21 September 2023, 22:34 WIB

Dampak Kebakaran Museum Nasional Seharusnya Bisa Diminimalisasi


Rahmatul Fajri | Megapolitan

ANTARA/WAHYU PUTRO A
 ANTARA/WAHYU PUTRO A
Petugas berjalan di samping patung gajah hadiah dari Raja Chulalongkorn di Museum Nasional Jakarta, Senin (18/9).

KEBAKARAN yang melanda Museum Nasional pada Sabtu (16/9) lalu memberikan dampak dan pembelajaran yang mendalam. Kurang lebih 817 koleksi yang usianya ratusan hingga ribuan tahun di enam ruangan ikut terdampak kebakaran.

Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Fatma Lestari menyampaikan kerugian dan potensi kebakaran Museum Nasional semestinya bisa dikurangi dengan melakukan mitigasi pencegahan. 

Mitigasi pencegahan tahap pertama adalah implementasi fire safety atau keselamatan kebakaran. Yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan identifikasi risiko kebakaran serta apa saja yang mungkin terjadi di objek vital nasional tersebut. 

Yang kedua adalah kaji risiko K3 (keselamatan dan kesehatan kerja) untuk mengetahui area mana yang merupakan gap atau harus diimprovisasi. Salah satu yang dapat dilakukan adalah mulai dari pengecekan alat deteksi api atau smoke detector.

Ketiga adalah adanya sistem proteksi kebakaran. Sistem proteksi kebakaran aktif merupakan salah satu hal yang akan mengantisipasi ketika terjadi kebakaran. Kemudian juga sistem proteksi untuk pemadaman kebakaran. 

“Untuk obvitnas (objek vital nasional) sebaiknya sistem proteksi kebarakarannya khusus, mulai dari pendeteksi apinya yang terintegrasi dengan kantor pemadam kebakaran. Sehingga ketika terdeteksi api yang masih awal dapat segera terpadamkan,” ungkap Fatma, melalui keterangannya, Kamis (21/9).

Keempat ialah adanya emergency respons team yang ada di gedung tersebut. Jika sudah ada tim harus diperkuat, sehingga ketika api masih kecil bisa dipadamkan. 

"Yang terakhir adalah implementasi CSMS (contractor safety manajemen system). Mengingat kebakaran ini diduga dari bedeng tukang bangunan yang melakukan renovasi, maka menurut saya Contractor Safety Manajemeng System harus diimplementasikan. Ketika vendor mulai bekerja di obvitnas atau pun gedung-gedung penting lainnya itu harus ada komitmen terhadapA K3 terlebih dahulu," katanya.

“Yang namanya mengundang tamu/orang bekerja di tempat kita maka harus dipastikan bahwa vendor tersebut menerapkan K3. Karena kalau tidak yang terkena dampaknya adalah tuan rumah/ pemilik gedung,” jelas guru besar yang juga kepala Pusat Pengembangan Risiko Bencana UI itu.

Lebih lanjut, Fatma menegaskan Museum Nasional harus memiliki unit Keselamatan Kerja, Kesehatan, dan Lingkungan (K3L)/HSE (Health, Safety, and Environment). Dengan adanya unit tersebut, maka semua program K3 dapat dijalankan. 

“Tapi intinya begini, jika sistemnya bekerja dengan baik, ketika api kecil itu akan segera dapat terdeteksi kemudian dipadamkan,” ungkap Fatma. 

Untuk lebih memastikan penyebab dan apa yang harusnya dijadikan prioritas perbaikan ke depannya, Fatma mengatakan perlu menunggu hasil investigasi. 

“Menurut saya ini sebuah pembelajaran yang luar biasa bagi kita bangsa Indonesia untuk mencegah hal-hal ini. Ini sebetulnya kejadian kebakaran bisa dicegah tetapi memang sekarang perlu upaya diawal pencegahan jangan di belakang. Pencegahan kebakaran bisa dilakukan misalnya dengan kebijakan larangan merokok,larangan menginap di area kerja, membawa benda mudah terbakar dan CSMS," pungkasnya. (Z-6)

BERITA TERKAIT