27 June 2022, 10:59 WIB

Produksi Minyak Ekuador Terancam Terhenti Akibat Demontrasi


Cahya Mulyana | Internasional

Ant/Reuters/Johanna Alarcon
 Ant/Reuters/Johanna Alarcon
 Truk demonstran melewati blokade jalan yang terbakar saat menuju ibu kota Quito setelah seminggu protes terhadap kebijakan ekonomi dan sosi

SEBUAH barikade di antara demonstran dan pasukan keamanan saat protes berlanjut di tengah kebuntuan antara pemerintah Presiden Guillermo Lasso dan sebagian besar demonstran pribumi yang menuntut diakhirinya tindakan darurat, di Quito, Ekuador, Minggu (26/6).

Kementerian energi Ekuador memperingatkan produksi minyak telah mencapai tingkat kritis dan dapat dihentikan seluruhnya dalam waktu 48 jam jika protes dan penghalang jalan terus berlanjut di negara Amerika Selatan yang dilanda krisis itu.

Hampir dua minggu protes yang dipimpin kelompok pribumi terhadap kenaikan harga bahan bakar dan biaya hidup telah melumpuhkan transportasi di Ekuador, dengan penghalang jalan didirikan di 19 dari 24 provinsi negara kaya minyak itu. "Produksi minyak berada pada tingkat kritis," kata kementerian itu dalam sebuah pernyataan.

Baca Juga: Lasso Dilantik Sebagai Presiden Ekuador

“Jika situasi ini berlanjut, produksi minyak negara itu akan dihentikan dalam waktu kurang dari 48 jam karena vandalisme, penyitaan sumur minyak dan penutupan jalan telah mencegah pengangkutan peralatan dan solar yang diperlukan untuk menjaga operasi tetap berjalan.”

"Hari ini angka menunjukkan penurunan lebih dari 50 persen" dalam produksi yang, sebelum protes, sekitar 520.000 barel per hari, kata kementerian itu.

Ekonomi Ekuador sangat bergantung pada pendapatan minyak, dengan 65% dari output diekspor dalam empat bulan pertama di 2022. Diperkirakan 14.000 pengunjuk rasa mengambil bagian dalam demonstrasi nasional, kebanyakan dari mereka di Quito.

Kekurangan sudah dilaporkan di ibu kota negara itu, di mana harga melonjak. Kekerasan antara polisi dan demonstran dilaporkan telah menewaskan lima orang, sementara sekitar 500 orang terluka, menurut berbagai sumber.

Kerugian ekonomi publik-swasta dari protes mencapai USD500 juta, menurut Menteri Produksi Julio Jose Prado. “Setiap hari tambahan downtime mewakili kerugian USD40 hingga USD50 juta,” katanya.

Kerugian keseluruhan sejak protes dimulai termasuk 8,5 juta liter susu senilai USD13 juta, serta USD90 juta barang-barang pertanian dan peternakan. Sementara itu, industri pariwisata melihat pembatalan meningkat hingga 80%, dengan kerugian setidaknya USD50 juta.

Selain itu, “di sektor pertanian bunga, penutupan selama 12 hari mengakibatkan kerugian sebesar USD30 juta dan kerusakan pada truk dan pertanian,” kata Prado. (France24/OL-13)

Baca Juga: AS Ajak Sekutunya Bersama-sama Melawan Rusia

BERITA TERKAIT