18 March 2021, 07:34 WIB

Babi Terserang Virus, Peternak di Sikka Rugi Rp47,6 Miliar


Gabriel Langga | Nusantara

MI/Gabriel Langga
 MI/Gabriel Langga
Banyak babi di peternakan milik warga Sikka, NTT mati terserang virus flu babi dari Afrika.

POPULASI babi di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur berkurang sejak adanya virus flu babi Afrika atau African Swine Fever (ASF) yang dimulai 2020. B

Berdasarkan data yang dihimpun dari Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Sikka, jumlah ternak babi yang mati terserang virus ASF pada 2020 sejumlah 3.159 ekor. Kemudian Januari-Maret 2021 ada 8.760 ekor yang mati. Sehingga ditotalkan seluruhnya ada sekitar 11.919 babi yang mati diserang virus di masa pandemi ini

Jika diasumiskkan harga satu babi Rp4 juta, maka total kerugian dialami peternak babi diperkirakan sebesar Rp47.676.000.000 dari 2020 sampai Maret 2021. Hendrikus Raga, peternak babi di Nangarasong, Desa Kolisia, Kecamatan Magepanda mengungkapkan sudah 34 babi milikna mati.

"Saya tidak tahu ini virus muncul darimana. Saya sudah jaga sanitasi kandang dan pakannya pun dimasak secara baik. Tetap saja mati satu per satu karena ASF ini," kata Hendrikus Raga, Kamis (18/3).

Ia mengalami kerugian Rp130 juta akibat ternak babi mati diserang virus ASF. Ia merasa kematian babi membuat dirinya kehilangan sumber pendapatan yang menunjang kebutuhan ekonomi rumah tangga
mereka. Ia berharap Pemkab Sikka melalui Dinas Pertanian dan Perkebunan bisa mencari solusi bagi para peternak yang menderita kerugian ekonomi akibat virus ini.

"Saya harap ada bantuan ternak dari Pemkab Sikka kepada kami peternak yang sudah rugi besar ini," ungkap Hendrikus Raga.

Keluhan serupa juga disampaikan peternak babi, Herlindis Donatha Da Rato. Ia mengaku ada 263 babi miliknya mati terinfeksi virus ASF. 

"Ada 263 babi yang saya pelihara itu mati mendadak. Kerugian yang saya alami sekitar ratusan juta," ungkap dia dengan lesu.

Anggota DPRD Sikka Komisi II, Darius Evensius menjelaskan berdasarkan pemamaparan yang disampaikan oleh kepala dinas pertanian beberapa waktu lalu, ia menilai Dinas Pertanian tidak serius menangani persoalan virus ASF hingga banyak peternak babi mengalami kerugian.

"Saya katakan tidak serius karena dari datanya saja hanya sedikit. Kalau kita mau jujur di Sikka ini bukan hanya 8 ribu ekor lebih babi mati diserang virus ini untuk tahun 2021. Mungkin itu hanya satu kecamatan saja. Anehnya ada kecamatan yang sama sekali tidak ada kematian akibat virus ASF seperti di Kecamatan Mapitara. Padahal hampir seluruh kecamatan di Sikka ada kasus kematian babi," kata Evensius.

baca juga: 100 Ekor Babi Mati Mendadak di Sikka Diduga Terpapar Virus Afrika 

Menurutnya Dinas Pertanian turun langsung ke masyarakat, koordinasi dengan pemerintah desa dan mendata jumlah kematian babi dan dampak kerugian. 

"Mestinya dinas melakukan pendataan dengan baik dan bisa menetapkan wabah virus ASF ini menjadi bencana daerah. Jangan biarkan seperti sekarang ini. Dinas masa bodoh, pendataan saja tidak jelas," kritik Darius Evensius. (OL-3)
 

BERITA TERKAIT