiapan pemeran sintren lelaki sebelum dimasukkan dalam kurungan dido'ai oleh tetua group Sintren, Sabtu malam (20/11)

PERTUNJUKAN kesenian rakyat yang pertama sejak pandemi Covid-19, Sabtu (20/11/2021) malam oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Brebes, dipenuhi pengunjung. Seni tradisi Sintren dan Benta Benti memukau pengunjung.

Pertunjukan kesenian rakyat tersebut digelar di lapangan fustsal di Desa Pamulihan Kecamatan Larangan Kabupaten Brebes, dengan menerapkan protokol kesehatan (prokes).

Dari sejumlah pertunjukan kesenian rakyat dipergelarkan, seni tradisi Sintren dan Benta Benti yang paling menjadi perhatian pengunjung. Sintren merupakan kesenian tari tradisional masyarakat Jawa khususnya di Pantura Kendal hingga Cirebon dan Indramayu.

Ada aroma mistis dalam pertunjukan kesenian tradisional Sintren itu. Bau asap kemenyan mengiringi lagu-lagu yang sebenarnya semacam mantera, yang dinyanyikan sepanjang pertunjukan yang berlangsung hampir satu jam.

Melalui rangkaian doa yang diiringi lagu-lagu bernada magis tersebut, pemeran Sintren yang terdiri lelaki dan prempuan sebagai sepasang kekasih, menjadi fokus utama. Keduanya yang sebelumnya dimasukkan dalam dua tempat tutup yakni kurungan tempat yang biasa untuk ayam, kemudian keluar dan menari.

Usai pertunjukan seni tradisi Sintren, kemudian Benta Benti. Benta Benti juga seni tradisi ritual yang sebenarnya untuk meminta hujan dan biasanya dilakukan pada Jumat tengah malam hingga dini hari.

Sebelum Sintren dan Benta Benti ada juga pertunjukan seni Rudat. Seni Rudat berkembang di kalangan pesantren sekitar abad XV, seiring dengan penyebaran Agama Islam.

Pertunjukan kemudian diakhiri dengan pergelaran wayang golek oleh dalang muda Dinar Panji Sudarya asal Desa Sipajang Kecamatan Banjarharjo, Kabupaten Brebes, dengan lakon Panca Braja Pangesti.

Kepala Bagian (Kabag) Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Brebes Wijanarto, menyampaikan acara digelar sebagai upaya merayakan pertunjukkan kesenian rakyat yang selama pandemi Covid-19 mengalami problem, lantaran tidak bisa berekspresi sekaligus mencari nafkah.

"Kita mencoba menghadirkan para pegiat kesenian rakyat, untuk berekspresi sekaligus agar mereka berkiprah lagi seperti sebelum terjadi pandemi Covid-19. Sekarang Kabupaten Brebes masuk kategori PTPM Level 2 jadi diperbolehkan, tapi tetap dengan menerapkan protokol kesehatan," ujar Wijanarto.

Wijanarto menuturkan, gelaran kesenian rakyat sengaja dilakukan di Desa Pamulihan Kecamatan Larangan, sebagai salah satu desa yang masuk kategori kemiskinan ektrem di Kabupaten Brebes dan Jawa Tengah.

"Kita ingin mebuktikan bahwa negara itu hadir untuk mencari solusi bahwa kesenian tradisional juga bisa dikemas menjadi seni ekonomi kreatif," jelas Wijan, sapaan Wijanarto.

Gelaran kesenian rakyat di Desa Pamulihan yang dibuka secara virtual oleh PLT Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah, Yuni Astuti dan dihadiri antara lain Wakil Bupati Brebes, Narjo dan Camat Larangan Eko Supriyanto, disambut antusias warga dengan tetap menerapkan prokes. (OL-13)

Baca Juga: BNPB Ingatkan Kalteng Antisipasi Varian Baru Covid-19

BERITA TERKAIT