30 May 2022, 10:42 WIB

Polisi Sri Lanka Bubarkan Ribuan Mahasiswa yang Serbu Rumah Presiden


Nur Aivanni | Internasional

AFP/ISHARA S. KODIKARA
 AFP/ISHARA S. KODIKARA
Polisi menembakkan meriam air ke arah demonstran yang bergerka menuju kediaman Presiden Sri Lanka di Kolombo.

POLISI menembakkan gas air mata untuk membubarkan ribuan mahasiswa yang mencoba menyerbu rumah Presiden Sri Lanka, Minggu (29/5), ketika pemerintah menawarkan tanda damai kepada para demonstran yang menuntut pengunduran dirinya.

Pasukan antihuru hara menggunakan meriam air disusul gas air mata, saat pengunjuk rasa yang marah merobohkan barikade besi kuning di seberang jalan menuju kediaman resmi Presiden Gotabaya Rajapaksa di Kolombo.

Di dekatnya, ribuan laki-laki dan perempuan berdemonstrasi untuk hari ke-51 berturut-turut di luar kantor tepi laut Rajapaksa, yang menuntut presiden mundur karena krisis ekonomi terburuk negara itu sejak kemerdekaan.

Baca juga: Sri Lanka Naikkan Harga Bahan Bakar ke Rekor Tertinggi

Pada Minggu (29/5) malam, Perdana Menteri Ranil Wickremesinghe tampil di televisi nasional. Dia pun menawarkan para pengunjuk rasa muda untuk bisa menyuarakan tentang bagaimana negara itu dikelola.

"Pemuda menyerukan perubahan dalam sistem yang ada," kata Wickremesinghe, yang memaparkan rencana untuk 15 komite yang akan bekerja dengan parlemen untuk memutuskan kebijakan nasional.

"Saya mengusulkan untuk menunjuk empat perwakilan pemuda untuk masing-masing dari 15 komite," katanya, yang menambahkan bahwa mereka bisa diambil dari pengunjuk rasa saat ini.

Demonstrasi menyebabkan suasana tegang di Kolombo, saat pihak berwenang berusaha membubarkan kerumunan besar.

Wickremesinghe bukan dari partai Rajapaksa, tetapi diberi tugas itu setelah kakak laki-laki Presiden Mahinda mengundurkan diri sebagai perdana menteri pada 9 Mei setelah aksi protes yang berlangsung berminggu-minggu dan ketika tidak ada legislator lain yang setuju untuk turun tangan.

Wickremesinghe adalah satu-satunya perwakilan parlemen dari Partai Persatuan Nasional, kekuatan politik yang pernah kuat yang hampir musnah dalam pemilihan terakhir Sri Lanka.

Partai Rajapaksa, yang memiliki mayoritas di legislatif, telah menawarkan untuk memberinya dukungan yang diperlukan untuk menjalankan pemerintahan.

Aksi mahasiswa pada Minggu (29/5) itu terjadi sehari setelah bentrokan serupa ketika pengunjuk rasa mencoba menyerbu kediaman resmi era kolonial Rajapaksa yang dijaga ketat, tempat presiden bersembunyi sejak ribuan orang mengepung rumah pribadinya pada 31 Maret.

Kekurangan devisa yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk mengimpor bahkan pasokan yang paling penting, termasuk makanan, bahan bakar dan obat-obatan, telah menyebabkan kesulitan yang parah bagi 22 juta warga di negara itu.

Bulan lalu, pemerintah meminta Dana Moneter Internasional (IMF) untuk bantuan keuangan yang mendesak. Dan pembicaraan terus berlanjut.

Negara tersebut telah gagal membayar utang luar negeri mereka sebesar US$51 miliar. Mata uangnya telah terdepresiasi sebesar 44,2% terhadap dolar AS tahun ini, sementara inflasi mencapai rekor 33,8% bulan lalu. (AFP/OL-1)

BERITA TERKAIT