03 August 2022, 14:39 WIB

Kondisi Geopolitik Tentukan Stabilitas Ekonomi Dunia


M. Ilham Ramadhan Avisena | Internasional

MI/Andri Widiyanto
 MI/Andri Widiyanto
Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia (UI) Hikmahanto Juwana.

GURU Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia (UI) Hikmahanto Juwana mengungkapkan, stabilitas ekonomi bakal sulit terwujud tanpa adanya stabilitas dalam geopolitik dunia. Aksi-aksi provokatif yang tak perlu menurutnya hanya memperparah keterpurukan kondisi global.

"Masalah geopolitik ini harus diselesaikan, kalau tidak perekonomian akan tetap terganggu," ujarnya dalam Mid Year Economic Outlook 2022 ke-2 bertema Prospek Pemulihan Ekonomi Indonesia di Tengah Perubahan Geopolitik Pascapandemi, Rabu (3/8).

Hikmahanto menilai, salah satu sumber kekacauan dunia yang terjadi saat ini disebabkan oleh berbagai tindakan dan kebijakan provokatif yang diambil oleh Amerika Serikat.'Negeri Paman Sam' dituding menjadi dalang pecahnya perang antara Rusia dengan Ukraina.

Pasalnya, AS kala itu menyatakan akan mendukung penuh keinginan Ukraina untuk bergabung dengan NATO. Saat perang pecah pun, kata Hikmahanto, Negeri Paman Sam kerap memberikan dana dan persenjataan kepada Ukraina.

"AS dan sekutu menjadikan Ukraina sebagai medan perang, karena senjata dari mereka, uang dari mereka, tapi yang harus memikul senjata dan mati adalah rakyat Ukraina," kata Hikmahanto.

Baac juga: Rusia Tuduh Amerika Terlibat Langsung dalam Konflik di Ukraina

Belum usai kegaduhan akibat perang Rusia dan Ukraina. AS kembali melakukan aksi provokatif terhadap Tiongkok. Sebabnya adalah kunjungan yang dilakukan oleh Ketua Dewan Perwakilan Rakyat AS Nancy Pelosi ke Taiwan.

Dalihnya, kunjungan Pelosi itu demi menghormati dan menjunjung hak asasi manusia rakyat Taiwan yang ingin merdeka.

Namun Hikmahanto menilai langkah itu sebagai tindakan provokatif yang dapat memperburuk keadaan lantaran terlalu ikut campur kebijakan domestik negara lain.

"Menurut saya, salah satu sumber masalahnya berdasarkan patern yang ada adalah di Amerika Serikat. Kebijakan atau langkah yang mereka ambil itu tidak kondusif bagi stabilitas dan perekonomian dunia yang sedang mengalami stagflasi," jelasnya.

AS mestinya tak berlagak bak hakim yang dapat menentukan mana hal yang benar dan tidak benar. Kepentingan dari aksi provokatif itu menurut Hikmahanto terlihat dengan benderang.

Washington D.C dinilai memiliki standar ganda yang absurd. "Ini harus dipahamai, tindakan (AS) ini harus diakhiri, AS bukan hakim yang bisa menentukan mana yang benar dan salah," tambah Hikmahanto.

Dia mengkhawatirkan Tiongkok mengambil langkah special military operation akibat aksi Negeri Paman Sam. Hal itu pula yang terjadi antara Rusia dan Ukraina kala urusan domestiknya diintervensi oleh AS.

Bila Beijing melalukan aksi militer, kata Hikmahanto, maka Indonesia bakal terdampak karena adanya potensi perang.

"Kalau ini terjadi, maka kawasan kita akan terdampak luar biasa. Kawasan ktia akan bergejolak dan bisnis tidak bisa tenang, ini semua gara-gara AS. Memang dia tidak memuntahkan peluru, tapi provokasi yang dia buat menyebabkan negara lain memuntahkan peluru," pungkasnya. (Mir/OL-09)

BERITA TERKAIT