09 December 2022, 10:08 WIB

Riset Mahasiswa UKI Ungkap 2/3 Populasi Anak-anak di Ukraina Berada di Pengungsian Negara Tetangga


Mediaindonesia.com | Internasional

Dok. Pribadi
 Dok. Pribadi
Ilustrasi pengungsi anak-anak akibat perang Rusia-Ukraina

INVASI Rusia ke Ukraina yang dimulai pada 2 Februari 2022 lalu membawa dampak besar terhadap dunia. Usai Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan serangan ke beberapa kota di Ukraina diantaranya Kiev, Odessa, Kharkiv dan Mariupol. Hingga saat ini perang terus berkecamuk.

Awalnya Rusia dan Ukraina berada dalam federasi Uni Soviet hingga bubar pada 1990, pascakeruntuhan Uni Soviet d 1991 maka Pakta Warsawa dibubarkan dan banyak negara melakukan referendum untuk merdeka. Usai merdeka, hubungan Rusia-Ukraina dilanjutkan dengan membentuk Commonwealth of Independent States (CIS) bentukan Rusia, Ukraina dan Belarusia.

Namun rencana Ukraina untuk bergabung dengan Uni Eropa dan NATO membuat hubungan semakin buruk. Ini merupakan titik terendah hubungan Rusia dengan Ukraina, setelah sebelumnya Rusia mencaplok wilayah Krimea yang merupakan jalur pelayaran penting bagi Ukraina. Masalahnya, perang yang terjadi ini membuat banyak masalah, tidak hanya bagi korban perang tetapi seluruh dunia.

Untuk memotret lebih dalam terkait dengan bantuan korban Perang Ukraina, Mahasiswa Universitas Kristen Indonesia (UKI) jurusan Hubungan Internasional angkatan 2021. diantaranya Lintang Wahyu, Aldilla Purba, Mike Mandagie, Kezia Viola, Antoneta Eveline dan Nangdua Debora melakukan penelitian dan kajian mendalam mengenai hal ini. 

Berdasarkan temuan terbaru sekitar dua pertiga populasi anak-anak Ukraina kini tengah mencari tempat pengungsian di negara tetangga Ukraina.

“Anak-anak terbunuh, terluka, dan sangat trauma dengan kekerasan destruktif di sekitar mereka. Dengan perang berkecamuk antara Rusia dan Ukraina, keluarga korban Ukraina sangat membutuhkan keselamatan dan perlindungan,” ungkap hasil penelitian itu.

Baca juga : Putin: Rusia Enggan Pakai Senjata Nuklir, kecuali Terdesak

United Nations International Children’s Emergency Fund (UNICEF) yang berada di garis depan dalam pelaksanaan bantuan kemanusiaan pun terus didorong semakin berperan. Mulai bantuan makanan pokok dan air bersih, layanan kesehatan dan perlindungan anak hingga Blue Dot Safe Spaces untuk membangun fasilitas keamanan di Moldova, Rumania, Belarusia, Slovakia, Polandia, Hungaria dan Republik Ceko untuk memberikan informasi bagi keluarga pengungsi yang kehilangan anggota keluarganya.

“Hasil temuan kami, UNICEF mengerahkan bantuan dan bekerjasama dengan organisasi lain seperti UNHCR dalam memberikan bantuan,” lanjutnya.

Penelitian Studi Perdamaian dan Keamanan itu dilakukan berbasis pada data-data yang dikemukakan UNICEF untuk bantuan terhadap korban perang Ukraina. Saat ini, belum banyak LSM dan Organisasi Kemanusiaan yang langsung bisa mengakses jalur ke zona perang. Apalagi persoalan yang terjadi sekarang adalah banyaknya pengungsi anak-anak yang keluar dari Ukraina untuk mendapatkan keamanan.

“Faktanya masyarakat, keluarga dan anak-anak Ukraina yang bukan merupakan aktor dalam permasalahan politik ini pun jadi terkena imbasnya,” lanjutnya.

Berdasarkan laporan Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (UNHCR) sampai dengan 28 Agustus 2022 jumlah warga sipil yang meninggal mencapai 5.663 orang dengan korban luka 8.055 orang. Sebanyak 18 juta warga Ukraina atau setara 40% populasi Ukraina membutuhkan bantuan kemanusiaan. (RO/OL-7)

BERITA TERKAIT