20 August 2021, 10:58 WIB

Perselingkuhan Sebabkan Perang Suku di Nduga Terulang Lagi


Hilda Julaika | Nusantara

dok.mi
 dok.mi
Ilustrasi

POLDA Papua membenarkan adanya pertikaian suku antara masyarakat distrik Wosak dan Distrik Iniye di Kampung Nogolaid, Distrik Kenyam, Kabupaten Nduga, Papua pada Rabu (18/8) siang. Insiden tersebut mengakibatkan tiga orang terkena luka panah.

Kabid Humas Polda Papua, Kombes Ahmad Muthofa Kamal menjelaskan, massa yang saling bertikai tersebut, lantaran masalah perselingkuhan yang terjadi pada 5 Juli 2021 lalu.

"Permasalahan itu sebenarnya sudah diselesaikan secara adat dengan kedua belah pihak di Kampung Nogolaid dan juga pihak Masyarakat dari Distrik Wosak sudah membayar denda uang tunai kepada keluarga dari Distrik Iniye," kata Kamal kepada wartawan, Jumat (20/8).

Namun, keluarga dari masyarakat Iniye masih terus mendatangi pihak keluarga dari Distrik Wosak. Pihak dari Iniye terus mengungkit kembali masalah perselingkuhan tersebut.

Kemudian, pada 18 Agustus kemarin, kedatangan masyarakat Distrik Iniye menyebabkan terjadinya cekcok dan adu mulut antar kedua pihak. Di lain sisi, masyarakat Distrik Wosak merasa marah kemudian langsung memanah keluarga tersebut yang mengakibatkan seorang korban terluka.

"Karena tidak terima kemudian pihak keluarga berkumpul setelah itu bergerak ke Kampung Nogolaid Atas untuk melakukan perang," imbuhnya.

Kamal menceritakan, pihak polisi memperoleh informasi terkait pertikaian antara masyarakat adat itu sekitar pukul 13.00 WIT. Polisi pun langsung bergegas mendatangi tempat kejadian perkara (TKP). Namun, aparat kepolisian masih tetap kesulitan untuk melerai dan membubarkan massa.

"Keduanya tetap bersikeras untuk berperang dan enggan membubarkan diri. Mereka tetap saling menembakkan anak panah," ucapnya

"Sehingga personel memberikan tembakan peringatan ke udara, agar massa dari kedua belah pihak mundur," sambungnya.

Situasi baru mulai kondusif sekitar pukul 13.40 WIT. Polisi pun memberikan pemahaman agar permasalahan tersebut tak perlu untuk diselesaikan dengan cara perang suku. Melainkan bisa melaporkan kepada pihak kepolisian apabila menemukan tindak kejahatan yang dilakukan.

"Kami dapat membantu menyelesaikannya dengan cara kekeluargaan maupun dengan Tindakan hukum sesuai dengan Undang-undang yang berlaku," jelasnya.

Akan tetapi konsolidasi tersebut berjalan alot. Hingga pukul 16.10 WIT, massa masih merasa geram satu dengan yang lain karena telah jatuh korban dalam pertikaian tersebut.

Hal ini diperparah pada sekitar pukul 16.50 WIT, karena diduga kembali terjadi pertikaian di TKP. Pertikaian itu berlangsung dalam waktu yang cukup lama hingga sekitar pukul 17.30 WIT.

"Tim berhasil melerai kedua belah pihak yang melakukan pertikaian, namun setelah massa dari Suku Wosak mundur terdengar bunyi letusan dari arah hutan dari sebelah kiri sebanyak 3 (tiga) kali, sehingga Tim mencari perlindungan ke Mobil Armourd," jelasnya.

Namun, untuk sumber suara tersebut belum dapat mengidentifikasi lebih lanjut. Massa kemudian diminta untuk kembali ke dalam rumah untuk menghindari situasi yang tak diinginkan.

Dalam hal ini, tiga orang korban ialah warga Distrik Kenyam bernama Isen Tabuni (20) dan Dogeles Tabuni (30). Serta, warga Kampung Nyie bernama Eben Tabuni (19).

"Saat ini para korban sudah berada di Rumah Sakit untuk mendapatkan perawatan medis," tandasnya. (OL-13)

Baca Juga: Ada 118 PMI Ilegal Asal NTT Dipulangkan, 80 PMI Diturunkan di Maumere

BERITA TERKAIT