26 May 2022, 16:30 WIB

Israel Akui Berada di Balik Pembunuhan Kolonel Iran


Mediaindonesia.com | Internasional

AFP/Atta Kenare.
 AFP/Atta Kenare.
Wanita Iran mengangkat potret kolonel Pengawal Revolusi Sayyad Khodai selama prosesi pemakamannya di alun-alun Imam Hussein di Teheran.

ISRAEL mengatakan kepada Amerika Serikat bahwa mereka bertanggung jawab atas pembunuhan seorang kolonel Garda Revolusi Iran (IRGC) pekan lalu. The New York Times melaporkan itu pada Rabu (25/5).

Kolonel Sayyad Khodai ditembak mati pada Minggu (22/5) oleh seorang pria bersenjata di bagian belakang sepeda motor ketika dia duduk di dalam mobil di luar rumahnya di Teheran. Presiden Iran Ebrahim Raisi bersumpah untuk membalas pembunuhan itu. IRGC menyalahkan pembunuhan itu kepada elemen arogansi global yang biasanya merujuk kepada Amerika Serikat dan sekutunya, termasuk Israel.

Pada Rabu, Times melaporkan, "Menurut seorang pejabat intelijen yang diberi pengarahan tentang komunikasi tersebut, Israel memberi tahu para pejabat Amerika bahwa mereka berada di balik pembunuhan itu." Sumber itu, yang berbicara kepada Times dengan syarat anonim, mengatakan Israel mengungkapkan kepada para pejabat AS bahwa pembunuhan itu dimaksudkan sebagai peringatan kepada Iran untuk menghentikan kelompok rahasia dalam Pasukan Quds, yakni IRGC yang beroperasi di luar negeri sebagai militer ideologis Iran.

Penyiar negara Iran menggambarkan Khodai sebagai anggota Pasukan Quds. Sebelumnya dilaporkan bahwa kolonel itu dikenal di Suriah karena Iran mendukung pemerintah Bashar Assad selama 11 tahun perang saudara dan mengakui mengirimkan sejumlah penasihat militer.

Baca juga: Pembunuhan Kolonel IRGC, Pesan Israel terkait Suriah dan Perjanjian Nuklir?

Ribuan orang menghadiri pemakaman Khodai pada Selasa di Teheran tengah. Doa pemakaman dipimpin oleh imam utama ibu kota dan peti mati Khodai diselimuti bendera Iran. Poster memuji dia sebagai martir.

Pembunuhan Khodai terjadi dengan negosiasi antara Iran dan kekuatan dunia untuk memulihkan kesepakatan nuklir 2015 yang macet sejak Maret. Salah satu poin utama yang mencuat yaitu permintaan Teheran untuk menghapus IRGC dari daftar terorisme AS. Permintaan ini ditolak oleh Washington. (AFP/OL-14)

BERITA TERKAIT