14 August 2022, 04:45 WIB

Salman Rushdie dan Karyanya yang Kontroversial


Mesakh Ananta Dachi | Internasional

AFP/JOEL SAGET
 AFP/JOEL SAGET
Penulis Salman Rushdie

SALMAN Rushdie, penulis kontroversial asal India, menjadi korban penusukan di sebuah gelar wicara di Chautauqua, New York, Jumat (12/8). Pelaku diidentifikasi polisi sebagai Hadi Matar, 24, asal New Jersey. Hingga kini, motivasi penyerangan belum dapat diidentifikasi, beber polisi setempat.

Bukan hanya Salman yang menjadi korban dalam insiden tersebut, moderator acara, Henry Reese, 73, juga mengalami luka di bagian wajahnya, yang berasal dari pisau pelaku. Namun, Henry dikabarkan sudah pulih dan telah meninggalkan rumah sakit.

Rushdie, keturunan India beragama Islam, yang memproklamirkan dirinya sebagai “Ateis garis keras”, menjadi terkenal setelah penerbitan bukunya berjudul The Satanic Verse, yang diterbitkan pertama kali pada September 1988.

Baca juga: Pelaku Penusukan Salman Rushdie Ditangkap

Novelnya menjadi sangat terkenal, bahkan di tahun yang sama, Rushdie berhasil memenangkan Penghargaan Whitebread sebagai novel terbaik tahun itu, di Inggris.

Namun, novel Salman mendapat kecaman di negara negara mayoritas Muslim, seperti Pakistan, dan Iran. 

The Satanic Verse dianggap menghina Nabi Muhammad dan istrinya. India menjadi negara pertama yang melarang penjualan novel tersebut, lalu disusul Pakistan, pada November 1988.

Selain mendapat kecaman, umat muslim juga mengaungkan protes besar besaran. Pada Februari 1989, 10.000 orang melangsungkan protes di Islamabad, Pakistan, di Pusat kultur Amerika Serikat, di Kedutaan Inggris di Pakistan, di pusat kota Paris, dan juga di London.

Protes besar-besaran ini kemudian, direspon oleh pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ruhollah Khomeini, pada 1989, berupa fatwa bagi umat Muslim untuk membunuh Rushdie. 

Kondisi itu membuat Rushdie menyembunyikan keberadaannya selama bertahun tahun dan selalu membawa penjaga pribadi kemana pun dia berada, ungkap The Washington Post.

Kolega Salman yang bekerja menjadi penerjemah bukunya juga menjadi korban penyerangan. Hitoshi Igarashi, asal Jepang, terbunuh pada 13 Juli 1991. 

Selain itu, Ettore Capriole, penerjemah novel asal Italia juga menjadi korban penyerangan, 10 hari pascakematian Hitoshi. Ettore selamat dari penyerangan tersebut.

Pada 2016, suksesor dari Ayatollah Ruhollah Khomeini, Ali Khamenei, mengatakan fatwa untuk membunuh Salman masih berlaku, karena yang bisa mencabut fatwa tersebut hanya yang memberikannya. 

Pada 2016, media negara Iran, membuat sebuah sayembara, bagi siapa yang bisa membunuh Salman akan diberi hadiah sebesar US$3 juta atau dengan kurs saat ini adalah Rp43 miliar. (OL-1)

BERITA TERKAIT