30 June 2021, 19:51 WIB

Petani OKI Binaan PT BAP Garap Pertanian Organik


Dwi Apriani | Nusantara

MI/Dwi Apriani
 MI/Dwi Apriani
Obrolan Pelepas Lelah Season 2 yang digelar Balitbang LHK Palembang dan APHI 

SEJUMLAH petani di Desa Simpang Heran, Kecamatan Air Sugihan, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, binaan perusahaan hutan tanam industri PT Bumi Andalas Permai menggarap pertanian organik.

Ketua Kelompok Tani Wono Tirto, Sugeng Riyanto mengatakan dirinya tergugah menjalankan pertanian organik lantaran ingin mengembalikan kondisi lahan mengingat sudah terdegradasi akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

‘’Lahan sudah tidak subur (karena sering terbakar, red), jadi saya pikir harus dikembalikan dulu dengan cara pertanian organik,’’ kata Sugeng dalam acara Obrolan Pelepas Lelah Season 2 yang digelar Balitbang LHK Palembang dan Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) Komisaris Daerah Sumatra Selatan di Palembang, Rabu (30/6).

Melalui pertanian organik yang dilakukannya di lahan 2 Hektare miliknya sejak setahun terakhir, Sugeng mengaku dapat menekan penggunaan pupuk kimia. Ia pun mampu memproduksi sekitar 4 ton Gabah Kering Giling per Hektare, seperti halnya pertanian konvensional di daerahnya.

Lantaran dapat menekan biaya produksi, sejumlah petani di daerahnya pun mulai tertarik mengikuti jejaknya walau awalnya enggan karena tak mau ribet.

‘’Saat ini setidaknya ada 10 petani yang mulai tanam secara organik,’’ kata  dia.

Demi semakin menekan biaya, Sugeng menginisiasi membuat pupuk kompos bersama sehingga dapat memastikan ketersediaan pupuk organik.

Upaya pertanian organik ini juga mendapatkan dukungan dari perusahaan mitra pemasok APP Sinar Mas, PT Bumi Andalas Permai yang memberikan bantuan alat pertanian handtraktor sehingga petani setempat tidak membuka lahan dengan cara membakar.

‘’Saat ini bisa dikatakan tidak ada lagi petani yang buka lahan dengan cara membakar di tempat kami. Setelah pakai semprotan herbisida, kami menggunakan handtraktor untuk buka lahan,’’ kata dia.

Direktur Kebakaran Hutan dan Lahan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan R Basar Manullang mengatakan karhutla hingga kini masih menjadi ancaman bagi pelestarian alam lingkungan hidup di Indonesia.

Kejadian karhutla hebat pada 2015 menjadi pelajaran berharga bagi Indonesia untuk mengubah paradigma untuk penanganan karhutla, terutama dalam menghasilkan solusi permanen.

Salah satunya yakni menata ekosistem gambut, yang mana berdasarkan data diketahui dari total lahan terbakar itu sebanyak 54 persen terjadi di kawasan gambut. Sementara Indonesia memiliki sekitar 20 juta Ha yang tersebar di Sumatera, Kalimatan dan Papua.

Pemerintah pun memiliki atensi pada kawasan gambut ini, salah satunya dengan melakukan teknologi modifikasi cuaca (TMC) di Sumsel dan Jambi selama 15 hari sejak 20 Juni 2020 untuk meningkatkan curah hujan demi meninggikan tinggi muka air gambut.

Baca juga :Tingkatkan Harga Komoditas, Gubernur Serahkan Alat Sortir Lada 

Pelaksanaan TMC ini dilakukan KLHK dengan menggandeng BPPT, BMKG, BPBD, TNI AU dan perusahaan mitra pemasok APP Sinar Mas.

‘’Upaya pengendalian karhutla harus dilakukan bersama dan butuh kerja keras. Perubahan mendasar yakni mengutamakan pencegahan daripada penanganan, dan pentingnya pelibatan masyarakat,’’ kata dia.

Data karhutla KLHK menyebutkan sebanyak 35.231 Ha terbakar pada Januari-Mei 2020, sementara pada periode yang sama terjadi penurunan 9,13 persen yang mana teridentifikasi sebanyak 54 persen terjadi di gambut.

BMKG memperkirakan Sumsel dan Jambi akan mengalami puncak kemarau pada Agustus-Oktober 2021, dan Juli mulai ditandai dengan semakin bertambahnya kondisi hari tanpa hujan.

Kepala Balai Pengendalian Perubahan Iklim dan Kebakaran Hutan dan Lahan (BPPIKHL) Wilayah Sumatera Ferdian mengatakan faktor manusia hingga kini menjadi penyebab utama terjadinya karhutla.

‘’Setiap tahun selalu terjadi kebakaran di lahan yang berada di sisi kanan dan kiri Jalan Tol Palembang -Indralaya, ini menunjukkan bahwa upaya membangkitkan kesadaran masyarakat menjadi sangat penting dengan beragam program pemberdayaan’’ kata dia.

Peneliti Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Palembang Edwin Martin mengatakan hingga kini kejadian karhutla masih berulang terjadi walau trennya semakin menurun sejak 2015 lantaran Indonesia sedang memasuki fase transisi sosial-ekologis.

Berdasarkan hasil penelitiannya diketahui titik awal api itu terjadi di semak rendah, tapi juga terkadang di semak tinggi, dipicu oleh aktivitas manusia seperti mencari kayu dan mencari ikan.

Kemudian, karhutla juga dominan terjadi di daerah yang muka airnya rendah dibandingkan yang muka airnya tinggi.

‘’Perlu ada sentuhan ke penduduk di kawasan gambut, itulah solusi permanen yang paling tepat. Karena berdasarkan penelitian kami, karhutla juga selain dipengaruhi kelengahan dan keteledoran, juga ada faktor konflik antara perusahaan dan masyarakat,’’ pungkasnya. (OL-2)

BERITA TERKAIT