17 June 2022, 19:30 WIB

ASEAN Butuh Bersatu untuk Jadi Motor Kebangkitan Dunia


Cahya Mulyana | Internasional

MI/ADAM DWI
 MI/ADAM DWI
Duta Besar RI Berkuasa Penuh untuk Singapura Suryopratomo

ASEAN menjadi kelompok negara-negara yang memiliki stabilitas politik dan keamanan terbaik di dunia. Persatuan 10 negara di dalamnya akan mampu menjadi poros perekonomian dunia.

"Ketika negara-negara ASEAN bersatu maka daya tawarnya sangat luar biasa dan banyak dampak positif yang muncul," kata Duta Besar RI Berkuasa Penuh untuk Singapura Suryopratomo pada diskusi virtual yang digelar Forum Diskusi Denpasar 12 bertajuk Hubungan ASEAN dan Tantangan ke Depan, Jumat, (17/6).

Pada edisi khusus Kuliah Umum Tun Dr. Mahathir Mohamad dihadiri Anggota Komisi I DPR RI Muhammad Farhan, Pengamat Politik Fachry Ali, Pengamat Pertahanan Connie Rahakundini Bakrie, Jurnalis Senior/Penerima Bintang Jasa Nararya Saur Hutabarat.

Ia mengatakan ASEAN memiliki sejumlah potensi yang penting bagi dunia. Mulai dari penguasaan 39% nilai perdagangan dunia juga jumlah penduduk sekitar 600 juta jiwa.

"Dan yang paling luar biasa dari ASEAN adalah nilai ekonominya mencapai USD 2,5 juta," jelasnya.

Ketika ASEAN, lanjut dia, bekerja sama dengan negara-negara maju seperti Jepang, Tiongkok hingga Amerika Serikat memiliki daya tawar yang tinggi. Itu sedikit alasan ASEAN menjadi penting bagi Indonesia dan negara-negara di dalamnya.

"ASEAN juga menjadi kawan yang paling stabil dari sisi keamanan, politik dan ekonomi dalam tiga sampai dua dekade terakhir. Bahkan Vietnam dan Kamboja perlahan sudah tumbuh dan maju untuk mengejar ketertinggalan usai perang dengan Amerika Serikat," paparnya.

Nilai tawar lain bagi ASEAN, lanjut dia, berasal dari transaksi perdagangan yang mencapai USD214 miliar. "Namun terdapat sejumlah pekerjaan rumah yang mesti dituntaskan ASEAN supaya mampu menjadi motor pembangunan dunia. Terutama memacu SDM (sumber daya manusia)," jelasnya.

Suryo mengatakan Indonesia menjadi negara yang memiliki tugas tersebut. Dengan SDM yang unggul, semua potensi yang belum tergali dapat segera dimanfaatkan untuk menambah nilai tawar dan kesejahteraan.

"Indonesia harus mampu meningkatkan SDM dan dalam lima tahun terakhir presiden Jokowi memperhatikan SDM sudah tepat. Tanpa SDM yang tinggi sulit bagi Indonesia mengoptimalkan sumber daya alam," terangnya.

Indonesia mesti mengelola SDA supaya dapat memberikan kesejahteraan bagi rakyat. "Kita sudah melihat dua tahun terakhir surplus perdagangan memberikan dampak positif. Devisa kita juga meningkat tajam berkat industri manufaktur sudah on the track dari pola padat karya ke industri," pungkasnya.

Sementara itu Pengamat Politik Fachry Ali menambahkan kepemimpinan nahkoda Indonesia mesti mencontoh dari mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad. Kepribadian, karakter dan prinsip mampu membawa Malaysia menjadi negara berpengaruh di ASEAN dan dunia.

"Dunia terpana oleh Mahatir bukan sebatas jargonnya yang menggemparkan dunia yakni look the east (perhatikan ke timur) yang bermakna tidak boleh membebek ke Barat dan itu diaplikasikan dalam kebijakan dengan melakukan pembangunan di atas nilai-nilai kebudayaan dan kearifan lokal," ungkapnya.

Kepentingan nasional Malaysia, kata dia, menjadi pegangan utama dalam setiap pengambilan keputusan Mahatir. "Mahatir menjalankan kekuasaannya dengan menjunjung tinggi kepentingan nasional negaranya. Sikap yang sulit ditemukan lagi dan itu mencerminkan gaya Soekarno," pungkasnya. (OL-4)

BERITA TERKAIT