17 November 2021, 10:38 WIB

Belasan Kapal di Kota Tegal Ludes Terbakar


Supardji Rasban | Nusantara

MI/Supardji Rasban
 MI/Supardji Rasban
Belasan kapal di galangan kapal milik PT Tegal Shipyard Utama Kota Tegal  di Kota Tegal, Jawa Tengah, terbakar, Rabu (17/11)

KEBAKARAN terjadi di kawasan galangan kapal di Kota Tegal Jawa Tengah, Rabu (17/11) pagi, menyebabkan belasan kapal ludes terbakar. Upaya pemadaman mengalami kesulitan karena lokasi kapal yang saling berimpitan.

Lokasi kebakaran kapal tersebut berada di galangan kapal milik PT Tegal Shipyard Utama Kota Tegal, masih dekat dengan obyek wisata (OW) Pantai Alam Indah (PAI) Kota Tegal

Sekurangnya ada 15 kapal ikan berukuran di atas 30 gross ton yang ludes dilalap si jago merah dan dimungkinkan jumlah kapal masih akan terus bertambah. Mengingat, api cepat berkobar akibat tiupan angin kencang serta kontruksi kapal yang terbuat dari bahan mudah terbakar seperti kayu dan fiber.

Kebakaran yang menghanguskan belasan kapal itu pertama diketahui oleh warga Kamis (17/11/2021) dini hari sekitar pukul 00.2 WIB. Belum di ketahui persis sumber api yang menyebabkan kebakaran.

Petugas kesulitan melakukan upaya pemadaman karena akses jalan menuju lokasi kebakaran sempit dan juga di setiap kapal masih tersimpan BBM.

Tokoh nelayan Kota Tegal, H. Tambari, menyebut kapal yang terbakar itu merupakan kapal yang sedang menunggu perbaikan serta mengantre pengisian BBM. "Upaya pemadaman mengalami kendala karena sulitnya akses jalan menuju
lokasi kebakaran," ujar Tambari.

Kapolres Tegal Kota, AKBP Rahmad Hidayat, menuturkan sudah mengerahkan sejumlah unit mobil kebakaran yang didatangkan baik dari Kota Tegal, Kabupaten Tegal dan Kabupaten Brebes, namun api masih sulit dipadamkan.

"Akses jalan menuju lokasi kebakaran sulit dijangkau mobil kebakaran," ujar Rahmad.

Menurut Kapolres, meskipun demikian pihaknya akan terus berupaya untuk memadamkan kobaran api. "Sebenarnya mobil kebakaran bisa mendekati lokasi tapi yang sulit kapal yang berada di sebelah-sebelahnya. Posisinya kan berimpitan," jelas Rahmad. (OL-13)

Baca Juga: Soroti Geopark Meratus, Organisasi Lingkungan Desak Pengakuan Masyarakat Adat

.

 

BERITA TERKAIT