26 June 2022, 18:05 WIB

Ada Tanda-Tanda Kesepakatan Normalisasi Hubungan Israel-Saudi?


Mediaindonesia.com | Internasional

AFP/Giuseppe Cacace.
 AFP/Giuseppe Cacace.
Mohammed bin Salman.

AMERIKA Serikat mengisyaratkan bahwa lebih banyak negara Arab akan mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan hubungan dengan Israel. Isyarat itu muncul menjelang perjalanan Presiden Joe Biden ke Timur Tengah.

Semua mata tertuju kepada Arab Saudi yang akan dikunjungi Biden pada pertengahan Juli. Padahal Biden pernah bersumpah untuk memperlakukan kerajaan itu sebagai negara paria akibat pembunuhan dan mutilasi jurnalis Saudi Jamal Khashoggi pada 2018.

Namun, terlepas dari tanda-tanda pemulihan hubungan AS-Saudi baru-baru ini, para analis mengatakan tidak mungkin Riyadh akan menyetujui hubungan diplomatik dengan Israel. Ini mustahil terjadi paling tidak selama kunjungan Biden atau ketika Raja Salman, 86, masih memerintah.

Kebijakan resmi raja yaitu tidak boleh ada perdamaian dengan Israel sampai Israel menarik diri dari wilayah pendudukan dan menerima status negara Palestina. Kunjungan Biden kemungkinan fokus untuk meyakinkan eksportir minyak mentah terbesar dunia untuk meningkatkan produksi minyaknya. Berikut beberapa pertanyaan dan jawaban tentang kemungkinan kesepakatan normalisasi antara Arab Saudi dan Israel:

Apa saja tanda-tandanya? 

Penguasa de facto Saudi Putra Mahkota Mohammed bin Salman mengatakan Israel ialah, "Sekutu potensial dengan banyak kepentingan yang dapat kita kejar bersama." Media pemerintah setempat melaporkan itu pada Maret lalu yang menghubungkan pernyataan itu dalam wawancara dengan The Atlantic.

Baca juga: Iran Tanggapi Tuduhan Israel tentang Rencana Pembunuhan di Turki

Selain itu, kerajaan tidak pernah menunjukkan penentangan ketika sekutu regionalnya, Uni Emirat Arab (UEA), menjalin hubungan diplomatik dengan Israel pada 2020. Langkah UEA diikuti oleh Bahrain dan Maroko di bawah Kesepakatan Abraham yang ditengahi AS.

Pada Januari 2021, pemerintah transisi Sudan juga setuju untuk melakukan kesepakatan itu tetapi negara Afrika timur laut itu belum menyelesaikan kesepakatan. Arab Saudi juga pada saat itu mengizinkan penerbangan langsung dari Emirates ke Israel untuk melakukan perjalanan melalui wilayah udaranya sebagai tanda persetujuan implisit lain.

Biden, yang juga akan mengunjungi Israel, akan melakukan perjalanan langsung dari negara Yahudi ke Arab Saudi. Ia menjadi presiden AS pertama yang terbang dari sana ke negara Arab yang tidak mengakui Israel. Pada 2017, pendahulunya, Donald Trump, melakukan perjalanan secara terbalik, yakni Saudi-Israel.

Dalam beberapa bulan terakhir, Saudi menggunakan media sosial--yang dikontrol ketat di kerajaan--untuk menyatakan dukungan mereka terhadap normalisasi. Ini akan menjadi pergeseran dari kebijakan pan-Arab kerajaan untuk mengisolasi Israel hingga konflik dengan Palestina diselesaikan. 

Baca juga: PBB Pastikan Jurnalis Abu Akleh Tewas di Tangan Tentara Israel

Esawi Frej, menteri kerja sama regional Israel, mengatakan kepada surat kabar Saudi Arab News pada awal Juni bahwa Riyadh akan menjadi pusat bagi solusi apa pun untuk konflik Israel-Palestina. Situs web berita Axios melaporkan, juga bulan ini, bahwa Amerika Serikat sedang mengerjakan peta jalan untuk normalisasi antara Israel dan Arab Saudi. The Wall Street Journal mengatakan dua negara paling berpengaruh di kawasan itu terlibat dalam pembicaraan ekonomi dan keamanan rahasia. 

Kepentingan kedua negara? 

Yasmine Farouk dari Carnegie Endowment for International Peace mengatakan hubungan dengan Israel akan berkontribusi pada penerimaan devisa yang lebih besar dari Arab Saudi. "Ini akan membuka pintu bagi putra mahkota, dengan orang-orang Barat dan parlemen menerima kerajaan serta memberi Arab Saudi peran yang lebih besar," katanya.

"Ini akan membuat perubahan, tidak hanya dalam hal citra Arab Saudi, terutama karena (Pangeran Mohammed) melihatnya sebagai kekuatan global, bukan hanya Arab dan Islam." Dia mengatakan bahwa Israel menginginkan normalisasi karena tidak hanya akan membuka pintu ke Arab Saudi, tetapi ke negara lain (Arab dan Muslim) yang mungkin sudah terlibat dalam diskusi rahasia dengan Israel tetapi belum berani melakukan normalisasi.

Baca juga: AS Isyaratkan Ada Kemajuan Arab-Israel dalam Tur Biden

Kedua negara memiliki musuh yang sama di Iran, kata seorang diplomat yang berbasis di Riyadh yang berbicara dengan syarat anonim. "Mereka melihatnya dalam arti, 'Musuh dari musuhku ialah temanku'," katanya. Dua pejabat Saudi yang dihubungi AFP menolak berkomentar karena sensitivitas masalah tersebut.

Apakah ini waktu yang tepat? 

Dan Shapiro, yang menjabat sebagai duta besar mantan presiden AS Barack Obama untuk Israel, mengatakan kepada AFP bahwa dia mengharapkan perjalanan Biden dapat menghasilkan beberapa langkah penting" menuju pengakuan diplomatik Saudi atas Israel. Mungkin bukan normalisasi penuh, tetapi peta jalan yang mengarah ke arah itu.

Namun, "Tidak sekarang", kata Farouk. "Sulit selama Raja Salman masih hidup. Kata normalisasi harus digunakan lebih hati-hati. Mungkin ada beberapa bentuk hubungan tetapi sejauh seperti Emirates dan Bahrain, saya masih agak skeptis."

Baca juga: Pembukaan Udara Saudi untuk Semua Penerbangan Israel tengah Dibahas

Kristian Ulrichsen dari Institut Baker Universitas Rice mengatakan hubungan diplomatik penuh hanya mungkin terjadi ketika Pangeran Mohammed menjadi raja. "Sementara itu, kita kemungkinan akan melihat kelanjutan dari pendekatan normalisasi gagasan bahwa Arab Saudi dan Israel bukan musuh tetapi berbagi kepentingan regional dan geopolitik tertentu," katanya kepada AFP. (OL-14)

BERITA TERKAIT