20 September 2021, 05:00 WIB

Varian Mu Varian Mengkhawatirkan?


Iqbal Mochtar Dokter dan doktor bidang kedokteran dan kesehatan, pemerhati masalah kesehatan | Kolom Pakar

MI/Seno
 MI/Seno
 

SEBUAH jenis varian covid-19 kini menyeruak menjadi pembicaraan. Namanya varian mu (B1621). Beberapa waktu lalu, WHO mendeklarasikan jenis ini sebagai variant of interest. Artinya, varian yang sementara diamati. Belum digolongkan varian yang terbukti mengkhawatirkan atau variant of concern.

Varian mu pertama kali ditemukan di Kolombia pertengahan Januari lalu. Ia berkembang cepat dan menjadi varian dominan di Kolombia. Kini, sekitar 40% kasus covid-19 di negeri tersebut disebabkan varian mu. Varian itu tidak hanya bersirkulasi di Kolombia dan Amerika Selatan, tetapi menerabas berbagai negeri lain. Dalam periode delapan bulan, varian itu telah menyebar di berbagai penjuru. Kini puluhan negeri telah tersusupi oleh varian itu, termasuk Amerika, Inggris, dan Eropa. Di Asia, virus ini telah merebak di Hong Kong dan Jepang. Di Indonesia dilaporkan belum ada. Tapi belum tentu benar-benar tidak ada.

 

Isu varian

Ketika berhadapan dengan isu varian, tiga hal yang sering menjadi concern para ahli. Pertama, apakah varian yang muncul sangat menular atau mudah menyebar? Kedua, apakah varian menimbulkan pemberatan penyakit atau perluasan kematian? Ketiga, apakah varian dapat mengganggu efektivitas vaksin yang ada?

Terkait dengan penyebaran, sejumlah ahli berhipotesis bahwa varian mu bertransmisi lebih cepat dan luas (more transmissable). Artinya, bila varian itu masuk ke suatu daerah, dengan cepat ia akan menginfeksi orang sekitar. Namun, fakta yang ada tidak sepenuhnya sinkron dengan hipotesis. Delapan bulan setelah muncul, belum ada bukti solid bahwa varian itu menyebabkan perluasan kasus dan kematian.

Di Amerika, hingga saat ini varian mu ini hanya berkontribusi 1% dari kasus covid-19. Pada tingkat global, kontribusinya hanya berkisar 0,1%. Masih sangat rendah. Bandingkan, misalnya, dengan varian delta (B16172), yang menyebar dengan cepat pada lebih 130 negara dalam periode yang hampir sama. Hanya sembilan bulan setelah munculnya varian delta di India, varian itu mendominasi kasus covid-19 di berbagai negara. Kontribusi varian delta di Inggris berkisar 99%, di Amerika 93%, dan di negara-negara Eropa di atas 90%. Di Indonesia, sekitar 80% kasus didominasi varian delta. Jadi, dari segi penularan, varian delta jauh lebih transmissable daripada varian mu.

Sebagian ahli juga menyebut varian mu dapat melemahkan antibodi yang dihasilkan vaksinasi atau pascainfeksi. Artinya, efektivitas vaksin berkurang bila berhadapan dengan varian itu. Hipotesis itu berkembang setelah sebuah penelitian kecil yang dipelopori Dr Kei Sato menemukan bahwa jika dibandingkan dengan varian lain yang ada, varian mu lebih resistan terhadap antibodi. Sayangnya, penelitian itu memiliki banyak kelemahan. Di antaranya, bahan yang digunakan ialah pseudovirus (virus buatan) dan jumlah sampelnya hanya 18 orang.

Penelitian itu juga belum dipublikasi secara standar ilmiah. Karena alasan itu, hipotesis itu dianggap masih lemah. Belum ada pembuktian solid. Bisa benar, bisa salah. Selain itu, terdapat beberapa studi laboratorium yang melaporkan bahwa varian mu dapat mendegradasi antibodi yang terbentuk pascavaksinasi dan infeksi. Namun, penelitian itu masih pada tahap laboratorium, belum didukung uji klinis pada populasi. Laporannya juga belum dikonfirmasikan lewat standar ilmiah pelaporan. Artinya, bukti ilmiahnya belum solid dan komprehensif.

Terkait dengan pelemahan vaksin itu, WHO sendiri mengeluarkan statement bahwa varian itu berpotensi mengurangi kemanjuran vaksin. Kesimpulan itu diambil berdasar studi preliminary terbatas. Karena masih laporan preliminary, WHO butuh waktu untuk konfirmasi lanjut. Karena itu, WHO mengategorikan status varian itu sebagai variant of interest, dan bukan variant of concern. Masih harus terus diamati dan dipelajari, belum confirmed.

Selain masih belum solidnya bukti mengkhawatirkan tentang varian mu, sebagian ahli juga percaya bahwa vaksin yang tersedia saat ini mampu menangkal varian mu. Alasannya, hingga kini vaksin yang tersedia masih efektif mengatasi varian yang ada, termasuk varian delta. Memang, ada penurunan kemanjuran vaksin ketika berhadapan dengan varian. Namun, secara keseluruhan vaksin masih efektif, terutama mencegah pemberatan penyakit serta kematian.

