28 September 2021, 17:05 WIB

Bubuk Daun Kelor Asal Flores Tembus Pasar Dunia


Gabriel Langga | Nusantara

MI/Gabriel Langga
 MI/Gabriel Langga
Hasil produk olahan daun kelor asal Flores, NTT mampu menembus pasar dunia. 

DAUN kelor merupakan tanaman yang banyak tumbuh Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Kelor ini juga terkenal dengan kaya akan kandungan nutrisi dan vitamin, sehingga  kini banyak yang mengolahnya menjadi beberapa produk makanan dan minuman. Produk dari berbahan dasar kelor ternyata sangat menjanjikan di pasar internasional.

Seperti yang dilakukan CV. Surga Timur Indonesia yang memproduksi bubuk daun kelor untuk dijadikan bahan minuman. Tembusnya produk bubuk daun kelor tembus ke pasar dunia tidak terlepas dari peran pendampingan yang dilakukan oleh Kementerian Pertanian melalui Karantina Pertanian Ende, yang memfasilitasi sertifikasi ekspor produk tumbuhan, yaitu bubuk daun kelor (moringa powder).

Kepala Karantina Pertanian Ende, Kostan Manalu, Selasa (28/9) mengaku komoditas pertanian tersebut kali pertama ekspor dari Labuan Bajo, Flores, Nusa Tenggara Timur ke pasar dunia, yaitu Hong Kong dan Singapura.

"Sebelum terbit phytosanitary certificate (PC-red), Karantina Pertanian Ende melalui Wilayah Kerja Labuan Bajo sudah melakukan tindakan karantina, yaitu pemeriksaan fisik maupun administrasi. Hal ini untuk memastikan komoditas pertanian dikirim ke negara tujuan," papar dia.

Kostan menambahkan, selama ini pihaknya terus melakukan pendampingan kepada CV. Surga Timur Indonesia sebelum mengekspor daun kelor. Adapun bentuk pendampingan yaitu memastikan persyaratan dan informasi ke negara tujuan.

"Pulau Flores merupakan salah satu daerah penghasil kelor terbanyak di Indonesia. Daun kelor banyak dikonsumsi masyarakat Flores sebagai sayur. Bahkan daun ini banyak menjadi bahan untuk obat tradisional Indonesia. Jadi daun kelor ini bisa diolah jadi produk berkualitas sehingga bisa diekspor," tandas dia.

Disampaikan juga pihak Karantina Pertanian Ende terus berkomitmen mendukung program Kementerian Pertanian melalui Gerakan Tiga Kali Lipat Ekspor (Gratieks). Berada di wilayah Pulau Flores dan Lembata yang memiliki potensi komoditas ekspor dari sektor perkebunan, Karantina Pertanian Ende optimistis untuk dapat meningkatkan ekspor komoditas pertanian dengan selalu bersinergi dengan pemangku kepentingan.

Sebelumnya, ungkap dia, Karantina Pertanian Semarang dan Medan pernah memfasilitasi ekspor kelor ini ke Singapura dan Australia. Berdasarkan aplikasi i-Mace, sertifikasi daun kelor juga pernah dilakukan dengan tujuan negara yaitu Jepang, Selandia Baru, Jerman, dan lainnya. Volume nasional ekspor kelor sepanjang 2021 ini mencapai 11,88 ton ke berbagai negara.

"Kami berharap agar kedepannya ekspor ini tidak hanya dari tanaman kelor saja, tetapi geliat komoditas pertanian lainnya yang mulai dan terus bertumbuh. Termasuk munculnya ekspor dari komoditas lain seperti kopi, kakao, biji mete, sarang burung walet, porang, dan lainnya. Peluang pasar sangat terbuka luas, informasinya dapat kita ketahui dari aplikasi i-Mace (Indonesian Map of Agricultural Commodities Exports-red)," tutur Kostan. (OL-15)

BERITA TERKAIT