09 August 2022, 22:53 WIB

UE Serahkan Teks Final Kesepakatan Nuklir, Respons AS dan Iran Ditunggu


Mediaindonesia.com | Internasional

AFP/Tang Chhin Sothy.
 AFP/Tang Chhin Sothy.
Josep Borrell.

UNI Eropa mengatakan Selasa (9/8) bahwa mereka mengharapkan Teheran dan Washington untuk sangat cepat menanggapi teks final yang bertujuan menyelamatkan kesepakatan 2015. Kesepakatan ini untuk mengekang program nuklir Iran.

"Tidak ada lagi ruang untuk negosiasi," kata juru bicara kebijakan luar negeri blok itu, Peter Stano, kepada wartawan di Brussels. "Kami memiliki teks akhir. Jadi inilah saatnya untuk mengambil keputusan: ya atau tidak. Dan kami berharap semua peserta mengambil keputusan ini dengan sangat cepat."

Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Josep Borrell, yang menjabat sebagai koordinator negosiasi, mengatakan pada Senin bahwa teks tersebut telah diserahkan kepada negara yang terlibat untuk membuat keputusan politik tentang akan menerimanya atau tidak. Iran mengatakan sedang mempelajari teks setebal 25 halaman itu.

Inggris, Tiongkok, Prancis, Jerman, Iran, dan Rusia, serta Amerika Serikat secara tidak langsung, melanjutkan pembicaraan tentang masalah itu minggu lalu, setelah jeda selama berbulan-bulan. Negosiasi yang dikoordinasikan UE untuk menghidupkan kembali JCPOA dimulai pada April 2021 sebelum terhenti pada Maret.

Kesepakatan 2015 memberi Iran keringanan sanksi dengan imbalan pembatasan program atomnya untuk menjamin Teheran tidak dapat mengembangkan senjata nuklir, sesuatu yang selalu disangkal ingin dilakukan. Namun penarikan sepihak Amerika Serikat dari kesepakatan di bawah presiden Donald Trump pada 2018 dan penerapan kembali sanksi ekonomi yang menggigit mendorong Iran untuk mulai membatalkan komitmennya sendiri.

Pengawas atom PBB, Badan Energi Atom Internasional (IAEA), telah menemukan jejak uranium yang diperkaya di tiga situs Iran yang tidak diumumkan. Dewan gubernur badan tersebut pada Juni mengecam Iran karena tidak cukup menjelaskan penemuan itu.

Sumber-sumber Iran pada akhir pekan berkeras bahwa IAEA pertama kali menyelesaikan sepenuhnya masalah politik itu untuk membuka jalan bagi kesepakatan nuklir dipulihkan. Iran sebelumnya berusaha keras atas permintaan agar Pengawal Revolusinya dihapus dari daftar hitam teroris AS, tetapi membatalkannya setelah Washington menolak. (AFP/OL-14)

BERITA TERKAIT