20 March 2021, 07:19 WIB

Minyak Tanah Langka di Kota Maumere


Gabriel Langga | Nusantara

MI/Gabriel Langga
 MI/Gabriel Langga
Minyak tanah habis di salah satu pangkalan di Sikka, NTT.

SUDAH sekitar dua minggu, minyak tanah, yang menjadi kebutuhan bahan bakar di wilayah Kota Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) langka. Hal itu diduga terjadi karena ada permainan di agen pangkalan minyak tanah.

Salah satu ibu rumah tangga warga Kelurahan Kota Baru, Kecamatan Alok Timur, Trudis mengaku sudah hampir dua minggu warga di lingkungannya kesulitan mencari minyak tanah. Mereka juga tidak tahu penyebab minyak tanah yang biasanya mudah didapat kini sulit diperoleh.

"Hampir dua minggu ini cari minyak tanah, tidak dapat semua. Bahkan saya sudah ke penjual minyak tanah dan agen-agen yang biasa jual minyak tanah tapi mereka bilang tidak ada," ungkap dia, Jumat (19/3).

Baca juga: Polisi Brebes Usut Penyiraman Cairan Misterius kepada Siswi

Sebelumnya, kata dia, dirinya membeli minyak tanah di salah satu kios dengan harga cukup tinggi. Satu liter minyak tanah harganya mencapai Rp6 ribu.

"Biasanya kita beli dengan harga standar Rp5 ribu per liter. Tetapi, waktu itu, saya beli dengan harga Rp6 ribu. Sekarang minyak tanah sudah susah cari," keluh Trudis.

Salah satu pemilik pangkalan minyak tanah di Jalan Don Thomas Kelurahan Kota Baru Ludiyswan, saat ditemui mediaindonesia.com, mengaku, sejak Januari, setiap pangkalan hanya mendapatkan satu drum minyak tanah.

"Kalau tahun-tahun kemarin satu pangkalan bisa dapat dua drum, kalau sekarang per pangkalan cuman satu drum," katanya.

Menurutnya, satu drum minyak tanah dibeli dari agen penyalur dengan harga per drum Rp700 ribu.

"Warga yang datang membeli minyak tanah di pangkalan, wajib membawa KTP dan masing-masing hanya mendapatkan minyak tanah paling banyak 10 liter untuk kebutuhan rumah tangga. Jadi, ketika minyak tanah datang itu langsung habis," ujar dia.

Sementara itu, Kepala Bagian (Kabag) Ekonomi pada Sekretariat Daerah (Setda) kabupaten Sikka Sensilius, saat dikonfirmasi, mengaku merasa heran dengan kelangkaan minyak tanah yang terjadi dalam minggu ini.

Padahal, dalam satu hari, Sikka mendapatkan jatah minyak tanah dari Pertamina sebanyak 30.000 liter.

"Dari data yang diberikan Pertamina kepada kita, rata-rata 30.000 liter per hari yang dikirim ke 500 agen. Kelangkaan seharusnya tidak terjadi," ungkap dia.

Ia menduga ada permainan di tingkat pangkalan minyak tanah hingga terjadi kelangkaan ini. Hal itu karena penjualan dari pangkalan ke konsumen ada kejanggalan yang terjadi.

"Kita menemukan banyak sekali kejanggalan. Berdasarkan laporan dari warga, pangkalan itu tidak menjual minyak tanah untuk warga sekitar itu.
Tetapi dijual kepada orang-orang tertentu yang bukan warga setempat dengan jumlah yang banyak. Orang-orang tertentu itu sampai sekarang masih kita telusuri," papar dia.

Meski begitu, pihaknya juga meminta bantuan dari pihak Pertamina untuk menambah kuota minyak tanah untuk menyiasati keluhan masyarakat atas langkanya peredaran minyak di Kabupaten Sikka.

"Kita sudah minta pihak Pertamina tambah kuota minyak tanah untuk menjawab kelangkaan minyak tanah sambil telusuri oknum-oknum yang nakal ini. Saya juga minta bantuan warga untuk melaporkan ada oknum-oknum nakal biar kita tindak dan jebloskan saja ke penjara," tegas dia. (OL-1).

BERITA TERKAIT