29 April 2021, 23:25 WIB

Kinerja Siloam Tetap Baik di Tengah Pandemi


Media Indonesia | Nusantara

DOK/SILOAM
 DOK/SILOAM
 Dewan Komisaris dan Dewan Direksi PT Siloam International Hospitals  berfoto bersama. 

PT Siloam International Hospitals Tbk yang di pasar modal mendapat kode SILO, membukukan pencapaian finansial yang kuat di tengah pandemi. Selama 2020, Manajemen perseroan mampu menanggapi tantangan dan menyusun strategi menghadapi pandemi.

Dimulai dengan berfokus pada perluasan margin atas layanan yang sudah ada dan layanan yang baru, dan ditutup dengan peningkatan kembali yang tajam pada triwulan keempat.

Siloam mencatat EBITDA sebesar Rp1,20 triliun pada 2020, meningkat 37,4% dibandingkan 2019 yang mencapai Rp871 miliar.

Margin EBITDA berkembang menjadi 21,6% pada 2020 dari 16,6% di 2019. Siloam mencatat Laba Bersih sebesar Rp125 miliar di 2020, meningkat signifikan dari negatif sebesar -Rp333 miliar di 2019.

Perusahaan juga mencatat Pendapatan Operasional Bersih sebesar Rp5,54 triliun di 2020, meningkat 5,3% dibandingkan dengan Rp5,26 triliun pada 2019.

Laba per saham pada 2020 adalah Rp71,52, meningkat sebesar 391% dibandingkan dengan negatif Rp208,38 pada 2019.

Pertumbuhan EBITDA yang kuat dan Laba Bersih Perseoan menghasilkan pertumbuhan arus kas yang fenomenal. Arus Kas Operasional meningkat sebesar Rp1,34 triliun di 2020, meningkat 105% dari 2019 yang sebesar Rp652 miliar.


Keamanan staf dan pasien


Arus kas bebas bertumbuh sebesar Rp1,1 triliun pada 2020, meningkat 762% dibandingkan dengan Rp122 miliar pada 2019. Pada Desember 2020, saldo kas Perseroan berada pada Rp907 miliar, meningkat 189% dibandingkan dengan Rp314 miliar pada 2019. Hingga 2020, Gearing Ratio Siloam berada pada 2,55%, memberikan potensi yang besar untuk pertumbuhan di masa depan.

Selanjutnya, untuk memenuhi perubahan peraturan akuntansi (PSAK) Indonesia, Siloam telah menerapkan PSAK 73 / IFRS 16 pada 2020 yang mengubah cara pencatatan pengakuan sewa tertentu. Penerapan kebijakan akuntansi ini mengurangi laba bersih di 2020 sebesar Rp22,8 miliar. Tanpa penerapan kebijakan ini, laba bersih akan tercatat lebih tinggi sebesar Rp148,1 miliar.

"Selain menerapkan kebijakan dan menjaga pertumbuhan, prioritas perseroan adalah keamanan staf dan pasien. Kami tidak berkompromi atas biaya keamanan," kata Presiden Komisaris PT Lippo Karawaci Tbk, John Riady, dalam Rapat Umum Pemegang Saham, Rabu (28/4).

Menurut dia, pada 2020, perusahaan mengeluarkan tambahan biaya sebesar Rp196 miliar untuk tunjangan dalam masa sulit, alat perlindungan diri tambahan dan tes covid-19 untuk karyawan.


Darjoto Setyawan


PT Lippo Karawaci Tbk., merupakan perusahaan inti yang membawahi PT Siloam International Hospitals Tbk sebagai anak perusahaan.

John Riady menambahkan melalui persetujuan RUPS, Siloam akan membayarkan dividen biasa sebesar Rp56 miliar, merepresentasikan rasio pembayaran dividen sebesar 45% dari laba bersih.

Untuk mengapresiai kesuksesan transformasi bisnis, lanjutnya, perseroan akan membayar satu kali dividen khusus sebesar Rp170 miliar. Secara total, pemegang saham akan menerima Rp226 miliar dalam bentuk dividen pada 2020. "Jumlah dividen akan ditentukan dalam keputusan RUPS," tuturnya.

Pada kesempatan itu, dia juga memperkenalkan Darjato Setyawan sebagai Presiden Direktur PT Siloam International Hospitals periode 2021-2022. Darjoto menggantikan Ketut Budi Wijaya. Sebelumnya, pria kelahiran solo, 22 September 1957 itu adalah penasihat di PT Lippo Karawaci, sejak 2020.

Darjoto merupakan sarjana dari Fakultas Matematika dan IPA, Institut Teknologi Bandung. Ia memperoleh gelar Master of Management dari Prasetya Mulya Institute of Management.

Sejak 2006, Darjoto menjabat posisi top level management di berbagai perusahaan, termasuk sebagai penasihat di PT Lippo Karawaci Tbk sejak
2020. (N-2)

BERITA TERKAIT