16 May 2022, 20:50 WIB

Uskup Agung Jerusalem Kutuk Serangan Polisi saat Pemakaman Wartawan


Mediaindonesia.com | Internasional

AFP/Ahmad Gharabli.
 AFP/Ahmad Gharabli.
Patriark Latin Jerusalem Pierbattista Pizzaballa (ke-2 kanan) berbicara selama konferensi pers, Senin (16/5).

USKUP Agung Katolik di Jerusalem pada Senin (16/5) mengecam keras serbuan polisi Israel minggu lalu terhadap rumah sakit Kristen menjelang pemakaman reporter Al Jazeera yang terbunuh, Shireen Abu Akleh. Wartawan veteran itu ditembak mati dalam serangan tentara Israel di Tepi Barat, Palestina, yang dijajah

Palestina dan jaringan TV Al Jazeera mengatakan tentara Israel membunuhnya. Israel mengelak dengan mengatakan tembakan dari kelompok Palestina yang mungkin harus disalahkan.

Kemarahan atas kematian Abu Akleh diperparah pada Jumat ketika polisi Israel yang membawa tongkat di Jerusalem timur yang dicaplok memukuli pengusung peti jenazah Abu Akleh yang ditutupi oleh bendera Palestina. Patriark Latin Jerusalem, Pierbattista Pizzaballa, pada Senin mengutuk invasi polisi Israel dan penggunaan kekuatan yang tidak proporsional di rumah sakit St Joseph, tempat jenazah disemayamkan.

Pada konferensi pers di rumah sakit, dia mengkritik polisi Israel karena, "Menyerang pelayat, memukul mereka dengan tongkat, menggunakan granat asap, (dan) menembakkan peluru karet." Polisi telah menyerbu rumah sakit, "Tidak menghormati gereja, tidak menghormati lembaga kesehatan, tidak menghormati orang yang meninggal, dan memaksa pengusung jenazah untuk hampir menjatuhkan peti mati," kata Pizzaballa, berbicara atas nama para uskup di Tanah Suci.

Baca juga: AS Hapus Kelompok Ekstremis Yahudi dan Palestina dari Daftar Teror

Rumah sakit itu dimiliki oleh Sisters of St Joseph of the Apparition, kongregasi yang didirikan Prancis, sudah ada di tempat Palestina dan Israel sekarang selama hampir 200 tahun.

Janji Israel

Polisi Israel berjanji untuk menyelidiki insiden kacau itu yang disiarkan langsung di seluruh dunia dan memicu kecaman luas, termasuk dari Amerika Serikat, Uni Eropa, dan PBB. Seruan itu menggemakan tuntutan global untuk penyelidikan yang tidak memihak atas kematian Abu Akleh, seorang Palestina-Amerika, yang menurut Al Jazeera dibunuh oleh Israel dengan sengaja dan dengan darah dingin.

Polisi Israel menawarkan serangkaian penjelasan atas kerusuhan pada hari pemakaman itu. Dalam video polisi, seorang petugas terlihat memberi tahu massa bahwa prosesi tidak akan dimulai sampai massa menghentikan nyanyian nasionalistik atau Palestina.

Pasukan Israel sering menindak individu yang secara terbuka mengekspresikan identitas Palestina mereka, termasuk dengan mengibarkan bendera. Polisi juga mengatakan bahwa mereka terpaksa bertindak menegakkan rencana pemakaman yang disepakati dengan keluarga yang diganggu oleh, "Gerombolan 300 perusuh."

Baca juga: Pria Bunuh 10 Orang dalam Penembakan Bermotif Rasial di Buffalo

Keluarga Abu Akleh dengan tegas menolak versi polisi dari peristiwa tersebut. Keluarga menekankan bahwa petugas menyerbu prosesi sebagai tanggapan atas bendera dan nyanyian Palestina.

Adik Dipanggil 

Adik mendiang jurnalis, Anton Abu Akleh, mengatakan kepada AFP pada Senin bahwa polisi memanggilnya saat malam sebelum pemakaman untuk berkeras bahwa tidak boleh ada, "Bendera Palestina apa pun, tidak ada slogan dan nyanyian."

"Saya berharap akan ada penentangan terhadap tindakan biadab ini," katanya, meminta pertanggungjawaban setelah penggerebekan itu.

Direktur rumah sakit St Joseph Jamil Kousa mengatakan kepada AFP bahwa dia telah berbicara dengan polisi di luar rumah sakit pada Jumat dan memohon agar prosesi itu diizinkan untuk berjalan dengan damai. Kousa mengatakan polisi memperingatkan bahwa jika pelayat meneriakkan nyanyian nasional Palestina atau mengibarkan bendera, prosesi akan diblokade.

Baca juga: Dokter Saudi Pisahkan Bayi Kembar Siam Laki-Laki dari Yaman

Kousa juga mengomentari klaim polisi bahwa anggota arak-arakan melemparkan batu ke petugas. "Anda dapat melihat bahwa mungkin lima batu atau benda dilemparkan, tetapi tidak seperti yang mereka gambarkan." Ketika mereka membersihkan halaman setelah penggerebekan polisi, kata Kousa, jumlah peluru karet yang ditembakkan Israel yang ditemukan jauh melebihi beberapa batu yang dikumpulkan. (OL-14)

BERITA TERKAIT