26 September 2023, 05:55 WIB

Tragedi Penembakan di Meksiko: Petugas Polisi dan Jurnalis Tewas


Thalatie K Yani | Internasional

Freepik
 Freepik
Seorang polisi dan jurnalis tewas dalam serangan bersenjata di Meksiko.

SERANGAN bersenjata yang menargetkan sekelompok petugas polisi yang sedang tidak bertugas di Meksiko bagian barat laut telah menewaskan seorang petugas dan seorang jurnalis yang sedang berbicara dengan mereka pada saat kejadian tersebut terjadi, seperti yang diumumkan oleh otoritas pada hari Senin.

Tiga tersangka berhasil ditahan setelah penembakan yang terjadi pada malam Minggu di San Luis Rio Colorado, di negara bagian Sonora, yang berbatasan dengan Amerika Serikat, seperti yang diungkapkan oleh Wali Kota setempat, Santos Gonzalez Yescas.

Berdasarkan informasi dari kantor jaksa wilayah Sonora, petugas polisi menjadi target serangan senjata saat mereka sedang berbicara dengan jurnalis Jesus Gutierrez Vergara dari situs berita Notiface.

Baca juga: Perbatasan Amerika Serikat-Meksiko Alami Lonjakan Kedatangan Pengungsi dan Migran

Akibat serangan tersebut, tiga petugas mengalami luka-luka, satu di antaranya meninggal bersama dengan Gutierrez Vergara. Jaksa mendeskripsikan kematian Gutierrez Vergara sebagai kerugian yang tidak terduga.

Menurut kelompok hak media Reporters Without Borders (RSF), sejauh ini setidaknya sudah empat jurnalis lain yang tewas di Meksiko tahun ini.

Baca juga: Bos Mafia Italia Messina Denaro Meninggal Dunia di Masa Penahanan

Otoritas saat ini tengah melakukan penyelidikan untuk mengungkap apakah kematian mereka terkait dengan pekerjaan mereka sebagai jurnalis.

Meksiko dikenal sebagai salah satu negara yang paling berbahaya bagi para wartawan. Menurut data RSF, sejak 2000, sudah lebih dari 150 jurnalis yang tewas di negara ini. Sayangnya, sebagian besar kasus kejahatan terhadap wartawan di Meksiko tidak pernah mendapatkan hukuman yang layak.

Selama lebih dari satu dekade, Meksiko telah mengalami lebih dari 420.000 kematian akibat kekerasan yang melibatkan pemberantasan kartel narkoba oleh pemerintah dengan melibatkan angkatan bersenjata pada tahun 2006. (AFP/Z-3)

BERITA TERKAIT