22 December 2021, 18:10 WIB

Hasil Audit Kecelakaan Beruntun Transjakarta Soroti Empat Hal


Hilda Julaika | Megapolitan

MI/Andri Widiyanto.
 MI/Andri Widiyanto.
Armada bus TransJakarta melintasi kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Selasa (7/12/2021).

KOMITE Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) telah menuntaskan proses audit PT Transjakarta. Hal ini berkaitan dengan insiden kecelakaan beruntun yang melibatkan bus Transjakarta beberapa waktu lalu.

Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono mengatakan hasil audit bukan bertujuan mencari pihak yang salah atau lalai atas kejadian kecelakaan tersebut, melainkan memberikan sejumlah rekomendasi agar Transjakarta bisa melakukan perbaikan di kemudian hari. "Kami mengharapkan dari beberapa rekomendasi ini bisa dilaksanakan. Kira-kira bulan depan kami mengharapkan kecelakaan Transjakarta bisa turun. Jadi sekali lagi bukan 0, kita mencoba realistis," kata Soerjanto dalam konferensi pers, Rabu (22/12).

Investigator senior KNKT Achmad Wildan mengutarakan ada empat area evaluasi yang perlu dilakukan oleh Transjakarta. Hal itu yakni manajemen risiko, pemenuhan kelaikan armada, pemastian kesiapan awak, dan keselamatan atau keamanan rute atau lintasan Transjakarta.

"Setelah dilakukan evaluasi mendalam dan komprehensif, diskusi dengan teman-teman dari lini paling atas hingga paling bawah. Kita memandang perlu bahwa di dalam struktur organisasi Transjakarta perlu ada penambahan satu struktur lagi," ujar Wildan. "Satu struktur ini yaitu satu departemen yang khusus memiliki tugas dan fungsi mengelola manajemen risiko serta memberikan jaminan keselamatan," imbuhnya.

Terkait kelaikan kendaraan, KNKT melakukan evaluasi mendalam dan komprehensif atas proses procurement terhadap SOP yang digunakan Transjakarta. Soalnya, selalu ada dinamika baru, khususnya dalam hal teknologi.

"Saya ambil contoh dinamika teknologi. Bus Transjakarta itu sudah mulai bridging, mulai dari bus yang konvensional, ototronik, megatronik, dan nanti masuk ke electrical vehicle. Di sana ada banyak hazard sehingga diperlukan satu standar, satu prosedur yang adaptif dan responsif terhadap perkembangan atau dinamika teknologi tersebut," paparnya.

Terkait keselamatan dengan lintasan, KNKT bersama dengan manajemen Transjakarta telah melakukan pemetaan terhadap 13 lintasan bus BRT Transjakarta. Kemudian, pihaknya menemukan potensi hazard (bahaya) dalam lintasan itu. "Untuk itu perlu dilakukan pemetaan yang lebih komprehensif lebih luas tidak hanya 13 koridor tetapi juga menyangkut lintasan non-BRT. Pasti ada lagi," urainya.

Karena itu, Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) melakukan route hazard maping. Pemetaan hazard dan risk ini dilakukan pada lintasan Transjakarta baik BRT, non-BRT, maupun yang di jalan tol. "Kemudian nanti keluarannya menjadi policy guideline and action. Pertama bagi pembina, kedua bagi pembina jalan tol, ketiga bagi manajemen Transjakarta yang harus dilakukan untuk mengendalikan hazard (bahaya) dan risk yang lebih baik."

Sejumlah kecelakaan lalu lintas menimpa bus Transjakarta belum lama ini. Kecelakaan yang menjadi perhatian publik yakni tabrakan di Cawang, Jakarta Timur, hingga menewaskan dua orang, yaitu sopir dan penumpang. 

Baca juga: Sopir Trans-Jakarta yang Tabrak Pejalan Kaki tidak Jadi Tersangka

Selain di Cawang, bus Transjakarta terlibat kecelakaan tunggal di Senen Jakarta Pusat, Gandaria Jakarta Selatan, kemudian menabrak pos kepolisian di depan Pusat Grosir Cililitan (PGC), dan depan Ratu Plaza Jalan Sudirman Jakarta. Terakhir pada Senin (6/12), bus Transjakarta kembali kecelakaan dan menyebabkan pejalan kaki meninggal dunia. Lokasi kejadian tepatnya di dekat SMK 57 arah Mampang Prapatan. (OL-14)

BERITA TERKAIT