09 August 2022, 21:36 WIB

Orangtua Gaza Berduka atas Anak yang Tewas Diserang Israel


Mediaindonesia.com | Internasional

AFP/Mahmud Hams.
 AFP/Mahmud Hams.
Rasha Qadoom duduk di samping anaknya yang terluka, Rayed, di dekat foto putrinya yang berusia lima tahun, Alaa, yang tewas..

IBU Palestina, Rasha Qadoom, mencengkeram erat ransel merah muda kecil milik putrinya yang berusia lima tahun, Alaa. Tas itu yang tidak akan pernah lagi digendong di punggung kecilnya.

Alaa ialah anak pertama dari 16 anak yang tewas dalam tiga hari konflik intens antara Israel dan gerilyawan Jihad Islam di daerah kantong Palestina yang padat penduduknya di Gaza. "Itu hari Jumat seperti hari-hari lain," kata Qadoom, 27, mengingat saat Alaa mengenakan T-shirt merah muda untuk mencocokkan tas merah mudanya dengan pita merah muda yang diikatkan di rambutnya.

"Dia senang. Dia ingin pergi ke taman bersama bibinya." Namun saat dia pergi ke bibinya pada Jumat (5/8) sore, Israel melancarkan pengeboman preemptif yang intens terhadap posisi militan.

Alaa sedang mengetuk pintu rumah bibinya ketika rudal jatuh dari langit. Kemudian pada hari itu--beberapa jam setelah Alaa terbunuh--gerilyawan mulai menembakkan rentetan roket sebagai pembalasan. Kekerasan pun berkecamuk sampai gencatan senjata yang lemah mulai berlaku Minggu malam.

Pakaian penuh darah

Di tangannya, Qadoom memegang kain T-shirt Alaa yang bernoda darah. Ia tidak dapat memahami alasan putrinya meninggal.

"Tidak ada yang bersenjata di lingkungan itu. Alih-alih pergi bermain di taman, dia kembali kepada saya dengan pakaian penuh darah," katanya.

"Apa gunanya perang ini?" dia bertanya. "Kami kehilangan anak-anak. Semua mimpinya ada di tas sekolah dan buku catatan."

Serangan udara dan artileri Israel menargetkan posisi kelompok Jihad Islam yang didukung Iran. Kementerian Kesehatan di wilayah Palestina yang dijalankan oleh kelompok Islam Hamas mengatakan 46 orang tewas, termasuk 16 anak-anak. 

Setelah serangan di mana Alaa tewas, tentara Israel mengatakan mereka menargetkan anggota Jihad Islam yang beroperasi di daerah tersebut. Israel juga mengatakan bahwa beberapa kematian warga sipil yang tercatat dalam korban Palestina merupakan akibat dari roket militan yang gagal atau salah tembak.

Di tempat lain di Kota Gaza, beberapa blok dari Laut Mediterania di lingkungan dengan permukiman padat, rumah Shamalagh diledakkan. Hanya lubang menganga yang tersisa. Mencuat dari lempengan beton yang hancur ialah sisa-sisa kehidupan masyarakat seperti lemari es baru, sofa yang dihancurkan berton-ton beton, boneka binatang. 

Puluhan potongan kertas dari buku teks bahasa Inggris tergeletak di tanah. Satu halaman, pelajaran yang berfokus pada kota tepi laut Inggris St Ives, menetapkan tugas untuk anak-anak sekolah di daerah kantong yang diblokade, "Pikirkan lokasi ideal Anda untuk liburan." Bangunan yang hancur itu pernah menjadi rumah bagi 17 orang, termasuk anak-anak, yang hanya diberi peringatan 30 menit untuk pergi oleh Israel sebelum serangan udara yang menghancurkan melanda. 

Duduk di samping reruntuhan rumahnya, Nadia Shamalagh yang berusia 70 tahun mengatakan bahwa, bahkan setelah gencatan senjata yang ditengahi Mesir dimulai Minggu malam, dia berjuang untuk beristirahat. "Saya tidak bisa tidur. Saya menatap langit-langit dan berpikir, 'Mereka (Israel) akan menyerang'," katanya.

"Semua orang takut. Anak-anak tidak bisa berhenti menangis."

Tragedi

Shamalagh mengatakan mereka tidak ada hubungannya dengan kelompok politik atau militan Palestina. "Mereka tidak terkait dengan Hamas, Fatah, atau Jihad Islam," katanya.

Di Gaza, biaya perang terhadap anak-anak tidak hanya kepada mereka yang terbunuh atau terluka tetapi berdampak pada semua. Konflik tersebut merupakan kekerasan terburuk di Gaza sejak perang 11 hari antara Israel dan kelompok bersenjata Palestina pada Mei 2021, ketika 66 anak tewas di Gaza dan 2 di Israel.

Baca juga: 30 Warga Palestina Terluka saat Israel Lancarkan Serangan Lagi

Pada Juni, Save the Children memperingatkan dalam laporan tentang dampaknya terhadap kaum muda sejak konflik meningkat dengan Israel pada 2007 setelah kelompok Islam Hamas mengambil kendali di Gaza. "Selama waktu ini, masa kecil mereka telah dirusak oleh lima eskalasi kekerasan dan satu setengah dekade blokade," kata badan bantuan itu. "Mereka telah berulang kali mengalami atau menyaksikan peristiwa traumatis dan pelanggaran serius terhadap hak-hak mereka."

Dalam kelelahannya, Shamalagh hanya mengulangi satu kalimat, berulang-ulang. "Apa hidup ini?" dia berkata. "Apakah kita akan terus menjalani tragedi ini?"

Di belakangnya, dua gadis telah menyeret sebatang kayu keluar dari reruntuhan dan meletakkannya di atas balok beton. Mereka duduk di kedua sisi dan mengayun-ayunkan jungkat-jungkit darurat. (AFP/OL-14)

BERITA TERKAIT