10 April 2021, 16:20 WIB

TNI-Porli Amankan Wilayah Beoga, Papua


Tri Subarkah | Nusantara

Antara
 Antara
Ilustrasi

APARAT gabungan TNI-Polri melakukan pengamanan di Distrik Begoa, Kabupaten Puncak, Papua, pascapenembakan satu orang guru honorer SMP Negeri Beoga bernama Yonatan Renden.

Menurut Kapen Kogabwlhan III Koloner Czi IGN Suriastawa, aparat bersiaga untuk menjaga keamanan dan mencegah aksi teror dari Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB).

Yonatan menjadi guru kedua yang ditembak oleh KKB. Ia meninggal pada Jumat (9/4) petang saat sedang mencari terpal bersama kepala sekolah SMP N Beoga, Junaedi,untuk mengurus jenazah Oktavianus Rayo, guru lain yang sebelumnya ditembak KKB Kamis (8/4).

"Penembakan terjadi sekitar pukul 16.45 WIT, saat keduanya sedang mengambil terpal untuk alas jenazah Oktavianus Rayo," ujar Suiastawa melalui keterangan tertulis, Sabtu (10/4).

"Akibat dari tembakan itu, Yonatan Renden meninggal dunia dengan luka tembakan di bagian dada kiri dan kanan," imbuhnya.

Suriastawa menjelaskan bahwa jenazah Yonatan sudah dievakuasi ke Puskesmas Beoga pada Jumat malam oleh Satgas Gabungan Yonif 715/Mtl dan Koramil Beoga. Saat melakukan evakuasi, ia mengakui satgas mendapatkan gangguan dari KKB.

"Saat evakuasi ini, aparat gabungan Yonis 715/Mtl dan Koramil Beoga mendapatkan gangguan tembakan dari KKB yang melakukan penembakan terhadap korban," tandasnya.

Selain melakukan pengamanan di Beoga, Suriastawa juga menyebut aparat kemanan masih melakukan pengejaran terhadap KKB yang melakukan pembunuhan terhadap dua guru tersebut.

Sementara itu, Kepala Humas Satgas Nemangkawi Kombes Iqbal Alqudussy menjelaskan KKB menggantungkan logistiknya pada hasil pemerasan ke warga. Sebab, saat ini KKB tidak lagi kebagian dana Otonomi Khusus sejak ada larangan tegas dari Kementerian Dalam Negeri kepada pemerintah daerah.

Ia menjelaskan penembakan terhadap dua guru tersebut atas tuduhan mata-mata aparat hanyalah modus KKB untuk menutupi kejahatan KKB. Padahal, tidak ditemukan bukti bahwa keduanya adaah mata-mata aparat.

"Siapapun yang punya hati nurani pasti tidak akan membenarkan penembakan keji tersebut," pungkas Iqbal. (OL-4)

BERITA TERKAIT