28 May 2022, 16:35 WIB

Menlu AS Desak Israel Tuntaskan Penyelidikan Pembunuhan Jurnalis Palestina


Mediaindonesia.com | Internasional

AFP/Nicholas Kamm.
 AFP/Nicholas Kamm.
Antony Blinken. 

MENTERI Luar Negeri (Menlu) Amerika Serikat (AS) Antony Blinken mengatakan kepada mitranya dari Israel Yair Lapid bahwa penyelidikan harus diselesaikan atas kematian jurnalis Al Jazeera Shireen Abu Akleh. Ini disampaikan Departemen Luar Negeri AS.

Dilansir dari Al Jazeera, dalam pernyataan pada Jumat (27/5) yang menggambarkan pembicaraan dengan menteri luar negeri Israel, Departemen Luar Negeri mengatakan Blinken menggarisbawahi pentingnya menyimpulkan penyelidikan atas kematian Abu Akleh yang memegang kewarganegaraan Amerika Serikat. Wartawan veteran itu dibunuh oleh pasukan Israel di Tepi Barat yang diduduki awal bulan ini.

Tidak jelas penyelidikan yang dimaksud Blinken. Sebelumnya Departemen Luar Negeri mengatakan bahwa mereka akan mempercayai Israel untuk melakukan penyelidikan atas pembunuhan wartawan veteran di kota Jenin, Palestina. Dalam serangkaian tweet pada Jumat, Lapid mengatakan dia berjanji kepada Blinken bahwa Israel akan berbagi hasil penyelidikannya atas pembunuhan Abu Akleh, "Dengan Amerika Serikat seperti praktik standar di antara negara-negara kita." 

Militer Israel mengatakan pekan lalu bahwa mereka tidak akan membuka penyelidikan kriminal atas penembakan fatal Abu Akleh. Namun pada Senin, sejumlah media Israel mengutip pengacara top tentara Israel yang mengatakan bahwa militer melakukan segala upaya untuk menyelidiki insiden tersebut.

Pemerintahan Biden berada di bawah tekanan untuk meluncurkan penyelidikan independen yang dipimpin AS atas pembunuhan itu, termasuk dari lusinan anggota Kongres Demokrat yang menuntut penyelidikan FBI. Sementara Washington mengutuk pembunuhan Abu Akleh, juru bicara Departemen Luar Negeri Ned Price mengatakan bahwa Israel memiliki sarana dan kemampuan untuk melakukan penyelidikan menyeluruh dan komprehensif.

Telepon Blinken dengan Lapid pada Jumat datang sehari setelah Otoritas Palestina mengatakan hasil penyelidikannya sendiri terhadap pembunuhan jurnalis veteran itu. Hasil penyelidikan itu menunjukkan pasukan Israel dengan sengaja menembak dan membunuhnya.

Alan Fisher dari Al Jazeera, melaporkan dari Washington pada Jumat, mengatakan, "Itulah sebabnya, mengingat bahwa laporan ini dirilis lebih dari 24 jam yang lalu, bahwa Amerika sekarang menekan Israel untuk melakukan penyelidikan cepat." Fisher menambahkan, bagaimanapun, "Tidak ada tanda bahwa siapa pun di Departemen Luar Negeri atau Gedung Putih mendorong Israel untuk menerima penyelidikan FBI," seperti yang diminta oleh anggota parlemen Partai Demokrat.

Penyelidikan FBI itu, "Merupakan sesuatu yang orang Palestina dan banyak komunitas internasional akan lihat sebagai penyelidikan independen atas pembunuhan itu," katanya.

Sementara itu, jaringan media Al Jazeera menugaskan tim hukum untuk merujuk pembunuhan itu ke Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) di Den Haag. Jaringan tersebut mengatakan pada Kamis bahwa mereka membentuk koalisi internasional yang terdiri dari tim hukumnya bersama dengan para ahli internasional dan sedang mempersiapkan berkas pembunuhan Abu Akleh untuk diajukan ke jaksa ICC.

Baca juga: Pejabat Senior Israel Kunjungi Saudi, Persiapan Normalisasi Hubungan?

Awal pekan ini, kepala biro Al Jazeera Washington, DC Abderrahim Foukara, juga mendesak masyarakat internasional untuk membantu memastikan penyelidikan yang transparan dan independen atas pembunuhan Abu Akleh dan serangan oleh pasukan Israel pada pemakamannya. Polisi Israel menyerang prosesi pemakaman Abu Akleh di Jerusalem dan memukuli pengusung peti mati yang membawa peti matinya dengan tongkat dalam adegan yang memicu kemarahan lebih lanjut dan menyerukan pertanggungjawaban.

"Posisi Al Jazeera sangat jelas bahwa kehidupan Shireen Abu Akleh penting dan begitu pula penyelidikan yang transparan dan independen atas pembunuhannya dan pelanggaran serius pemakamannya oleh pasukan keamanan Israel," kata Foukara kepada Dewan Keamanan PBB selama sesi informal. (OL-14)

BERITA TERKAIT