03 January 2021, 21:33 WIB

Antisipasi Klaster Liburan, Anies Perpanjang PSBB Transisi


Hilda Julaika | Megapolitan

Antara
 Antara
Arus balik pemudik

GUBERNUE DKI Jakarta Anies Baswedan kembali memperpanjang masa PSBB Transisi hingga 17 Januari.

Kebijakan untuk memperpanjang PSBB Masa Transisi ini tertuang pada Keputusan Gubernur (Kepgub) Nomor 1295 Tahun 2020. Pada perpanjangan PSBB transisi ini fokus Pemprov DKI menekan penambahan kasus yang diakibatkan libur Natal dan Tahun Baru 2021.


Berdasarkan berbagai data yang dihimpun Pemprov DKI, Anies menekankan fokus Pemprov DKI pada perpanjangan PSBB Masa Transisi kali ini, yakni meningkatkan 3T guna mengidentifikasi kasus aktif melalui testing dan tracing sekaligus secepat mungkin melakukan treatment jika ditemukan kasus positif, terlebih usai libur akhir tahun

“Berdasarkan penilaian dari BNPB maupun FKM UI, kami memutuskan untuk memperpanjang PSBB Masa Transisi hingga 17 Januari 2021. Kami di Pemerintahan akan konsisten jalankan 3T yakni testing, tracing, treatment, sedangkan masyarakat jalankan disiplin 3M, yakni mencuci tangan dengan sabun, memakai masker, serta menjaga jarak agar dampak penyebaran COVID-19 dapat kita tanggulangi bersama, terlebih setelah libur Natal dan Tahun Baru,” kata Anies dalam keterangan resminya, Minggu (3/1).

Adapun pertimbangan data-data tersebut di antaranya, persentase pertambahan total kasus aktif terkonfirmasi positif menunjukkan tren kenaikan. Per 2 Januari 2021, kasus aktif di Jakarta mencapai 15.471 kasus, meningkat 18% dari dua pekan sebelumnya yakni 13.066 kasus pada 20 Desember 2020.

Selain itu, ada incidence rate (IR) dan penambahan RW rawan yang ada di DKI Jakarta. Berdasarkan data sebelumnya RW rawan berjumlah 21 RW, per 27 Desember bertambah menjadi 55 RW. Artinya, tidak ada Kota/Kabupaten Administrasi sekaligus Kecamatan di DKI Jakarta tanpa penambahan kasus, dan hanya dua Kelurahan, yakni P. Kelapa dan P. Pari saja yang tak ada penambahan kasus.

“Peningkatan ini terjadi dengan laju IR per wilayah sebesar 19,58, pada tingkat Kecamatan rata-rata sebesar 25,43 dan Kelurahan sebesar 30,64,”kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Widyastuti, Minggu (3/1).

Selain itu, tingkat mortalitas akibat covid-19 juga terbilang mengkhawatirkan karena ada penambahan signifikan terhadap angka kematian akibat covid-19, di mana pada 20 Desember 2020 total pasien yang meninggal sebanyak 3.087 orang dan dalam kurun waktu dua pekan bertambah menjadi 3.334 orang.

Selanjutnya, Widyastuti memaparkan nilai reproduksi efektif (Rt) yang menjadi indikasi tingkat penularan di masyarakat menunjukkan skor 1,06 per 2 Januari 2021. Angka tersebut menurun dari skor pekanan sebelumnya, yaitu 1,07 (26/12) dan 1,06 (19/12). Nilai Rt harus berada di bawah 1 agar wabah covid-19 terkendali dengan baik.

Berdasarkan penilaian indikator dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Data tersebut menyebutkan DKI Jakarta berhasil memperbaiki nilai penanggulangan covid-19 menjadi risiko sedang per 27 Desember 2020. Angka ini diklaimnya membaik dari sebelumnya berada pada risiko tinggi pada 20 Desember 2020.

Secara detail, skor penilaian DKI Jakarta oleh BNPB setiap pekannya adalah 1,8025 (risiko tinggi) pada 20 Desember; 1,8275 (risiko sedang) pada 27 Desember 2020; dan 1,8475 (risiko sedang) pada 3 Januari 2021.

Adapun skor penilaian tersebut berdasarkan indikator pengendalian covid-19 dari FKM UI adalah 59 per 2 Januari 2021. Penilaian ini pun angkanya mengalami penurunan dibandingkan pekan-pekan sebelumnya. Di mana Jakarta sempat menyentuh skor 61 pada 19 dan 26 Desember. Skor di atas 60 ini artinya PSBB dapat dilakukan relaksasi atau pelonggaran di beberapa sektor melalui penilaian (assessment) secara bertahap. Jika dibawah 60, tentunya beberapa pengetatan di sektor tertentu perlu dilakukan.

Meski demikian, DKI Jakarta pun memutuskan untuk memperpanjang PSBB Transisi hingga dua pekan ke depan. (OL-8)

BERITA TERKAIT