26 November 2022, 09:51 WIB

Menuju Kota Global, Jakarta Terus Berbenah


Mediaindonesia.com | Megapolitan

Dok. Pemprov DKI Jakarta
 Dok. Pemprov DKI Jakarta
Moda transportasi massal di Jakarta

JAKARTA terus berupaya untuk membenahi permasalahannya menuju kota global. Macet dan banjir menjadi dua masalah laten yang kerap menghantui Jakarta. Dalam mengatasi kemacetan, Jakarta terus mengembangkan transportasi publik, untuk memberikan kenyamanan dan keamanan bagi warga dalam menggunakan angkutan umum. Dengan demikian, dalam jangka panjang, akan semakin banyak warga yang beralih menggunakan transportasi umum.

Kepala Dinas Perhubungan Povinsi DKI Jakarta, Syafrin Liputo, mengatakan, transformasi pengembangan angkutan umum di Jakarta dimulai pada 2018, setelah setahun sebelumnya Jakarta menempati urutan keempat kota termacet di dunia. Syfrin menjelaskan, cara mengurangi kemacetan salah satunya adalah dengan mengubah paradigma pembangunan transportasi di Jakarta, dari pengembangan berbasis kendaraan pribadi menjadi berbasis transit atau Transit Oriented Development (TOD).

Dalam paradigma TOD, pejalan kaki dan pengguna sepeda sebagai transportasi ramah lingkungan yang berkelanjutan menjadi prioritas. Contohnya dengan pembangunan trotoar serta jalur sepeda yang terintegrasi dengan moda angkutan massal. Selain itu, upaya lainnya dengan mengintegrasikan angkutan massal, baik secara fisik maupun sistem tiket.

“Dulu kalau warga mau berjalan kaki untuk menuju angkutan umum, itu merasa susah. Saat ini, warga mudah menjangkau angkutan umum, karena selain rutenya yang semakin luas, juga karena trotoar semakin tertata baik, sehingga warga nyaman untuk berjalan kaki menuju angkutan umum,” ujar Syafrin.

Pemprov DKI Jakarta juga membangun angkutan massal dengan Transjakarta, MRT Jakarta, dan LRT Jakarta. Sederet angkutan umum ini masih dilengkapi dengan KRL Jabodetabek yang dikelola PT Kereta Api Indonesia (KAI). Berbagai moda transportasi ini diintegrasikan, untuk memudahkan warga dalam bermobilitas di Ibu Kota. 

Di samping itu, Pemprov DKI Jakarta juga peduli masalah perubahan iklim dunia, dengan mengadakan bus listrik untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, dan menerapkan Kawasan Rendah Emisi (Low Emission Zone) di Kota Tua, Jakarta Barat.

Dalam mengendalikan kemacetan lalu lintas, Pemprov DKI memberlakukan pula insentif dan disinsentif bagi warga, yakni dengan pembatasan ganjil genap dan pembatasan ruang parkir. 

“Berdasarkan data, pada 2017, jumlah pengguna Trans­jakarta hanya 350 ribu per hari. Kemudian, awal 2020, sebelum pandemi, sudah kurang lebih ada 1 juta penumpang Transjakarta per hari. Hal ini menunjukkan penumpang Transjakarta bertambah tiga kali lipat,” tuturnya.

Kemudahan bertransportasi di Ibu Kota pun diapresiasi oleh pengamat transportasi Haris Muhammadun yang juga Ketua Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ). 

“Ya, kalau kita lihat perkembangan transportasi Jakarta lima tahun terakhir, sudah barang tentu berjalan ke arah yang lebih baik. Beberapa indikatornya adalah dari catatan Tomtom Index yang setiap tahun merilis kota-kota termacet di dunia. Jakarta saat ini sudah terlempar dari kota termacet di dunia, dengan berada di ranking 46,” ungkap Haris.

Selain itu, kesuksesan Jakarta mengembangkan transportasi terbukti pula dari jangkauan transportasi publik yang sudah mencapai 95% saat ini, dari 42% jangkauan pada 2016. Haris juga memuji komitmen Pemprov DKI Jakarta dalam menjadikan angkutan umum massal sebagai tulang punggung pergerakan masyarakat, dengan konsisten menjalankan berbagai proyek pengembangan transportasi publik, termasuk MRT Fase 2 dan LRT Jakarta Fase 2.

Kini telah dilakukan pula layanan integrasi tarif angkutan umum hanya Rp10 ribu untuk sekali jalan dalam kurun waktu maksimum 3 jam untuk MRT Jakarta, LRT Jakarta, dan Transjakarta, termasuk Mi­krotrans.

“Komitmen integrasi tata ruang dan transportasi juga terus dilanjutkan dengan pembangunan kawasan TOD di simpul-simpul transportasi massal,” tuturnya.

Haris berharap, Pemprov DKI Jakarta tetap konsisten dalam mengembangkan transportasi publikdan mengendalikan kemacetan.

“Rekomendasi DTKJ adalah agar Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melanjutkan program-program protransportasi publik melalui pelaksanaan push and pull policy, sehingga transportasi terintegrasi menuju Jakarta kota inklusif,” kata Haris.

Pengembangan transportasi umum Jakarta dipuji oleh Gana, 33. Karyawan swasta ini merasa dimudahkan untuk bermobilitas dengan kehadiran MRT Jakarta serta Transjakarta. Ia kerap menggunakan KRL, Trans­jakarta, dan MRT Jakarta dalam beraktivitas.

Sebelumnya ia mengendarai kendaraan roda empat untuk bepergian. Namun, saat tanggal genap, ia tak bisa menggunakan mobilnya, karena kebijakan ganjil genap. Oleh sebab itu, ia memilih menggunakan angkutan umum, daripada menggunakan transportasi online, karena lebih irit dan efisien.

“Iya, sekarang mudah ke mana-mana. Ada MRT sih yang cepat dan waktunya pasti,” ujarnya. (RO/OL-7)

BERITA TERKAIT