09 September 2022, 20:01 WIB

Jabodetabek masih Berpotensi Diguyur Hujan Tiga Hari ke Depan


Atalya Puspa | Megapolitan

DOK MI.
 DOK MI.
Ilustrasi.

WILAYAH Jabodetabek masih berpotensi diguyur hujan lebat selama tiga hari ke depan. Hal itu diungkapkan oleh Sub Koordinator Bidang Prediksi Cuaca Ida Pramuwardani.

"Tiga hari ke depan potensi hujan lebat akan terjadi di wilayah Jakarta dan sekitarnya karena masih terpantau daerah penumpukan massa udara akibat perlambatan kecepatan angin serta beberapa gelombang ekuator yang aktif di Jawa bagian barat," kata Ida, Jumat (9/9). Hujan di wilayah Jabodetabek meskipun kini masih berada dalam musim kemarau disebabkan sirkulasi di Kalimantan Barat yang menyebabkan penumpukan massa udara di Sumatra bagian selatan dan Jawa bagian barat.

"Selain itu terpantau daerah perlambatan kecepatan angin dan aktifnya MJO di Jawa bagian barat. Ini mengintensifkan penmpukan awan hujan ditambah dengan latar belakang atmosfer Indonesia yang basah dan La Nina lemah serta Indian Ocean Diploe," ucap dia.

Sebelumnya, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Dwikorita Karnawati mengungkapkan, awal musim hujan di Indonesia akan terjadi di September hingga November 2022 dengan puncak musim penghujan diprakirakan terjadi di Desember 2022 dan Januari 2023. Fenomena La Nina diprakirakan terus melemah dan menuju netral pada periode Desember 2022-Januari 2023 dan fenomena Indian Ocean Dipole diprakirakan akan tetap negatif hingga November 2022.

"Kombinasi dari kedua fenomena tersebut La Nina dan IOD negatif diprakirakan berkontribusi pada meningkatnya curah hujan di Indonesia," ungkap Dwikorita. Prakiraan awal musim hujan ini merupakan hasil dari analisis zona musim terupdate (ZOM9120) yang telah dilakukan BMKG untuk menjamin dan memastikan prakiraan musim penghujan di Indonesia menjadi lebih akurat dan tepat.

Saat ini berdasarkan update atau pembaharuan zona musim yang dilakukan BMKG terdapat sekitar 699 Zona Musim dengan jumlah 583 ZOM yang memiliki dua musim atau lebih (sebelumnya hanya disebut ZOM) dan 116 ZOM yang memiliki satu musim (sebelumnya disebut NONZOM). ZOM9120 tersebut tersebar di wilayah Sumatra 156 ZOM, Jawa 193 ZOM, Kalimantan 67 ZOM, Bali 20 ZOM, Nusa Tenggara Barat 27 ZOM, Nusa Tenggara Timur 28 ZOM, Sulawesi 104 ZOM, Maluku 40 ZOM, dan Papua 64 ZOM.

Dwikorita menerangkan, dari total 699 ZOM di Indonesia sebanyak 114 ZOM (16,31%) diprakirakan mengawali musim hujan pada September 2022 meliputi sebagian Sumatra, Jawa, Kalimantan, Bali, Sulawesi, Maluku, dan Papua. Sebanyak 175 ZOM (25,03%) akan memasuki musim hujan pada Oktober 2022 meliputi sebagian Sumatra, Jawa, Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan Papua.

Sebanyak 128 ZOM (18,31%) akan memasuki musim hujan pada November 2022 meliputi Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan Papua. Sedangkan untuk ZOM lain awal musim hujan tersebar pada Juli-Agustus 2022, Desember 2022 serta Januari-Mei 2023.

Saat ini terdapat 60 ZOM (8,6%) yang sudah mengalami musim hujan meliputi Riau bagian selatan, sebagian Sumatra Selatan, Bengkulu bagian selatan, Jawa Barat bagian selatan, Kalimantan Barat bagian selatan, Kalimantan Tengah bagian timur, Kalimantan Selatan bagian selatan, Sulawesi Tenggara bagian utara, Maluku Utara bagian utara, sebagian Maluku, dan sebagian Papua Barat. Selain itu, terdapat sebanyak 113 ZOM yang mengalami periode musim hujan sepanjang tahun.

Dwikorita menuturkan, prakiraan musim hujan yang dikeluarkan BMKG ini dapat dimanfaatkan oleh stakeholders di pusat maupun daerah sebagai pedoman perencanaan kegiatan di berbagai sektor, seperti awal musim tanam, termasuk antisipasi potensi kebencanaan. BMKG mengimbau seluruh kementerian/lembaga, pemerintah daerah dan stakeholders serta masyarakat untuk tetap mewaspadai wilayah-wilayah yang akan memasuki musim hujan lebih awal/maju dibanding normalnya dan wilayah yang diprakirakan akan mengalami musim hujan lebih basah dari normalnya. (OL-14)

BERITA TERKAIT