06 September 2022, 15:49 WIB

Erdogan Salahkan Krisis Energi Eropa pada Sanksi Rusia


Mediaindonesia.com | Internasional

AFP/Adem Altan.
 AFP/Adem Altan.
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

PRESIDEN Turki Recep Tayyip Erdogan pada Selasa (6/9) menyalahkan krisis energi Eropa pada sanksi yang dijatuhkan kepada Rusia atas invasi ke Ukraina. Ini pun pendapat yang diambil oleh Kremlin sendiri.

Erdogan mempertahankan hubungan kerja yang baik dengan Presiden Rusia Vladimir Putin ketika mencoba untuk tetap netral dalam konflik serta memasok Ukraina dengan senjata Turki dan pesawat tak berawak. Dia mengatakan kepada wartawan sebelum berangkat ke tiga negara melalui Balkan bahwa negara-negara Eropa memanen yang mereka tabur dengan memberlakukan pembatasan ekonomi di Rusia.

"Sikap Eropa terhadap Putin, sanksinya, membuat Putin--dengan sukarela atau tidak--sampai pada titik mengatakan, 'Jika Anda melakukan ini, saya akan melakukan itu,'" kata Erdogan. "Dia menggunakan segala cara dan senjatanya. Sayangnya, gas alam ialah salah satunya."

Komentar Erdogan menggemakan yang diungkapkan oleh Kremlin minggu ini. Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov pada Senin menyalahkan penghentian pengiriman gas Rusia ke Jerman melalui pipa Nord Stream pada sanksi yang dikenakan terhadap negaranya.

Baca juga: AS dan Sekutu Latihan Pengeboman di Timur Tengah

Rusia menyumbang hampir setengah dari pembelian gas alam Turki sendiri tahun lalu. Turki berjanji untuk secara perlahan beralih membayar impor Rusia dengan rubel pada pertemuan puncak antara Erdogan dan Putin di Sochi awal bulan ini.

Analis percaya kesepakatan itu akan memastikan bahwa Rusia akan terus memasok Turki dengan gas melalui pipa TurkStream yang berjalan di bawah Laut Hitam. Erdogan mengatakan dia tidak mengharapkan Turki mengalami kekurangan energi tahun ini.

"Saya pikir Eropa akan memiliki masalah serius musim dingin ini," kata Erdogan. "Kami tidak memiliki situasi seperti itu." Lonjakan harga energi global yang disebabkan oleh gangguan pasokan Rusia telah memicu krisis ekonomi di Turki yang menyebabkan inflasi tahunan melonjak hingga 80% dan nilai lira jatuh. (AFP/OL-14)

BERITA TERKAIT