09 November 2022, 17:13 WIB

Pengendara Keluhkan Puing Proyek Berserakan di Jalan Margonda Depok


Kisar Rajagukguk | Megapolitan

ANTARA/Indrianto Eko Suwarso
 ANTARA/Indrianto Eko Suwarso
Pengendara melintas di dekat puing proyek pembangunan trotoar yang berserakan di badan jalan Margonda Raya, Depok, Selasa (8/11).

PROYEK pelebaran jalan Margonda, Kota Depok, Jawa Barat, dikeluhkan masyarakat karena puing-puing proyek berserakan di badan jalan.

Kondisi ini membahayakan pengendara roda dua maupun roda empat. Selain itu, puing-puing proyek tersebut membuat lalu lintas macet parah akibat lebar jalan makin sempit.

Kemacetan paling parah dari arah akses Universitas Indonesia (UI) menuju ke arah lampu merah Siliwangi dan lampu merah Raden Ajeng Kartini, Pancoran Mas.

Lesman Manurung, sopir angkot nomor 112 jurusan Kampung Rambutan-Terminal Margonda, mengatakan dirinya tidak bisa mengejar setoran karena kemacetan lalu lintas akibat puing bangunan berserakan di badan jalan Margonda.

Ia mengatakan dari harusnya perjalanan ke terminal bisa satu jam, kini menjadi dua jam lebih. "Parahnya lagi, angkot tak bisa menurunkan penumpang gegara puing-puing proyek berserakan di badan-badan jalan Margonda," katanya di Depok, Rabu (9/11).

Proyek pelebaran jalan ini, lanjut dia, sangat merugikan pengendara, bukan hanya angkot, tetapi kendaraan roda empat maupun roda dua lainnya.

Pengendara roda empat yang ditemui, Sandi, mengungkapkan, proyek jalan yang dilebarkan di Margonda sangat merugikan masyarakat. Ditambah, selama pengerjaan tidak ada papan peringatan atau pengalihan lalu lintas.

Warga Kelurahan Tugu, Kecamatan Cimanggis, itu mengatakan, kemacetan di Margonda sangat terasa di jam sibuk pagi maupun sore hari. Imbas kemacetan mengular sampai ke Jalan M Yasin Kelapa Dua.

"Macetnya gak tanggung-tanggung, ini sudah dua minggu begini terus kapan selesainya. Kayaknya kerjanya semaunya aja gak mikirin pengguna jalan," ujarnya.

Ia menuturkan, proyek pelebaran jalan yang sudah berjalan dua pekan ini juga tidak dilengkapi dengan rambu penanda atau peringatan, sehingga pengguna jalan yang melintas tidak mengetahui ada proyek pelebaran jalan.


Baca juga: Pembangunan Pipa belum 100%, Ini Strategi PAM Jaya Penuhi Kebutuhan Air Bersih Warga


"Gak ada di ujung jalan permintaan maaf kepada pengguna jalan. Udah gitu gak ada penanda ada jika ada galian lobang ya contohnya kayak waktu itu banyak kendaraan yang terperosok," ungkapnya.

Hal senada dikatakan Wahyu. Warga Sugutamu Kota Depok ini mengaku kesal dengan proyek pelebaran jalan tersebut. Pekerjaan yang dikerjakan tak urung rampung itu seakan dikerjakan seenaknya.

Padahal, sejumlah pengguna jalan dan pemilik kios banyak yang mengeluh. "Saya harap proyek ini segera rampung karena ini lama sekali kerjaanya tiap hari macet mulu. Serius atau tidak sih kerjanya, sudah banyak yang mengeluhkan pelebaran jalan ini," ucapnya.

Terkait ini, Kepala Bidang Lalu Lintas Dinas Perhubungan Kota Depok Marbudiantono mengatakan puing-puing dan material proyek yang berserakan di badan jalan Margonda harus dibersihkan karena membahayakan pengendara baik roda dua maupun roda empat, terutama dari arah akses UI.

Telah banyak pengendara mengeluh karena badan jalan termakan material proyek. Ia mengatakan roda empat dan roda dua yang melintas dari arah akses UI ke arah Siliwangi dan Raden Ajeng Kartini kurang lebih 300 ribu.

"Saya sangat prihatin dengan penumpukan material yang membahayakan pengendara roda empat dan dua, apalagi pengendara yang melintas saat malam hari lebih membahayakan lagi, " ungkapnya.

Ia tak habis pikir kenapa penyedia anggaran Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Depok tak memasang police line atas pembatas di sepanjang jalan Margonda.

"Menurut saya seharusnya di sekitaran proyek jalan tersebut dipasangi garis polisi sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak diharapkan. Ini soal keselamatan pengendara, kalau terjadi kecelakaan gimana," jelasnya.

Sementara Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota Depok, Citra Indah Yulianti dan Kepala Bidang Bina Marga Kota Depok Artanto belum dapat dimintai konfirmasi kendati Media Indonesia sudah mencoba menghubungi melalui telepon maupun pesan percakapan. (OL-16)

BERITA TERKAIT