11 June 2021, 06:40 WIB

Pakar Kebumian UB Sarankan Rumah Korban Gempa Malang Digeser


Bagus Suryo | Nusantara

AFP
 AFP
Ilustrasi rumah korban gempa

PAKAR kebumian dan kebencanaan Universitas Brawijaya (UB), Malang, Jawa Timur, memberikan masukan agar pembangunan rumah korban gempa bumi di Kabupaten Malang jangan di garis patahan. Pasalnya, gempa bumi Malang bermagnitudo 6,1 pada Sabtu (10/4) dan gempa Blitar magnitudo 5,9 pada Jumat (21/5) menimbulkan kerusakan beruntun di tempat yang sama.

"Jangan membangun rumah di garis patahan gempa yang sama. Solusinya agar pembangunan rumah pascagempa di geser ke tempat lain," kata Guru Besar Geofisika, Kebencanaan dan Eksplorasi Sumber Daya Alam Universitas Brawijaya Adi Susilo, Kamis (10/6).

Adi menjelaskan model gempa bumi di Kabupaten Malang yang pernah terjadi berada di titik-titik tertentu, bukannya memanjang. Bahkan, kerusakan bangunan akibat gempa baru-baru ini teramati karena imbas gempa bumi di daerah lain. Dulu, lanjutnya, ada kasus di pantai Tamban, Kecamatan Sumbermanjing Wetan atau selatan Malang, air pantai sempat naik akibat gempa dari daerah lain beberapa waktu lalu.

"Semoga akumulasi energi akibat gempa baru-baru ini di Kabupaten Malang dan Blitar sudah banyak berkurang sehingga potensi gempa susulan nanti tidak mengakibatkan kerusakan parah," ujar Ketua Pusat Studi Kebumian dan Kebencanaan UB tersebut.

Adi mengungkapkan hasil survei gempa Malang pada April lalu disusul gempa Mei memperparah kerusakan bangunan rumah. Sebab, jalur patahannya di tempat yang sama. Hal itu hasil temuan di Kecamatan Dampit, Tirtoyudo dan Ampelgading.

"Di Sukoanyar, Kecamatan Dampit, kerusakan bangunan kian parah setelah ada gempa susulan pada Mei. Keretakan berada di tempat yang sama," ujarnya.

Baca juga: Jokowi Pastikan Bantuan untuk Warga Terdampak Gempa Malang

Dengan demikian, garis patahan gempa tidak berubah sehingga direkomendasikan agar jangan membangun rumah di garis patahan yang sama. Begitu juga pengamatan di Simojayan dan Jogomulyan, Kecamatan Tirtoyido. Kebanyakan rumah yang rusak berada di tanah padas dan lempung.

Adapun kerusakan rumah yang berada di tanah berpasir tidak banyak karena tanah berpasir menyerap energi gempa.

Sementara itu Bupati Malang Mochamad Sanusi menyatakan bersama BMKG melakukan kajian dan mengecek alat deteksi dini gempa dan tsunami.

"Kepala BMKG sudah melihat ke Malang. Perkiraan BMKG, Malang tidak terjadi tsunami dan gempa berkekuatan besar. Kalau gelek (sering) gempa, gempa berikutnya tidak besar," kata Sanusi.

Sebab, lanjut Sanusi, selama ini ratusan gempa melanda kawasan Malang dan sekitarnya. Kondisi itu diprediksi tidak akan memicu gempa besar. Kendati demikian, Pemkab Malang tetap waspada dan meningkatkan kesiapsiagaan, BPBD terus melakukan kesiapan dan mitigasi.(OL-5)
 

BERITA TERKAIT