14 April 2021, 01:42 WIB

Saat Resmikan Ponpes, Kapolri Ajak Masyarakat Pererat Persatuan 


mediaindonesia.com | Nusantara

Ist
 Ist
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo meresmikan pengembangan Pondok Pesantren Salafiyah Tajul Falah di Lebak, Banten. 

PONDOK  Pesantren Salafiyah Tajul Falah yang berdiri sejak 1940 di Desa Sipayung, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Lebak, Banten, menjadi saksi sejarah dalam perjuangan bangsa ini menuju gerbang kemerdekaan.

Sebagai salah satu lembaga pendidikan agama tertua di Banten, pondok pesantren yang awalnya berdiri dengan dinding bilik bambu tersebut, telah mencetak alumni sekitar 2150 santri. 

Pondok pesantren yang didirikan oleh Almarhum Abuya Umar yang diteruskan ke KH. Cece Asasudi dan kini pimpin oleh KH Muhamad Suryana. 81 tahun sudah pondok ini berdiri. Banyak juga alumni yang kini ikut mendirikan pondok pesantren didaerahnya masing-masing, hingga menjadi pejabat.

Seiring berjalannya waktu, pondok seluas 9.000 meter persegi itu terus mengalami peningkatan. Semua itu tak terlepas dari kontribusi Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo semenjak menjabat Kapolda Banten. 

Gedung tiga lantai yang diperuntukan untuk asrama putri, kamar dan perpustakaan itu, diremsikan langsung Kapolri Pada 10 April 2021 di Pondok Pesantren Salafiyah Tajul Falah.  Ucapan terimakasih hingga doa dari para alim ulama dan tokoh Banten pun langsung mengalir untuk kapolri. 

Pimpinan Ponpes Salafiyah Tajul Falah KH. Muhamad Suryana mengucapakan rasa syukurnya atas kehadirian orang nomor satu di Korps Bhayangkara tersebut.

Terlebih, bukan hanya hadir dalam peresmian saja, beliau memang dikenal dekat dengan ulama saat masih menjabat Kapolda Banten dan dikenal dermawan dalam membantu pendidikan. 

"Saya berikut pengurus pondok, santri, hingga alumni mengucapkan terimakasih kepada kapolri,atas tenaga, harta dan waktunya untuk membantu pembangunan pondok ini," kata KH. Muhamad Suryana pada keterangan pers, Selasa (13/4). 

Tak hanya itu, peresmian pun diisi dengan santunan anak yatim serta bantuan sosial (baksos) kepada korban banjir 2020 silam, dan penyerahan kitab kuning tafsir munir dari kapolri ke Pondok Pesantren Salafiyah Tajul Falah. 

Dalam penyerahan tersebut, penerima kitab secara simbolis dari perwakilan alumni yakni, KH Sarhani merasa bersyukur mendapat kitab tersebut. 

Kitab itu merupakan karangan seorang imam besar Masjidil Kharam yakni Syekh Nawawi al Bantani. 

Terlebih, kitab tersebut memang sangat bermanfaat digunakan di bulan suci ramadhan. 

Asnen salah seorang penerima bantuan pun mengaku, senang karena bisa menyambut ramadhan dengan tenang.
"Meski masih tinggal di tenda pengungsian, tapi kami sudah tidak takut lagi kelaparan," bebernya. 

Penangung Jawab Pondok Pesantren Salafiyah Tajul Falah, H. Ade Ruhandi atau akrab disapa Jaro Ade mengatakan, kapolri begitu luar biasa perhatiannya kepada masyarakat. Terlebih, kapolri tidak pernah memilah-milah mana pendidikan umum dan pendidikan pesantren.

"Perhatian Pak Sigit terhadap sarana dan prasarana keagamaan sungguh luar biasa. Bantuannya ke Ponpes Salafiyah Tajul Falah ini juga sungguh luar biasa," kata Jaro Ade sapaan akrabnya. 

Terlebih, Pondok Pesantren Salafiyah Tajul Falah ini tidak diperbolehkan berbadan hukum. Oleh karena itu, pondok tidak menerima bantuan hibah dari APBN maupun APBD. 

