16 May 2022, 11:24 WIB

Finlandia dan Swedia Siap Bergabung dengan NATO


 Nur Aivanni | Internasional

Alessandro RAMPAZZO / AFP
 Alessandro RAMPAZZO / AFP
Presiden Finlandia Sauli Niinistö menjelaskan negaranya mengajukan jadi anggota NATO di Istana Kepresidenan, pada jumpa pers, Minggu (15/5).

FINLANDIA secara resmi mengumumkan niatnya untuk bergabung dengan NATO (Pakta Pertahanan Atlatik Utara) pada hari Minggu (15/5). Dan, partai yang berkuasa di Swedia pun mengatakan pihaknya mendukung keanggotaan NATO.

Kurang dari tiga bulan setelah Rusia menginvasi Ukraina, pengumuman tersebut merupakan langkah yang mengejutkan. Pasalnya, kedua negara memiliki kebijakan non-blok militer.

Dukungan publik dan politik untuk keanggotaan NATO telah melonjak di Finlandia dan Swedia dalam beberapa bulan terakhir.

Kedua negara itu diperkirakan akan mengajukan permohonan untuk bergabung dengan NATO pada pekan ini.

"Ini adalah hari bersejarah. Era baru terbuka," kata Presiden Finlandia Sauli Niinisto kepada wartawan dalam konferensi pers bersama dengan Perdana Menteri Finlandia Sanna Marin pada hari Minggu (15/5).

Baca juga: Putin Peringatkan Finlandia Jika Bergabung dengan NATO

"Hal terbaik untuk keamanan Swedia adalah kami mengajukan keanggotaan sekarang, dan kami melakukannya dengan Finlandia," kata Perdana Menteri Swedia Magdalena Andersson beberapa jam kemudian di Stockholm.

Perubahan arah kebijakan partainya, yang telah menentang keanggotaan NATO sejak aliansi itu dibentuk, mengamankan mayoritas yang diperlukan di parlemen Swedia untuk bergabung dengan NATO.

Kendati demikian, Andersson mengatakan bahwa dia akan berkonsultasi dulu dengan parlemen pada Senin sebelum mengumumkannya secara resmi seperti yang dilakukan Finlandia.

Menurut jajak pendapat baru-baru ini, jumlah orang Finlandia yang ingin bergabung dengan aliansi itu telah meningkat menjadi lebih dari tiga perempat, hampir tiga kali lipat dari jumlah yang terlihat sebelum perang di Ukraina dimulai pada 24 Februari.

Dukungan di Swedia juga meningkat secara dramatis, menjadi sekitar 50%, dengan sekitar 20% menentangnya. (AFP/Nur/OL-09)

BERITA TERKAIT