08 July 2021, 11:15 WIB

PPKM Mikro Sebabkan Pedagang Daging Sapi di Pasar Alok Sepi Pembeli


Gabriel Langga | Nusantara

Mi/Gabriel Langga.
 Mi/Gabriel Langga.
Pedagang daging sapi di Pasar Alok, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur.

PENERAPAN Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT)  dikeluhkan sejumlah pedagang sapi yang berdagang di Pasar Alok. Pasalnya, omset penjualan mereka kian menurun akibat sepi pembeli.

Salah satu pedagang sapi di Pasar Alok, Daniel, saat ditemui mediaindonesia.com, Kamis (8/7), mengatakan sudah beberapa hari ini dagangannya daging sapi sepi dari pembeli.

Hal itu lantaran adanya PPKM Mikro yang telah diberlakukan pemerintah untuk beberapa hari ke depan sebagai upaya mencegah penyebaran covid-19.

Baca juga: Pelanggar PPKM Darurat Covid-19 di Jepara Terus Bertambah

Disampaikannya, sebelum ada PPKM Mikro, dirinya biasa memotong sapi sekitar tiga ekor per harinya. Hal itu karena banyak pembeli yang datang
membeli daging sapi dari kalangan pembeli yang memiliki usaha warung makan.

Namun, dengan adanya PPKM ini, dalam sehari, ia hanya memotong seekor sapi saja.

"Semenjak adanya PPKM Mikro ini, pembeli daging sapi di Pasar Alok ini sepi. Biasanya pembeli daging sapi di Pasar Alok paling banyak yang memiliki usaha warung. Walaupun mereka datang beli pasti tidak banyak karena usaha warung makan juga dibatasi. Kalau pun ada pembeli juga hanya beli daging sapi untuk konsumsi di rumah. Itupun tidak seberapa jumlah yang mereka beli," ujar Daniel.

Sehingg,a kata dia, omset penjualan juga mengalami penurunan drastis akibat dengan adanya PPKM Mikro hingga membuat pembeli enggan datang ke Pasar Alok.

"Saya rasakan betul dengan adanya PPKM Mikro ini. Omset penjualan juga ikut turun karena sepi pembeli," ungkap Daniel.

Terkait harga daging sapi, ia mengaku harganya stabil tidak mengalami penurunan atau kenaikan dengan harga Rp110.000 per kilonya.  

"Kalau kita mau kasih turun harga juga siapa yang mau beli. Jadi harga daging stabil saja. Saya sekarang hanya per hari potong satu ekor sapi saja hanya untuk bisa bertahan hidup dan membayar beberapa tenaga kerja yang membantunya di Pasar Alok," keluh Daniel.

Ia pun mengatakan, sebagai pedagang sangat mendukung adanya PPKM Mikro sebagai upaya mencegah penyebaran covid-19. Tetapi khusus usaha rumah makan kalau bisa beroperasi seperti biasanya. Warga yang ingin membeli makanannya dibungkus saja. Karena baginya, dengan beroperasi usaha warung makan tentunya kita sebagai pedagang daging sapi ada dampaknya. (OL-1)

BERITA TERKAIT