30 June 2022, 17:47 WIB

Pakar: Jokowi Bisa Jadi Juru Damai Rusia-Ukraina


Cahya Mulyana | Internasional

AFP
 AFP
Presiden Jokowi berjabat tangan dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.

PAKAR hubungan internasional dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Faris Al-Fadhat, mengapresiasi upaya Presiden Joko Widodo untuk mendamaikan Rusia dengan Ukraina. 

Namun, untuk menghentikan perang yang sudah berlangsung sejak 24 Februari, dibutuhkan strategi dan energi tambahan.

"Pertemuan Presiden Jokowi dengan (Presiden Ukraina) Volodymyr Zelenskyy perlu diapresiasi. Namun hal tersebut tidak akan berpengaruh banyak pada upaya damai Ukraina-Rusia," tuturnya saat dihubungi, Kamis (30/6).

Menurutnya, kehadiran Jokowi di Kyiv sangat penting bagi Ukraina. Akan tetapi, kedatangan Jokowi tidak akan mengubah apapun terkait konflik, karena kendali berada di tangan Rusia.

Baca juga: Presiden Bertolak ke Moskow dari Polandia

Faris menilai kunjungan Jokowi ke Ukraina dan pertemuan dengan Zelenskyy, justru dapat dimaknai bagian kepentingan politik dan ekonomi Indonesia. Khususnya dalam dua hal, yakni pertama sebagai upaya diplomasi dalam memperkuat sikap Indonesia menjaga perdamaian dunia.

Lalu kedua, langkah Jokowi dapat dimaknai sebagai upaya pemerintah untuk memperkuat kepemimpinan dan peran Indonesia di kancah internasional. Posisi Indonesia sebagai Presidensi G20 sangat strategis. Bagi pemerintah, hal ini perlu dimaksimalkan atau dikapitalisasi.

"Kunjungan Jokowi ke Ukraina terasa pas, karena Indonesia saat ini memimpin forum G20. Terlebih, sebelumnya telah mengundang Zelenskyy sebagai tamu khusus dalam pertemuan G20, yang akan digelar akhir tahun ini," imbuhnya.

Baca juga: Iriana Jadi Bukti Perempuan Punya Peran Penting dalam Proses Perdamaian

Dengan kata lain, kunjungan Jokowi merupakan gestur politik pemerintah untuk menunjukkan pada dunia, bahwa Indonesia mampu berperan dan penting untuk diperhitungkan dalam berbagai isu global, termasuk resolusi konflik.

"Jika ingin terus mendorong proses damai di Ukraina, Indonesia perlu memperkuat dialog bilateral dan multilateral," tutur Faris.

Adapun hubungan bilateral tidak hanya dibangun Indonesia dengan Ukraina, namun juga dengan Rusia. Sejauh ini, hubungan Indonesia dengan Rusia terbilang tidak diwarnai persoalan khusus.(OL-11)

BERITA TERKAIT