05 April 2021, 21:50 WIB

Pelarangan Mudik Gairahkan Ekonomi Ibu Kota


Hilda Julaika | Megapolitan

Antara
 Antara
Pemerintah kembali melarang mudik lebaran tahun 2021

Plt Kadisparekraf DKI Gumilar Ekalaya, menilai pelarangan mudik lebaran tahun ini bisa memberikan keuntungan ekonomi bagi Jakarta. Karena masyarakat jadi melakukan spending (belanja) akan barang dan jasa di Ibu Kota.

"Tentu saja, dengan adanya larangan mudik ini artinya sebenarnya Jakarta ini lebih diuntungkan," kata Gumilar dalam diskusi secara virtual, Senin (5/4).

Lebih lanjut dijelaskan, hal ini bisa terlihat dari kebiasaan masyarakat yang membawa uang ke kampung halaman. Baik untuk merayakan lebaran, liburan, dan belanja lainnya.

"Karena yang biasanya orang Jakarta mudik bawa uang ke daerah, membelanjakan uangnya di daerah. Dengan adanya larangan mudik, spending yang tadinya akan dilakukan di daerah jadi bisa digunakan untuk staycation atau vacation di sekitar Jakarta saja dengan memanfaatkan fasilitas yang ada," ungkapnya.

Peluang ini pun bisa dimanfaatkan bagi pelaku ekonomi di bidang pariwisata. Misalnya dengan membuat paket tur khusus libur lebaran bagi keluarga. Sehingga rencana spending yang akan dilakukan di kampung halaman tetap bisa diwujudkan di Jakarta.

"Mungkin kita bisa garap bareng ini, bikin paket tour supaya spending yang tadinya mau dibawa ke daerah itu bisa dibelanjakan di sekitar Jakarta saja," tuturnya.

Sementara itu, Ketua BPD Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DKI Sutrisno Iwantono mengatakan pihaknya berharap bisa meningkatkan pengunjung hingga 20%. Kemungkinan ini menurutnya besar jika larangan mudik ini terjadi. Peluang juga datang dari masyarakat yang non muslim. Di momen libur panjang ini biasanya berlibur ke luar negeri dan kini hanya di Jakarta saja.

"Mudah-mudahan kita bisa meningkatkan sampai 20% lah kalau memang orang tidak mudik bisa stay di sini, kemungkinan ada signifikan juga. Karena biasanya kalau liburan Idulfitri kan teman-teman yang non muslim libur panjang dan biasanya pergi ke luar negeri. Tapi sekarang mereka tidak bisa ke luar negeri. Tentu pasti akan banyak yang stay di Jakarta," paparnya.

"Mungkin sebagian dari mereka juga masuk ke hotel-hotel. Kami harapkan hotelnya bisa tumbuh 20 atau 30% dari kondisi sebelumnya," pungkasnya. (OL-13)

Baca Juga: Polisi Bekuk Pencuri Spesialis di Kamar Pasien RS

BERITA TERKAIT