06 October 2021, 13:16 WIB

Pemkot Bandung Nyatakan Perang Terhadap Rentenir


Naviandri | Nusantara

MI/Duta
 MI/Duta
Ilustrasi

RENTENIR atau orang pemberi pinjaman uang tunai dengan bunga yang sangat tinggi merupakan praktik ekonomi ilegal. Selama ini rentenir telah mengakar di kalangan masyarakat dan telah menghancurkan sendi-sendi perekonomian masyarakat, begitu juga yang terjadi di Kota Bandung.

‘’Kita nyatakan perang dengan rentenir dan bergerak lebih cepat dari rentenir, sehingga kota Bandung nantinya bisa bersih dari rentenir. Praktik rentenir hingga saat ini paling marak ditemui di pasar-pasar tradisional. Mereka menyasar pedagang kecil hingga akhirnya banyak pedagang yang terlilit utang,’’ kata Wakil Wali Kota Bandung, Yana Mulyana pada acara Focus Group Discusion (FGD) 'Strategi Peningkatan Ekonomi Masyarakat Melalui Peran Satgas Anti Rentenir Kota Bandung, Rabu (06/10).

Melalui FGD ini diharapkan bisa menghasilkan strategi-strategi untuk mengatasi praktek rentenir, harus diakui saat ini rentenir sudah semakin canggih dan mereka mampu beradaptasi dengan zaman. Mulai dari berpura-pura membuka koperasi simpan pinjam padahal isinya praktik
rentenir. Termasuk memanfaatkan teknologi digital atau kerap disebut pinjaman online (pinjol).

‘’Saya meminta Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah (KUKM) Kota Bandung agar mempersempit ruang rentenir salah satunya dengan menghidupkan kembali koperasi-koperasi simpan pinjam. Kita juga harus mendekatkan Bank Bandung dan aktif mempromosikan program kepada masyarakat seperti program pinjaman modal usaha," jelasnya.

Ini bisa menjadi alternatif masyarakat dan lambat laun meninggalkan rentenir, dirinya juga mengingatkan agar memberi kemudahan proses pinjaman. Karena sejatinya rentenir memberi kemudahan dalam proses pinjaman sehingga hal itulah yang membuat masyarakat akhirnya terjebak.

Baca juga; Mayoritas Mahasiswa Poltekkes Malang Sudah Vaksinasi tanpa Komorbid

"Rentenir bisa menagih setiap hari, dan bagi pedagang kalau dia ditagih sekaligus sebulan Rp100.000 rasanya mahal, tapi kalau sehari Rp5000 dia mampu, padahal jadinya Rp150.0000 sebulan. Jadi kuncinya, bagaimana kita bisa mengolektif tagihan per hari dan kemudahan proses pinjaman," tambahnya.

Dikesempatan yang sama Yana menambahkan, dirinya optimis pemulihan ekonomi di Kota Bandung bisa berjalan cepat. Hal itu seiring dengan semakin melandainya kasus Covid-19 di Kota Bandung. Tren positif dapat dilihat dari pengendalian inflasi dengan program 4K. Di antaranya keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi dan komunikasi efektif.

Tahun 2020 inflasi Kota Bandung cukup stabil 1.75 persen di bawah target 3,0 persen. Hal ini atas kerja keras seluruh jajaran dalam mengendalikan inflasi. Inflasi Kota Bandung pada angka -0,19%, Bulan Agustus 0,09% dan Bulan September deflasi 0,14 persen. Terjadinya deflasi pada September ini diperkirkan imbas diberlakukannya PPKM mengakibatkan kegiatan ekonomi menjadi turun.

Kepala Dinas KUKM Kota Bandung, Atet Dedi Handiman mengungkapkan, sejak pandemi Covid-19 terjadi kenaikan pengaduan yang didominasi korban pinjaman online. Sebagian besar dari mereka terpaksa meminjam karena untuk membuka usaha dan biaya hidup sehari-hari.

"Ada kenaikan pengaduan sebanyak 34 persen latar belakangnya karena untuk membuka usaha biaya hidup, pendidikan, kesehatan, dan lainnya. Tindak lanjut dari pengaduan dilakukan mediasi dan advokasi, penyelesaian mandiri dan kemitraan," katanya.

Atet mengakui, pandemi covid-19 telah berdampak terhadap perekonomian masyarakat termasuk para pedagang kecil. Sehingga ada beberapa masyarakat yang memilih jalan pintas, salah satunya dengan meminjam ke rentenir dan pinjaman online. (OL-2)

 

BERITA TERKAIT