26 July 2021, 17:30 WIB

Bisnis Batu Bara Dinilai masih Janjikan Peluang


Mediaindonesia.com | Nusantara

ANTARA/BAYU PRATAMA S
 ANTARA/BAYU PRATAMA S
Sejumlah truk pengangkut batu bara melintasi jalan tambang batu bara di Kecamatan Salam Babaris, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan.

KENAIKAN harga batu bara acuan dan pulihnya perekonomian Tiongkok menjadi peluang emas bagi industri jasa pertambangan batu bara. Harga batu bara acuan (HBA) pada Juli 2021 mencapai US$115,35 per ton. Adapun Tiongkok merupakan salah satu konsumen utama batu bara yang terus membutuhkan pasokan.

Kondisi tersebut berdampak positif bagi perusahaan kontraktor tambang PT Cipta Kridatama yang terus meningkatkan kinerjanya. Direktur Utama PT Cipta Kridatama (CK), Feriawan Sinatra, menjelaskan, hingga semester pertama tahun ini, realisasi volume pengelupasan lapisan tanah penutup (overburden removal) yang dilakukan CK telah mencapai hampir setengah dari total target.

Baca juga: Pemerintah Perlu Manfaatkan Momentum Kenaikan Harga Batu ...

"Sampai Juni 2021, realisasi overburden removal sudah 90 juta bank cubic meter (bcm). Angka ini meningkat dibandingkan tahun lalu (periode sama) yang 60 juta bcm," ujar Frank.

Dengan pencapaian tersebut, lanjutnya, CK yang merupakan anak perusahaan ABM Investama Group ini optimistis bisa mencapai target tahun ini yang sebesar 192 juta bcm. Target tersebut meningkat 37% dibanding tahun lalu yang sebesar 140 juta bcm.  CK saat ini menangani enam klien. Dua di antaranya, yakni PT Binuang Bersama Blok Dua (BMB) dan PT Multi Harapan Utama, memberikan kontribusi overburden removal terbesar, mencapai 100 juta bcm.

Untuk mengejar target, Frank memastikan CK akan melakukan peningkatan aset dan memaksimalkan utilisasinya. Sepanjang semester pertama ini, CK telah melakukan belanja modal sekitar 5 juta dolar AS hingga 6 juta dolar AS. Tahun ini perusahaan mengalokasikan US$35 juta untuk belanja modal.

Frank menambahkan, pandemi memang menimbulkan banyak tantangan. Namun berkat sinergi dalam ABM Investama Group membuat tantangan itu bisa diatasi. Sinergi itu dilakukan oleh semua perusahaan yang tergabung dalam ABM Investama Group. Mulai dari proses pembukaan lahan, penggalian tanah, proses produksi, pengangkutan, suplai bahan bakar, logistik, perbaikan peralatan.

“Jadi kompetensi dari setiap anak perusahaan disinergikan, semua saling membantu menghadapi masa-masa sulit,” terang Frank.

Selain itu, CK juga terus berkomitmen untuk fokus menjalankan operational excellence atau sistem operasional yang unggul. “Yakni, membuat tambang kita aman, orang yang bekerja di sana aman, ini sangat penting bagi kami. Kedua, terus melakukan pengembangan inisiatif, termasuk di bidang cost leadership, sehingga perusahaan bisa terus survive dan berkembang,” ujarnya. (Ant/A-1)

BERITA TERKAIT