"Kita hanya menerima bantuan secara personal, jadi Pak Sigit juga membantu kami atas nama pribadi beliau," jelasnya.

Lebih lanjut, Jaro Ade menceritakan, jika Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo ikut membantu proses pembangunan Ponpes Salafiyah Tajul Falah semenjak menjabat Kapolda Banten pada 2016. Mulai dari pembangunan gedung satu lantai. 

"Saya mengucapakan terima kasih atas perhatian pak Sigit untuk Ponpes Salafiyah Tajul Falah dari perhatian beliau ketika menjabat Kapoda Banten membantu membangun lantai dasar. Saat menjabat Kabaraskrim beliau langsung membantu pembangunan gedung menjadi lantai dua dam tiga," ungkap Jaro Ade. 

Oleh karena itu, sudah tepat jika pak kapolri lah yang meresmikan bangunan tersebut. Tak hanya itu, dirinya pun meminta doa agar lahan yang masih kosong dilingkungan pondok bisa dibangun untuk pembangunan gedung santri laki-laki.

Ucapan terimakasih pun datang dari Tokoh Masyarakat Banten, H. Mulyadi Jayabaya. Ia mengaku, begitu kagum atas perhatian dan dedikasi yang diberikan kapolri terhadap masyarakat Banten, terutama dalam hal pendidikan agama.

"Meskipun beliau sudah tidak menjabatKapolda Banten, tapi perhatiannya terhadap warga Banten tak pernah sirna, malah terus bertambah. Saya sangat bangga dengan beliau," bebernya. 

Bahkan, JB sapaan karibnya pun berpesan, agar para kapolda yang bertugas di Banten bisa mengikuti jejak Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo dalam memperhatikan lembaga pendidikan agama dan ulama yang ada. 

"Saat beliau menjabat kapolda begitu dekat dengan ulama, dan ini merupakan sosok seorang polisi sebagai pengayom masyarakat," tegasnya

Terpisah, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Lebak, KH. Pupu Mahfudin mengucapkan, terimakasihnya atas kehadiran Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo atas kehadirannya terkait peresmian bangunan baru di Pondok Pesantren Salafiyah Tajul Falah. 

"Perhatian yang diberikan Pak Kapolri kepada pondok pesantren di wilayah Lebak, Banten, begitu besar," ucapnya.

Pentingnya kebersamaan

Sebelumnya, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengingatkan warga agar tak mudah dipecah belah. Sigit mengingatkan pentingnya kebersamaan dalam menjadikan Indonesia lebih unggul dibanding negara lain.

"Kita mudah dipecah belah sehingga kemudian kita sibuk berhadapan dengan saudara-saudara kita sendiri, ribut dengan saudara-saudara kita sendiri. Tujuan nasional kita mewujudkan masyarakat adil dan makmur itu adalah tugas kita bersama yang dulu itu diwariskan pendiri bangsa. Itu yang harus kita ingat," kata Sigit yang sebelum meresmikan bangunan baru mendapatkan sorban dari ulama Banten.

Ia mengatakan, bangsa Indonesia pernah dijajah 350 tahun lamanya karena mudah dipecah belah. Namun, ketika Indonesia bersatu menjadi satu kekuatan, Indonesia berhasil mengalahkan para penjajah.

"Selama 350 tahun kita dijajah oleh Belanda dan dilanjutkan Jepang saat itu. Karena apa? Karena kita mudah terpecah belah. Kenapa mudah? Karena Indonesia ini negara yang sangat majemuk, sangat beragam, banyak pulau, banyak suku, banyak agama, etnis, sehingga paling mudah untuk diadu," tutur Sigit.

Sigit melanjutkan, tantangan terkini bagi Indonesia adalah Covid-19. Untuk itu, ia menyerukan agar semua pihak bersatu agar segera keluar dari masalah pandemi Covid-19.

"Tantangan kita dulu menghadapi penjajah, kita mampu bersatu. Saat ini kita menghadapi Covid-19, kita harapkan kita mampu bersatu, jangan mau lagi dipecah belah," terangnya. (RO/OL-09)

BERITA TERKAIT