27 September 2022, 19:20 WIB

Ketua DPRD DKI Sebut Kalijodo sudah Seperti Dulu Lagi


Selamat Saragih | Megapolitan

MI/Galih P
 MI/Galih P
Sejumlah warga bermain di Ruang Terbuka Hijau dan Ruang Publik Terpadu Ramah Anak Kalijodo, Jakarta Utara, Selasa (7/3).

KETUA DPRD DKI Jakarta Prasetyo Edi Marsudi menyatakan, kawasan Kalijodo, Jakarta Utara, kini sudah kembali lagi menjadi tempat prostitusi dan hiburan malam.

Padahal, pada masa kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, tempat itu telah diubah menjadi ikon anak muda.

"Ikon baru salah satunya itu Kalijodo, itu kan ikon. Apa yang terjadi sekarang? Dilihat sana udah kembali lagi, tempat begitu lagi (prostitusi dan hiburan malam)," kata Prasetyo dalam acara Gaspol yang disiarkan di kanal YouTube, Selasa (27/9).

Menurut Prasetyo, setelah Ahok menertibkan dan membangun lalu dijadikan tempat rekreasi ikon anak muda di Jakarta, Kalijodo yang awalnya tempat mesum dan prostitusi sempat berubah menjadi ikon anak muda, di mana mereka bisa melakukan kegiatan positif.

Namun sekarang, penggunaannya secara ilegal kembali menjadi tempat prostitusi, tempat bagi wanita malam mencari nafkah dari para pria hidung belang.

"Udah kayak seperti dulu lagi yang saya bilang kok kembali lagi," ujarnya.


Baca juga: Tol Serbaraja Diresmikan, Akses Jakarta-BSD City semakin Lancar


"Padahal, pada saat pemerintahan sebelumnya sulit sekali untuk membebaskan tempat itu," lanjutnya.

Sebagai informasi, pembongkaran kawasan Kalijodo dilakukan enam tahun silam pada Februari 2016 dan hal itu menjadi kisah yang tidak terlupakan bagi warga Jakarta.

Kawasan yang identik dengan prostitusi, judi, dan hiburan malam itu berubah 180 derajat menjadi ruang terbuka ramah anak yang biasa dikunjungi keluarga di akhir pekan.

Dulu sebelum berubah menjadi Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA), para pekerja seks komersial tinggal dan mencari nafkah di tempat itu. Mereka melayani pria hidung belang di kamar yang rata-rata berukuran 2 meter x 1 meter persegi.

Sulit bagi mereka untuk melepaskan diri jeratan dunia hitam tersebut. Mereka seolah 'terkunci' pada bangunan-bangunan yang berkedok kafe remang-remang di Kalijodo.

Di lain pihak, para penguasa Kalijodo terus mengambil keuntungan dari bisnis remang-remang ini. Sebagian besar penduduk yang tinggal di kawasan tersebut segan terhadap para penguasa. Di tempat itulah, para penguasa seolah mengatur perekonomian Kalijodo. (OL-16)

 

BERITA TERKAIT