20 November 2022, 12:10 WIB

Miliki Twitter, Elon Musk Pulihkan Akun Donald Trump


Cahya Mulyana | Internasional

AFP/Olivier Douliery.
 AFP/Olivier Douliery.
Akun Twitter Presiden AS Donald Trump ditampilkan di ponsel di Arlington, Virginia.

AKUN Twitter mantan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, telah pulih. Keputusan ini merupakan bagian dari kebijakan Elon Musk usai mengakuisisi plaftom media sosial ini senilai US$44miliar.

Akun Twitter Trump dibekukan awal tahun lalu karena perannya dalam serangan 6 Januari di Capitol AS oleh massa pendukungnya yang berusaha membatalkan hasil pemilu 2020. "Orang-orang telah berbicara. (Akun) Trump akan dipulihkan," kicau Musk di Twitter.

Menurut dia, keputusan itu mengacu pada hasil jajak pendapat yang berlangsung 24 jam di akunnya. Lebih dari 15 juta orang dari 237 juta atau sekitar 51,8% mendukung dan 48,2% menentang pemulihan akun Trump.

Pemimpin Partai Republik mencalonkan sebagai calon presiden AS pada 2024 itu memiliki lebih dari 88 juta pengikut. "Vox Populi, Vox Dei (suara rakyat adalah suara Tuhan)," tambahnya.

"Selamat datang kembali, @realdonaldtrump!," ungkap anggota DPR Republik Paul Gosar dalam akun Twitter-nya. 

Musk sempat menggunakan jajak pendapat untuk menentukan penjualan saham perusahaan mobil listriknya, Tesla. Kala itu pengikut jajak pendapat lebih banyak mendukung pelepasan saham.

Hasilnya digunakan Musk untuk menjual lebih dari US$1 miliar saham Tesla. Menanggapi keputusan Musk, Trump menghormatinya tetapi tidak akan kembali menggunakan akun twitter dan lebih memilih Truth Social.

"Saya suka dia (Musk). Anda tahu, dia berkarakter dan sekali lagi, saya suka karakter. Dia memang membuat jajak pendapat dan itu sangat luar biasa. Namun saya punya sesuatu yang disebut Truth Social. Saya tidak melihatnya karena saya tidak melihat alasan untuk itu (kembali menggunakan Twitter)," papar Trump.

Musk, juga CEO Tesla dan SpaceX, mendapat kecaman karena perubahan radikal di Twitter yang berbasis di California, yang dia beli kurang dari sebulan lalu seharga US$44 miliar. Sejak itu, dia memecat setengah dari 7.500 staf di twitter, menghapus kebijakan kerja dari rumah, dan memberlakukan jam kerja yang panjang. (AFP/OL-14)

BERITA TERKAIT