17 May 2022, 14:42 WIB

Penembakan di Gereja di AS Dilatarbelakangi Persoalan Tiongkok-Taiwan


Mediaindonesia | Internasional

AFP
 AFP
Lokasi penembakann di California, Amerika Serikat.

TERSANGKA penembakan di sebuah perjamuan gereja Taiwan-Amerika di California mengaku kesal terhadap ketegangan China-Taiwan, kata pihak berwenang, Senin (16/5).

Insiden itu terjadi pada Minggu di Gereja Geneva Presbyterian di Laguna Woods, California, sekitar 72 km tenggara Los Angeles, Amerika Serikat, hingga menewaskan seorang dokter dan melukai lima orang lainnya.

David Chou (68 tahun), sang tersangka pelaku, merantai pintu gereja dan mengolesi gembok pintu itu dengan lem sebelum melakukan penembakan di dalam gereja, kata Sheriff Orange County Don Barnes, Senin.

Hampir 40 anggota kongregasi Taiwan dari Irvine, California, yang memakai ruang di gereja itu tengah menghadiri perjamuan bagi seorang mantan pastor setempat ketika penembakan terjadi, kata kantor sheriff.

Menurut pihak berwenang, Chou adalah warga negara AS dan penduduk Los Angeles kelahiran China. Dia mengemudi ke wilayah California Selatan pada Sabtu dan mendatangi gereja itu pada Minggu pagi.

Usai penembakan, para penyidik menemukan tiga kantong di sekitar gedung gereja. Kantong-kantong itu berisi berbagai barang, seperti peluru dan empat alat mirip peledak molotov.

FBI mengatakan pihaknya membuka penyelidikan tentang kejahatan kebencian dalam kasus ini.

Dalam pernyataan pada Senin malam, kantor sheriff mengatakan penyidik telah "memastikan bahwa tersangka kesal terhadap ketegangan politik yang melibatkan China dan Taiwan", tetapi tidak menjelaskan lebih lanjut.

Baca juga: Malapetaka Invasi Bagi Rusia

Di dalam mobil Chou, kata Barnes, penyidik menemukan catatan dalam bahasa Mandarin yang mengindikasikan obsesi pada Taiwan dan ketidaksukaan terhadap orang Taiwan.

China menganggap Taiwan, sebuah pulau yang diperintah secara demokratis, sebagai wilayahnya yang "suci". Beijing tak pernah mengesampingkan kemungkinan menggunakan kekuatan untuk membawa Taiwan ke pangkuan China.

Taiwan menolak klaim kedaulatan Beijing dengan mengatakan bahwa mereka sudah merdeka dan hanya 23 juta penduduknyalah yang bisa memutuskan masa depan mereka.

Semua korban penembakan, yang nama-namanya belum diungkap, adalah keturunan Asia.

Korban luka-luka –empat pria berusia 66-92 tahun dan seorang wanita 86 tahun– telah dibawa ke rumah sakit untuk dirawat, kata kantor sheriff.

Di antara mereka yang tewas di gereja Laguna Woods adalah dokter John Cheng (52 tahun), yang ditembak ketika berusaha melumpuhkan tersangka, kata Barnes seraya memuji keberanian sang dokter untuk mencegah lebih banyak korban.

Upaya Cheng melumpuhkan Chou memberi kesempatan para anggota jemaat lain, termasuk sang pastor, untuk meringkusnya dan mengikat kakinya dengan kabel listrik.

Mereka menahan tersangka sampai para pembantu sheriff tiba dan masuk ke gereja dengan mendobrak pintu yang dirantai.

Chou, yang kini ditahan, diyakini melakukan aksi tersebut seorang diri, kata Barnes.

Tersangka membeli dua pucuk pistol secara legal di Las Vegas, kota tempat dia menyewa salah satu kamar di sebuah rumah.

Dia kemungkinan akan dituntut dengan satu kasus pembunuhan, lima kasus percobaan pembunuhan, dan empat kasus kepemilikan bahan peledak secara tidak sah dalam dakwaan yang ditetapkan pada Selasa, kata Jaksa Wilayah Orange County Todd Spitzer.

Spitzer mengatakan dia mempertimbangkan untuk menuntut hukuman mati dalam kasus ini, meskipun California belum pernah mengeksekusi satu terpidana pun selama lebih dari 10 tahun.

Pemimpin Taiwan Tsai Ing-wen menyampaikan duka mendalam atas insiden itu dan telah memerintahkan kementerian luar negeri untuk membantu korban dan keluarga mereka, kata kemlu Taiwan, Selasa.

Kekerasan bersenjata di California tersebut terjadi pada hari yang sama dengan penembakan massal di sebuah toko bahan pokok di kawasan warga kulit hitam di Buffalo, New York.

Insiden di New York itu menewaskan 10 orang dan melukai tiga lainnya. Sebagian besar korban adalah warga kulit hitam dan FBI telah memasukkan kasus itu sebagai tindak kekerasan brutal bermotif rasialisme.(OL-4)

BERITA TERKAIT