RUSIA mempertimbangkan untuk bergabung dengan Tiongkok dalam larangan impor makanan laut Jepang. Pertimbangan ini diambil setelah Jepang melepaskan air radioaktif dari pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima ke laut Pasifik.
Tiongkok telah memberlakukan larangan menyeluruh terhadap semua impor air dari Jepang. Oleh karena itu, Rusia sedang menjalin komunikasi dengan pihak Jepang mengenai permasalahan tersebut.
"Dengan mempertimbangkan kemungkinan risiko kontaminasi radiasi produk, Rosselkhoznadzor sedang mempertimbangkan kemungkinan bergabung dengan pembatasan Tiongkok pada pasokan produk ikan dari Jepang," kata Pengawas Keamanan Pangan Rusia Rosselkhoznadzor dalam sebuah pernyataan.
"Keputusan akhir akan dibuat setelah negosiasi dengan pihak Jepang,” sebutnya.
Baca juga: AS Jadikan Ukraina Laboratorium Pengembangan Persenjataan
Rosselkhoznadzor mengatakan bahwa pihaknya telah mengirimkan surat kepada Jepang mengenai perlunya mengadakan pembicaraan dan meminta informasi mengenai pengujian radiologi Jepang terhadap produk ikan yang diekspor pada tanggal 16 Oktober, termasuk tritium.
"Jepang akan mencermati pengumuman Rusia pada hari Selasa," kata Juru Bicara Pemerintah Jepang, Hirokazu Matsuno, pada Rabu (27/9).
Baca juga: Zelensky Minta PBB Cabut Hak Veto Rusia, Ini Jawaban Lavrov
Jepang mengatakan air itu aman setelah diolah untuk menghilangkan sebagian besar unsur radioaktif kecuali tritium, radionuklida yang sulit dipisahkan dari air. Hal ini kemudian diencerkan ke tingkat yang diterima secara internasional sebelum dirilis.
Jepang menambahkan bahwa kritikan dari Rusia dan Tiongkok tidak didukung oleh bukti ilmiah.
"Kami sangat meminta Rusia untuk bertindak berdasarkan bukti ilmiah," jelas Matsuno
Menurutnya, Rusia adalah anggota tim ahli Fukushima Badan Energi Atom Internasional (IAEA), yang pada bulan Juli memberi lampu hijau rencana pelepasan air tersebut.
Meski demikian, tahun ini Rusia sendiri telah mengimpor 118 ton makanan laut Jepang.
(CNA/Z-9)