25 September 2023, 15:10 WIB

Uni Eropa Keluhkan Bisnis Dagang dengan Tiongkok


Ferdian Ananda Majni | Internasional

Ist
 Ist
Bisnis di Tiongkok bikin negara Uni Eropa Ketar Ketir

UNI Eropa menyampaikan bahwa undang-undang keamanan yang ketat dan lingkungan bisnis yang lebih dipolitisasi telah membuat perusahaan-perusahaan Eropa berjuang untuk memahami kewajiban mereka. Mereka juga mempertanyakan masa depan bisnis mereka di Tiongkok.

Penolakan untuk mengecam sekutunya, Rusia atas perangnya di Ukraina juga menimbulkan risiko reputasi bagi Tiongkok.

Komisioner Eropa untuk Perdagangan Valdis Dombrovskis menyebut bahwa transparansi dan keterbukaan adalah strategi kemenangan dalam jangka panjang di saat ketegangan perdagangan antara blok Eropa dan Tiongkok meningkat.

Baca juga: Sukses Pameran di Tiongkok, Peruri Komit Terus Bina UMKM di Tanah Air

"Tiongkok sedang menavigasi transisi yang menantang dari ekonomi yang dipimpin oleh investasi ke ekonomi berbasis luas,” kata Dombrovskis dalam sebuah pidato di Universitas Tsinghua, Beijing.

"Untuk itu, pasar harus tetap terbuka,” tambahnya.

Baca juga: Tiongkok bakal Garap Proyek Kereta Cepat Jakarta-Surabaya

Lawatan Dombrovskis selama empat hari itu, mengikuti laporan Kamar Dagang Uni Eropa yang menunjukkan kepercayaan bisnis berada pada salah satu level terendah dalam beberapa tahun terakhir.

Hal ini juga mengikuti keputusan Brussels untuk meluncurkan penyelidikan terhadap subsidi mobil listrik Beijing.

Penyelidikan ini dapat membuat Uni Eropa mencoba melindungi produsen mobil Eropa, mereka memberlakukan tarif hukuman pada kendaraan yang diyakini secara tidak adil dijual dengan harga yang lebih rendah.

Kementerian perdagangan Tiongkok telah mengecam proteksionisme telanjang Uni Eropa. Mereka menyebut langkah-langkah tersebut akan berdampak negatif pada hubungan ekonomi dan perdagangan Tiongkok-Uni Eropa.

Pada Senin (25/9) Dombrovskis menegaskan bahwa Tiongkok tetap merupakan peluang investasi yang menarik bagi bisnis Eropa.

"Uni Eropa dan Tiongkok sama-sama diuntungkan dengan menjadi terbuka terhadap dunia,” katanya.

Dia menambahkan bahwa perusahaan-perusahaan Eropa masih ingin berinvestasi di sini, tetapi hanya jika kondisinya tepat.

"Tantangan yang semakin besar bagi bisnis Eropa di Tiongkok berarti bahwa apa yang dilihat oleh banyak orang sebagai hubungan 'menang-menang' dalam beberapa dekade terakhir dapat menjadi dinamika 'kalah-kalah' di tahun-tahun mendatang," kata komisaris tersebut.

Undang-undang hubungan luar negeri baru yang ditujukan, sebagian, untuk memerangi sanksi-sanksi asing dan pembaruan terhadap peraturan anti-spionase Tiongkok yang keras merupakan perhatian besar bagi komunitas bisnis kami,” lanjut Dombrovskis.

"Ambiguitas peraturan ini memberikan terlalu banyak ruang untuk interpretasi,” tegasnya.

Dia menambahkani perusahaan-perusahaan Eropa kesulitan untuk memahami kewajiban kepatuhan mereka, di mana sebuah faktor yang secara signifikan mengurangi kepercayaan bisnis dan menghalangi investasi baru di Tiongkok.

Ia juga mengkritik penolakan Tiongkok untuk mengutuk perang Rusia di Ukraina. Kondisi itu juga mempengaruhi citra negara ini, tidak hanya dengan konsumen Eropa, tetapi juga dengan para pelaku bisnis.

Tiongkok telah berusaha memposisikan diri sebagai pihak netral dalam konflik Ukraina, sambil menawarkan Moskow jalur diplomatik dan finansial yang vital karena isolasi internasionalnya semakin dalam.

Presiden Tiongkok Xi Jinping mengunjungi Moskow pada bulan Maret. Sementara pemimpin Rusia Vladimir Putin akan mengunjungi Tiongkok bulan depan.

"Integritas teritorial selalu menjadi prinsip utama bagi Tiongkok dalam diplomasi internasional. Perang Rusia merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap prinsip ini," kata Dombrovskis.

"Jadi sangat sulit bagi kami untuk memahami sikap Cina terhadap perang Rusia melawan Ukraina, karena hal itu melanggar prinsip-prinsip fundamental Tiongkok sendiri,” pungkasnya. (Z-10)

BERITA TERKAIT