04 June 2021, 13:57 WIB

Desa Wisata di Malang Bendung Keberangkatan TKI


Bagus Suryo | Nusantara

ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto
 ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto
Ilustrasi Desa Wisata

PENGEMBANGAN desa wisata mampu membendung warga Kabupaten Malang, Jawa Timur, menjadi Tenaga Kerja Indonesia di berbagai negara. Para TKI memilih membangun desa dengan mengembangkan berbagai UMKM dan bisnis 
lainnya.

"Kami memiliki program andalan desa wisata berbasis edukasi. Dukungan dari pemerintah desa Rp400 juta per tahun untuk pengembangan pariwisata," tegas Kepala Desa Tumpukrenteng, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, Helmiawan Khodidi, Jumat (4/6).

Helmiawan mengungkapkan warga memilih mengembangkan usaha di desa karena membangun desa sendiri lebih sejahtera ketimbang menjadi TKI. Para mantan TKI mengembangkan UMKM berbasis kudapan, camilan, keripik singkong, keripik talas dan samiler. Bahkan, pasar produk sambal sudah merambah Hong Kong. Sedangkan dampak sosial dari pengembangan UMKM dan wisata desa menurunkan angka kemiskinan sekaligus menekan angka perceraian dan kenakalan remaja di desa.

"Pengembangan UMKM membendung warga bekerja ke luar negeri," imbuhnya.

Dalam waktu dekat ini, Helmiawan akan mengeluarkan peraturan desa yang membebaskan semua biaya perizinan. Syaratnya, warga membeli produk bunga yang dibudidayakan masyarakat. Hal itu untuk meningkatkan potensi desa berbasis bunga dan meluaskan pasar.

"Setiap perizinan gratis, tetapi saat ada warga menikah wajib membeli produk bunga," tuturnya.

Baca juga: Kabupaten Malang Terapkan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas

Pengembangan wisata desa juga membendung laju keberangkatan TKI di Kecamatan Pagelaran. Ketua Pengelola Wisata Sumbermaron Ahmad Budi Utomo mengatakan pemasukan tiket per bulan mencapai Rp200 juta.  Pengelolaan wisata air itu oleh BUMDes.

Objek wisata sejak 2015 ini berkembang setelah pemerintah membangun pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH) yang sebelumnya untuk menggerakkan mesin diesel pompa air bersih dan penerangan, lalu berkembang untuk keperluan wisata.

Kini, Desa Karangsuko, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang, banyak dikunjungi wisatawan. Selama masa pandemi covid-19, jumlah kunjungan merosot 50% dari total 15 ribu orang per bulan.

"Pengelolaan wisata oleh BUMDes memiliki 10 karyawan digaji bulanan. Ekonomi warga tumbuh, ada 90 kios UMKM dengan iuran kebersihan Rp7 ribu per minggu ke pengelola wisata," ujarnya.

Objek wisata di pelosok desa ini berkembang pesat. Semula diinisiasi oleh pemuda dengan dukungan pemerintah desa pada 2015, lalu menjadi destinasi unggulan yang maju sampai sekarang.

Selain usaha wisata, BUMDes juga usaha air bersih memiliki 2 ribu konsumen meliputi empat desa di sekitar sumber air. Usaha lainnya, sekarang sedang merintis bisnis kopi racikan.(OL-5)

BERITA TERKAIT