Di sisi lain, perusahaan vaksin pun terus-menerus melakukan pemantauan mutasi dan siap melakukan modifikasi vaksin bila diperlukan. Intinya, vaksin dapat dibuat lebih efektif terhadap varian. Proses modifikasi vaksin itu kadang membutuhkan waktu 1-2 bulan. Saat ini,sejumlah perusahaan vaksin telah mengembangkan modifikasi vaksin yang dapat menangkal varian delta. Bila kemudian varian mu bersporadis, modifikasi vaksin jelas akan dilakukan.

Berdasar argumen di atas, sejumlah ahli berkilah bahwa kekhawatiran terhadap varian itu tidak perlu dibesar-besarkan. Istilahnya, varian mu bukan ancaman nyata (immediate threat) saat ini. Waspada sangat perlu dan harus, tetapi kekhawatiran berlebihan, apalagi sampai menimbulkan kepanikan masyarakat, ialah hal tidak tepat. Apalagi secara teoretis, mutasi memang merupakan natural cycle of virus.

Mutasi virus ialah hal alami yang terus berlangsung. Karena itu, mutasi dan varian baru akan terus muncul. Sebagian dapat berbahaya dan sebagian tidak berbahaya. Untungnya, kebanyakan mutasi tidak berbahaya (harmless) dan hanya sedikit yang berkembang menjadi mutasi dan varian membahayakan.

 

Ancaman nyata

Menurut ahli, yang justru perlu dikhawatirkan saat ini ialah masih belum tercapainya cakupan vaksinasi yang diperlukan untuk herd immunity, atau kekebalan kelompok. Berbagai negara di dunia masih terus berjuang mencapai ambang cakupan itu. Hingga saat ini, baru belasan negara yang telah memvaksinasi 70% penduduk mereka. Kebanyakan negara ini ialah negara maju. Sementara itu, negara menengah dan berkembang, termasuk Indonesia, masih berjuang keras mencapai level itu. Sebagian negara malah tertatih-tatih karena kekurangan vaksin dan sumber daya.

Di Indonesia hingga pertengahan September, baru 28% penduduk yang mendapat dosis pertama dan 16% mendapat dosis kedua. Masih jauh dari target herd immunity 70%. Padahal, cakupan 70%, baik pada tingkat nasional maupun global, sangat diperlukan untuk meredam perluasan covid-19 dan variannya.

Keterkaitan varian baru dan cakupan vaksin sangat jelas. Pada negara yang cakupan vaksinasinya masih rendah, virus covid-19 akan terus bersirkulasi serta melakukan replikasi dan multiplikasi. Kondisi itu merupakan habitat nyaman bagi virus untuk bermutasi. Semakin tinggi sirkulasi dan multiplikasi covid-19, semakin besar kemungkinan muncul varian baru berbahaya. Sebagian ahli malah berpendapat bahwa satu-satunya cara efektif mencegah munculnya varian berbahaya ialah meningkatkan cakupan vaksinasi setinggi mungkin. Alasannya, cakupan vaksinasi berbanding terbalik dengan perkembangan varian berbahaya.

Kekhawatiran lain ialah mengendurnya program 3M (masker, mencuci tangan, menjaga jarak) dan 3T (test, trace, treat) akibat berbagai faktor. Bisa karena pandemic fatigue, euforia vaksin atau meluasnya infodemik dan covidiot.

Di Indonesia, pengendoran 3M dan 3T mulai terasa. Beberapa daerah mulai mengurangi protokol kesehatan sejalan dengan perbaikan level pandemi. Ada kesan ini merupakan relaksasi prematur. Ini perlu diwaspadai karena jebolnya 3M dan 3T dapat menjadi celah bagi varian mu untuk masuk dan berkembang di negeri ini.

Lebih jauh lagi, sebagian ahli menganggap bahwa 3M dan 3T merupakan senjata universal buat semua varian dan bukan untuk varian mu saja. A universal weapon for variants. Tidak peduli apa pun variannya, penanggulangannya mesti mengedepankan tindakan 3M dan 3T. Tentu saja, harus disinergikan dengan penatalaksanaan lain seperti vaksinasi. Sayangnya, tindakan 3M dan 3T itu sering diremehkan manfaatnya dalam menangkal varian. Mungkin orang beranggapan, ”Mana mungkin mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak bisa menangkal varian berbahaya?”

Deviasi pemahaman ini harus diperbaiki dan mesti menjadi room for improvement bagi penanganan varian. Masyarakat harus diberi kesadaran tentang peranan 3M dan 3T dalam menangkal varian. Tidak perlu menunggu modifikasi vaksin (engineering or modified vaccine). Kalau ingin menangkal varian, praktikkan 3M dan 3T dengan konsisten.

Sebuah iklan menawarkan, ”Apa pun makanannya, minumannya tetap X." Terkait degnan varian itu, kita pun bisa menawarkan, ”Apa pun variannya, penanganannya ialah mengimplementasikan 3M dan 3T.” Sederhana tapi makjleb.

BERITA TERKAIT