29 March 2019, 18:45 WIB

Merasa tidak Sendiri Saat Dikunjungi


Rosmery C. Sihombing | Megapolitan

Dok Sido Muncul
 Dok Sido Muncul
Suasana Panti Jompo Tresna Budi Mulia 1, Ciracas, Jakarta Timur.

SEORANG kakek berusia sekitar 70-an tahun, tampak mondar-mandir, di luar aula Panti Jompo Tresna Budi Mulia 1, Ciracas, Jakarta Timur. Seorang pengurus panti, ibu Purba berusaha menyuruhnya masuk kembali ke aula, karena acara pemberian bantuan dari PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul, Tbk masih berlangsung.

"Kakek itu masih baru, jadi tidak betah. Sebelum di panti ini tidurnya di terminal bus Rawamangun," ujar Ibu Purba, Kamis (28/3) kemarin.

Baca juga: Ratusan Rumah di Kabupaten Bekasi Tersapu Angin Puting Beliung

Menurutnya, sang kakek yang bermarga Nainggolan itu seperti agak marah kepada Tuhan. Sang kakek yang datang dari Duri, Pekanbaru itu pernah bekerja di perusahaan minyak. Tiga anaknya satu persatu meninggal dunia sebelum menikah. Kemudian istrinya.

Kakek Nainggolan yang dipanggil opung itu pun ke Jakarta, karena masih ada adiknya. Ternyata sang adik serta istrinya pun meninggal dunia. Sementara keponakannya juga belum ada yang menikah.

"Mungkin karena tidak ada yang mengurus, mulailah dia ke luar rumah dan tidur di emperan terminal Rawamangun. Kalau teman-teman panti tanya keluarganya, selalu dijawab mati dimakan setan. Tuhan pun menurutnya sudah tidak ada, karena membiarkan keluarganya dimakan setan. jadi agak marah dengan keadaan nasib," tambah Ibu Purba.

Kakek Nainggolan adalah salah satu dari 250 orang lanjut usia (lansia) terlantar yang dibina di Panti Jompo Tresna Werdha Budi Mulia 1. Masih banyak lagi aneka cerita bagaimana para lansia itu terlantar, karena kurang diperhatikan sanak familinya. Hampir sebagian besar para lansia tersebut pun tidak pernah dikunjungi keluarga.

"Yang penting bagi para penghuni panti ini adalah kunjungan. Mereka sangat bahagia kalau dikunjungi siapapun, entah dari kelompok pengajian, gereja dan organisasi apapun. Di sini kita semua bersaudara. Dengan dikunjungi, mereka merasa tidak sendiri, mereka merasa ada yang memiliki," ujar Kepala Panti Jompo Tresna Budi Mulia 1, Ciracas, Jakarta Timur, Akmal Towe.

Menurut pria asal Makassar itu, jika ada yang melihat lansia di Jakarta terlantar segera beri tahu, pihaknya akan menjemput.

"Jangan sampai ada lansia yang terlantar, untuk hidup sehari-hari para lansia tercukupi, panti-panti milik pemda tercukupi bahkan ada tim dokter perawat yang rutin memeriksa kesehatan mereka. Tetapi masih banyak juga panti-panti lansia milik swasta yang perlu bantuan," tambah Akmal.

Dalam keseharian, kegiatan para lansia beraneka ragam. Mulai belajar angklung, bernyanyi bersama, senam dan membuat kerajinan, seperti keset, lap tangan, bando, kalung manik-manik, dan lain sebagainya.

"Keset Rp35 ribu, lap tangan Rp15 ribu. Uangnya lumayan buat nambah uang jajan mereka," ujar penjaga warung.

Di tempat yang sama, Direktur Sido Muncul Irwan Hidayat mengatakan
sumbangan yang diberikan terhadap kakek nenek tersebut sebagai bentuk perhatian perusahaannya.

"Kami ingin berbagi kebaikan dan kebahagiaan, sejalan dengan tema kami, yaitu Nothing can stand against benevolence, yang berarti tidak ada yang bisa melawan kebajikan," ungkap Irwan.

Baca juga: Ingin Naik MRT, Penumpang Bisa Naik Angkot Dari Lokasi Ini

Selain memberi sumbangan ke panti Budi Mulia, 1, bantuan juga diberikan ke 350 lansia di Panti Jompo Tresna Werdha Budi Mulia 3, Gandaria Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan. Total sumbangan terhadap 600 lansia tersebut sebanyak Rp120 juta, tiga mesin cuci dan strika uap.

Panti Jompo Tresna Werdha Budi Mulia 1 dan Mulia 3 dikhususkan untuk kakek nenek berusia 60 tahun ke atas dan merupakan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) yang terjaring satpol PP di jalanan. (OL-6)

BERITA TERKAIT