21 June 2021, 20:45 WIB

Industri Dalam Negeri Butuh Produk Kimia Lokal


Bayu Anggoro | Nusantara

 ANTARA/Didik Suhartono
  ANTARA/Didik Suhartono
Muatan soda ash impor yang baru diturunkan di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya


SAAT ini hampir semua kebutuhan kimia dalam negeri dipenuhi
dari luar negeri alias impor. Salah satunya soda ash yang merupakan bahan baku produk-produk yang dibutuhkan masyarakat seperti deterjen dan kaca, beserta produk turunannya seperti gelas, cermin, dan pasta gigi.

Kondisi itu diungkapkan Presiden Direktur PT Kaltim Parna Industri Hari Supriyadi, Senin (21/6). Ia mengatakan banyak produk yang dibutuhkan masyarakat berbahan baku soda ash yang pemenuhannya didominasi impor.

Selain produk-produk yang saat ini banyak digunakan, kendaraan listrik yang akan menjadi transportasi masa depan pun membutuhkan soda ash dalam pembuatan baterainya.

"Untuk baterai mobil listrik juga menggunakan soda ash. Jadi sangat
banyak turunan dari soda ash. Tapi kenapa Indonesia masih impor,"
katanya saat konferensi pers virtual terkait lomba esai nasional yang
diselenggarakan dalam rangka memperingati 80 tahun Pendidikan Tinggi
Teknik Kimia di Indonesia, Senin (21/6).

Dia menyebut, dalam setahun Indonesia membutuhkan sekitar 1,2 juta ton
soda ash. Dari jumlah itu, 90% dipenuhi dari hasil impor.

"Kebutuhan di ASEAN 2,9 juta ton," ujarnya.

Menurut dia, kebutuhan ini akan terus meningkat terutama jika penggunaan kendaraan listrik sudah semakin banyak.

Sebagai contoh, menurutnya kebutuhan soda ash di Tiongkok terus
meningkat hingga 2 juta ton per tahun. Oleh karena itu, dia berharap
Indonesia mampu memenuhi kebutuhan soda ash sendiri sehingga tidak perlu impor lagi.

"Kita rindu memiliki industri kimia soda ash," katanya.

Dia menilai, untuk mewujudkan hal itu sangat memungkinkan terutama mengingat Indonesia memiliki bahan baku dan sumber daya manusia yang kompeten.

"Kita punya resources yang kuat, kita punya banyak SDM yang mumpuni.
Tapi kenapa mencari mudahnya saja dengan memilih impor," katanya.

Terlebih, menurutnya, saat ini terdapat pabrik kaca terbesar di Batang
Jawa Tengah yang membutuhkan soda ash dalam jumlah yang besar.

"Alangkah baik ya kalau pabrik kaca ini soda ash-nya disuplai dari dalam negeri. Itu akan memberi nilai tambah, menghemat devisa, membuka lapangan kerja, dan banyak sekali keuntungannya," kata dia.

Dia menyebut bahwa industri kimia termasuk soda ash pernah dibangun pada 1990-an. "Ada kendala, saat krisis ekonomi 1998. Pernah juga dibangun di NTT yang dekat dengan sumber garam (bahan baku soda ash), tetap tak bisa juga," katanya seraya kembali menyebut Indonesia kaya akan bahan baku soda ash.


Lomba esai

Di sisi lain, terkait lomba esai, Ketua panitia 80 tahun Pendidikan Tinggi Teknik Kimia di Indonesia, Tirto Prakoso Brodjonegoro, menjelaskan, lomba esai nasional ini sebagai wadah sosialisi industri kimia di Indonesia. Selain itu juga sebagai upaya memperkenalkan produk-produk kimia ke tengah masyarakat.

Salah satunya, lanjut dia, ialah soda ash atau umumnya dikenal sebagai soda abu yang merupakan suatu komponen dasar kimia yang kurang dikenal keberadaan dan fungsinya oleh masyarakat. "Walaupun produk akhirnya sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari," katanya

Ia juga menyebutkan dalam jumlah yang aman, soda abu juga digunakan
dalam industri pangan setelah melalui sejumlah proses tertentu.

Dengan begitu, dia berharap lomba esai ini diharap dapat membangkitkan
kesadaran dan kepedulian akan industri kimia di Indonesia. "Selain
sebagai wadah sosialisasi akan industri soda ash dan manfaatnya, lomba
esai ini diharapkan dapat menjadi pendorong pembangunan industri di
dalam negeri," katanya.

Menurutnya, lomba esai ini terbuka bagi seluruh warga negara Indonesia,
baik mahasiswa, pelaku industri, pendidik, maupun masyarakat umum. Siapa pun dapat mengirimkan karya esainya melalui email
80tahunTK@ia-tk-itb.org.

Lomba yang memperebutkan hadiah total Rp100 juta ini akan diampu oleh
juri dari civitas akademi dan pelaku industri yaitu Muh Khayam; Dirjen.
Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil, Kementerian Perindustrian RI
Johnny Darmawan; Wakil Ketua Umum Bidang Perindustrian, Kadin Indonesia
Heru Dewanto, dan Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia Hari
Supriyadi, serta Guru Besar Teknik Kimia ITB Dwiwahju Sasongko. (N-2)

BERITA TERKAIT