20 August 2022, 11:53 WIB

Putin Setuju PLTN Zaporizhzhia Dikunjungi IAEA


Cahya Mulyana | Internasional

Yuri KADOBNOV / AFP
 Yuri KADOBNOV / AFP
PRESIDEN Rusia Vladimir Putin

Presiden Rusia, Vladimir Putin, mengizinkan kunjungan tim inspektur independen PBB ke pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Zaporizhzhia. Alasannya Moskow enggan dijadikan kambing hitam jika fasilitas tersebut bocor.

"Putin mempertimbangkan kembali permintaan agar Badan Energi Atom Internasional (IAEA) melakukan perjalanan melalui Rusia ke lokasi tersebut, setelah pemimpin Rusia itu sendiri memperingatkan pertempuran di sana dapat menyebabkan malapetaka," kata kantor Presiden Prancis Emmanuel Macron.

Persetujuan Putin tersebut sekaligus mengizinkan tim investigasi mendatangi PLTN Zaporizhzhia melalui Ukraina. Sebelumnya ia meminta tim tersebut menggunakan jalur Rusia.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, mendesak pasukan Moskow yang menduduki PLTN Zaporizhzhia di Ukraina selatan untuk tidak memutuskan listrik. Sebab dampaknya akan membuat jutaan Ukraina hidup tanpa energi listrik.

Gejolak dalam pertempuran di sekitar pabrik Zaporizhzhia dengan kedua belah pihak saling menyalahkan atas serangan telah meningkatkan potensi bencana yang lebih buruk daripada di Chernobyl.

Kremlin mengatakan dalam sebuah pernyataan sebelumnya bahwa Putin dan Macron sepakat mengizinkan pengawas nuklir PBB melakukan inspeksi. Itu untuk menilai situasi sebenarnya di lapangan.

Putin juga menekankan bahwa penembakan sistematis oleh militer Ukraina di wilayah pembangkit listrik tenaga nuklir Zaporizhzhia menciptakan bahaya bencana skala besar.

Beberapa jam setelah berbicara dengan Putin, Macron menuduh pemimpin Rusia itu meluncurkan serangan brutal ke Ukraina dalam pelanggaran imperialis terhadap hukum internasional. Macron, yang gagal mencegah invasi dan semakin kritis terhadap aksi yang dilakukan Rusia.

“Sejak Vladimir Putin melancarkan serangan brutalnya ke Ukraina, perang telah kembali ke tanah Eropa, beberapa jam dari kita,” kata Macron dalam pidato memperingati 78 tahun pendaratan Sekutu di Prancis selatan yang diduduki Nazi selama Perang Dunia II.

Macron mengatakan Putin berusaha memaksakan kehendak imperialis di Eropa, menyulap hantu semangat balas dendam dalam pelanggaran mencolok terhadap integritas negara.

Peringatan potensi bencana nuklir mencuat sehari setelah pemimpin Turki, Recep Tayyip Erdogan dan Guterres, bertemu di kota Lviv, Ukraina timur. Sementara pertempuran pasukan Rusia dan Ukraina semakin intensif.

"Kami khawatir. Kami tidak menginginkan Chernobyl lagi," kata Erdogan.

Ia mengacu pada bencana nuklir Chernobyl pada 1986. Sementara Guterres memperingatkan kerusakan pada PLTN Zaporizhzhia akan sama dengan bunuh diri. “Jelas, listrik dari Zaporizhzhia adalah listrik Ukraina. Prinsip ini harus dihormati sepenuhnya. Secara alami, energinya harus digunakan oleh rakyat Ukraina.”

Moskow mengatakan Kyiv sedang mempersiapkan provokasi di situs yang akan membuat Rusia dituduh membuat bencana buatan manusia di PLTN itu. (Aljazeera/OL-12)

BERITA TERKAIT