17 June 2022, 09:23 WIB

Komitmen Trans-Jakarta Sediakan Bus Listrik untuk Kurangi Emisi


mediaindonesia.com | Megapolitan

DOK TRANS-JAKARTA
 DOK TRANS-JAKARTA
 

POLUSI kendaraan bermotor menjadi salah satu faktor utama buruknya kondisi udara Jakarta. Sekitar 3 juta mobil dan 16 juta motor dinilai cukup untuk membuat polusi udara di ibu kota menjadi yang terburuk di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara.

Salah satu upaya mengurangi dampak polusi ini ialah peralihan dari kendaraan berbahan bakar fosil ke kendaraan ramah lingkungan berbasis listrik. Itu jadi perhatian PT Transportasi Jakarta atau Trans-Jakarta.

Trans-Jakarta sebagai pelopor transportasi publik berbasis bus terintegrasi di Jakarta perlahan mendukung aksi pengurangan emisi di Jakarta dengan mengganti sejumlah armada menjadi bus listrik ramah lingkungan. Pembaruan itu disebut sebagai upaya untuk mendukung program Indonesia Bebas Emisi pada 2025.

Baca Juga: Kolaborasi PT KAI-TransJakarta untuk Tingkatkan Pelayanan Pelanggan

“Ini hanya langkah awal untuk lingkungan dan pelayanan yang lebih baik. Ke depan semua armada akan beralih menjadi bus listrik secara bertahap, dan warga Jakarta akan menjadi saksi perubahan besar pada layanan transportasi publik berbasis bus listrik,” ungkap Direktur Utama PT Trans-Jakarta M Yana Aditya, belum lama ini.

Dalam peta jalan (road map) Trans-Jakarta, transformasi itu menargetkan semua armada bus sebanyak 10.047 unit akan seluruhnya terelektrifikasi pada 2030. Dalam pemenuhan peta jalan itu, Yana mengatakan pihaknya mulai mengerjakan sejumlah support system elektrifikasi bus seperti stasiun pengisian (charging station) dan daya listrik.

Menurutnya, komitmen Trans-Jakarta untuk mengoperasikan bus listrik diharapkan berdampak pada perbaikan kualitas udara di Jakarta. “Kita sebagai masyarakat Jakarta dapat mengambil andil besar mengurangi emisi dengan mulai menggunakan transportasi publik. Jakarta sudah beradaptasi dan mengambil langkah besar mengurangi emisi,” ujar Yana.

Saat ini telah hadir 30 armada bus listrik yang beroperasi melayani masyarakat Jakarta. Menurut Direktur Operasi dan Keselamatan PT Trans-Jakarta Yoga Adiwinarto, hingga 2025, pihaknya menargetkan sebanyak 3.000 bus listrik yang beroperasi. “Untuk bisa mewujudkan ini, kami perlahan-lahan. Tahun ini kami mulai pilot project kurang lebih 100 armada yang akan kami elektrifikasikan,” jelasnya.

Dalam implementasinya, mulai saat ini hingga 2025, Trans-Jakarta akan fokus untuk pengadaan armada-armada baru. Selanjutnya pada 2025 hingga 2030, Trans-Jakarta akan mengonversi armada existing (diesel dan bensin) yang jumlahnya 3.000-an menjadi kendaraan listrik.

“Sejak 2025 ketika usia mereka sudah lebih dari tujuh tahun, akan mulai kami konversikan. Kami start dari bus-bus yang secara teknologi sudah mature. Pertama bus besar (12 meter), lanjut di 2023 bus sedang (7-8 meter), baru di 2024 mikrotrans atau angkot-angkot,” paparnya.

Obligasi hijau
Mewujudkan pergantian bus listrik secara keseluruhan untuk keberlangsungan lingkungan yang sehat memiliki tantangan dari beberapa aspek. Untungnya, Indonesia dan negara lainnya semakin peduli atas keberlangsungan lingkungan melalui obligasi hijau atau green bound.

Obligasi hijau adalah instrumen keuangan yang digunakan untuk mendanai proyek-proyek yang memiliki manfaat lingkungan dan iklim positif. Green bound jadi salah satu upaya dan alternatif yang tengah dijajaki PT Transportasi Jakarta di London pada Mei lalu.

“Jadi, beberapa pabrikan di Inggris dan Turki, mereka tidak hanya menyediakan armada bus, tapi juga skema pembiayaan yang cocok untuk operator Trans-Jakarta bisa akses. Jadi, bagaimana bus yang mahal ini tidak memberatkan operator untuk bisa mendapatkan ke sana,” ungkap Yoga.

Ada beberapa kerja sama dengan lembaga yang fokus menyediakan akses, data, dan informasi. “Contohnya Bloomberg dan Oxford University, kami bekerja sama mendapatkan rekomendasi kebijakan dan penguatan kapasitas bagi staf dan manajemen Trans-Jakarta dan Pemprov DKI,” katanya.

PT Transportasi Jakarta juga mendapat kunjungan dari Richard Graham selaku UK Prime Minister’s Trade Envoy to Indonesia, Malaysia, the Philippines and the ASEAN EC, di Kantor Pusat, Cawang, Jakarta, Rabu (15/6). “Kunjungan ini ialah balasan dari kunjungan jajaran Direksi Trans-Jakarta ke London guna membahas rencana elektrifikasi bus listrik sebagai armada Trans-Jakarta,” ujar Dirut Trans-Jakarta M Yana Aditya.

Ikut hadir yakni, Country Director-Department for International Trade Oliver Richards, Country Manager Indonesia-UK Export Finance Richard Michael, Senior Trade Advisor for Infrastructure Efrizal Saputra, dan Senior Trade Manager-UK Northern Powerhouse Dewi Sari.
PT Transportasi Jakarta juga te­rus memprioritaskan keselamat­an dalam melayani masyarakat. Dari banyak aspek keselamatan yang dibuat Komite Nasional Ke­selamatan Transportasi (KNKT), pada tahun ini Trans-Jakarta memberikan perhatian lebih pada ke­selamatan para pengemudi.
Direktur Keuangan dan Perencanaan Korporasi PT Transportasi Jakarta Welfizon Yuza mengatakan pengemudi merupakan salah satu human factor terpenting dalam pelayanan atau keselamatan di transportasi publik. Itu disebabkan faktor pengemudi berperan memberikan pelayanan dan ke­selamatan.

Salah satu pengemudi Trans-Jakarta, Arie Norman, mengaku mendapat pelatihan standar ke­selamatan transportasi dan merasakan langsung kenyamanan dan keamanan fasilitas dari terminal dan bus Trans-Jakarta. (Ifa/S3-25)

BERITA TERKAIT